
"Perjuanganku berat menaklukkan gunung es itu."
"Gunung es disinari cinta dari sang matahari juga lambat laun lumer kok..." Dia tertawa.
"Doakan aku yang terbaik oke."
Kami masuk ke kafetaria, Oppa tadi sudah disini duluan. Aku masih harus mengurus beberapa hal tadi. Aku mencarinya di cafetaria luas itu sebelum menemukan dia melambai padaku.
"Itu mereka..." Dokter Vincent, Bu Melisa ada di sampingnya dan dr.Sandra yang diam saja melihat kami.
"Sini sayang,..." Oppa memanggilku dalam bahasa.
"Aishhh sudah fasih sayangnya Yuna." Bu Melisa menggodaku.
"Udah Bu, udah hapal kalo sayang." Aku tersenyum lebar. Sementara Andreas duduk di samping Sandra yang diam saja dari tadi.
"San? Ada yang salah?" Dokter Vincent bertanya karena melihat muka Sandra ditekuk saja. Yang tahu masalahnya cuma Andreas dan aku, Oppa tahu sedikit tapi dia tidak berusaha memperlihatkan dia tahu untuk menjaga privasi dokter Sandra.
__ADS_1
"Tidak..." Dokter Sandra memainkan makanannya, nampaknya dia tidak napsu makan sama sekali.
"Kenapa berapa hari ini kau kelihatannya tak nafsu makan..."
"Bukan apa-apa." Dia melihat daging di piringnya ekspresinya tak baik, sebelum dia nampaknya seperti ingin muntah, dan baru keperhatikan tampaknya dia cukup pucat. Aku menangkap ekspresinya itu.
"Dokter Sandra, apa kau baik-baik saja. Kau terlihat pucat." Dia mengerutkan keningnya, perhatian semua orang jadi beralih padanya.
"Kau sakit? Apa yang sakit?" Dokter Andreas yang duduk disampingnya langsung terlihat kuatir.
"Kususul dia..." Dokter Andreas langsung menyusulnya. Aku dan yang lainnya hanya mengikuti dengan mata kami.
"Sepertinya dokter Sandra sakit..." Tapi syukurlah ada Andreas yang bisa memperhatikannya.
"Sepertinya memang begitu." Bu Melisa nampaknya kasihan juga pada dr. Sandra, walaupun dokter Sandra itu dia tahu sebenarnya mantan dari suaminya.
"Ada Andreas, tak apa, dia akan menjaganya..." Dokter Vincent yang bicara sekarang. "Dokter Joshua, kapan aku dapat undangan." Dokter Vincent merubah pertanyaaannya, dia menghadap ke Dokter Joshua sekarang. Aku tersenyum karena baru saja pulang kami udah ditanya undangan.
__ADS_1
"Dokter Vincent, aku baru pulang, kau sudah menanyakan undangan. Menangnya bisa undangan dicetak semalam...." Oppa tersenyum lebar menanggapi pertanyaan yang terlalu cepat itu.
"Dokter Yuna, bilang pada Oppamu itu jangan lama-lama. Cepat urus, supaya dia bisa memperpanjang kontrak secepatnya..."
"Ditunggu saja Pak, sedang diusahakan. Doakan pengurusannya lancar." Aku hanya tersenyum pada Oppa. Dia sudah mengusahakannya, aku tak ingin mendesaknya terlalu banyak. Terserah padanya saja, kami akan mengusahakan prosesnya sesuai kemampuan kerja kami.
"Oppa..." Aku bicara dengannya saat kami mengarah pulang di sore akhir pekan ini.
"Jika kau ingin memulai mengurus pernikahan kita, kau harus minta izin ke Mama dulu. Dia sudah tahu orang tuamu sudah setuju, tapi kurasa kau harus meminta izin langsung juga pada Mama. Bagaimanapun bicara langsung lebih baik kan..."
"Iya, besok hari Minggu aku akan datang ke rumahmu bicara dengan Mama." Dia merangkulku dan menyetujui usulku.
"Oppa, apa boleh jika kita sesekali kembali ke rumah Mama jika kita sudah menikah nanti. Rumah Mama jauh lebih dekat ke rumah sakit sebenarnya dari apartmentmu di Barat. Aku kasihan meninggalkan Mama langsung sendiri sebenarnya. Kamarku besar di rumah, Mama tinggal sendiri dengan Bibi..."
__ADS_1