Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 1 Part 22. Yang Pertama


__ADS_3

"Kita ke rumah siapa?" Jangan bilang dia mau membawaku bertemu orang tuanya. Tak mungkin secepat itu kan. Kami baru beberapa jam jadian.


"Ke rumahku..." Dia tersenyum. "Aku sudah tahu rumahmu, sekarang kau tahu rumahku. Ini akan jadi rumahmu juga nanti." Dan sekarang dia membuatku tersenyum lagi. Dia benar-benar serius soal kami rasanya itu membuatku terlalu bahagia.


"Ohhh... Tapi kita belum makan?"



"Kita makan di rumah, aku sudah memesan makanan, itu lebih romantis." Aku cuma bisa tersenyum senang sekarang.


"Kau serius sekali soal ini..."


"Maksudmu?"


"Kau bersikap seakan segalanya sudah pasti."


"Kita bukan anak muda, aku hanya bersikap terbuka tentang siapa aku supaya kau kau bisa mempercayaiku. Tujuanku cuma itu. Katakan jika aku salah? Dan aku tak berniat main-main."


"Tidak. Aku hanya bertanya..." Mana mungkin aku keberatan soal itu.


Tak lama kami sampai ke sebuah rumah dengan desain minimalis yang apik. Ternyata dia memilih rumah yang tak terlalu jauh dengan tempat kerjanya sekarang.


"Ada Bibi Surti sama Narti disini, Bi Surti sudah ikut Mama lama sekarang dia yang berbenah disini. Pak Tino juga kadang nginep disini. Jumat sampai Minggu dia pasti pulang ke Bekasi."


"Ohh..." Klakson berbunyi. Seorang terlihat keluar membuka pintu pagar.


"Ayo masuk." Dia mengajakku masuk ke rumahnya. Bersih, rapi, rumah ini dirawat dengan baik oleh penjaga rumah. Aku menyukai desainnya yang elegan minimalis. Aku juga tidak menyukai ukiran-ukiran yang ramai.


"Malam Den, ..." Ini pasti Bi Surti, perempuan setengah baya itu menyambut kami di ruang tengah. "Malam Non..." Dia dengan sopan memberi salam untukku.


"Malam Bi, ini Melisa dia akan sering kesini nanti."


"Bi Surti yang ini..." Aku menyalaminya.


"Iya Non. Jangan sungkan sama saya kalau perlu bantuan disini."


"Makasih ya Bi."

__ADS_1


"Tuan, makanannya sudah datang, sudah disiapkan di meja makan semuanya."


"Ohh ya oke... Aku ganti baju kaos dulu ya. Kamu duduk dulu oke." Dia menghilang dan Mbok Surti mengambilkan minuman dan sedikit makanan untukku. Ruang tengah yang nyaman, disekat dengan sebuah akuarium besar ke ruang makan.


"Non pacarnya Tuan kan Non." Dia memulai pembicaraan dan mengalihkan perhatianku dari ponsel yang kupegang saat datang.


"Ehh iya Bi."


"Akhirnya Tuan bawa Non kerumah juga... Nyonya pasti seneng lihat kabar ini. Saya juga seneng lihat Tuan punya pendamping..." Bibi Surti mengajakku bicara, tapi kemudian aku tergelitik untuk bertanya lebih jauh.


"Emang gak pernah ada pacarnya yang kesini Bi?"


"Ehmm saya pindah kesini udah 7 tahun, gak pernah lihat Tuan bawa pacar lho Non. Yang kesini cuma Nyonya besar kadang ngecek. Tuan jarang pulang ke sini. Kadang dia ke apartment yang lebih dekat kantor. Tiap dua minggu sekali saya kesana buat bebersih."


"Ohhh... gitu." Aku tersenyum. Dia tak pernah bawa wanita ke rumah ini aku yang pertama, aku tersanjung sekarang.


"Pokoknya kayanya Non pilihan Tuan banget. Jangan lama-lama Non, Tuan itu kan ganteng banget." Aku tertawa mendengar lobby Bi Surti.


"Hayooo nanya apa..." Tiba-tiba Bambang muncul. sudah dengan kaos nyaman dan celana bahan yang sopan. Dia bahkan sudah sempat mandi. Sekarang dia terlihat sangat berbeda.


"Non Mel nanya ada cewe lain gak kesini."


"Kamu satu-satunya. Tanya Bi Surti, ya kan Bi."


"Bener Non, saya gak kongkalikong ama Tuan. Suer..." Mereka membuatku tertawa.


"Aku laper, ayo kita makan..." Dia mengajakku ke ruang makan yang digabung dengan dapur bersih.


"Ayo Non, makanan sudah disiapin." Bi Surti menyiapkan nasi hangat, dan aku yang mengambilkannya untuk Vincent. Makan malam dirumah yang menyenangkan dengan seseorang yang dekat denganmu. Suasana hangat ini aku masih berpikir ini mimpi.


"Biasanya kau tinggal di apartment?"


"Ohh iya. Itu lebih dekat ke RS, tapi mobil parkir disini karena Pak Tino pulang ke sini."


"Rumah ini nyamankan?"


"Iya, bagus. Rapi sekali. Bibimu orang yang telaten."

__ADS_1


"Dia sudah seperti keluarga. Dia mungkin agak perfeksionis kalo bersih-bersih. Dia bahkan kadang mengomel jika aku meninggalkan sampah sembarangan, dia persis seperti Mama." Aku tertawa, bisa dibayangkan kenapa rumah ini rapi dan hidup.


"Aku ingin mengajakmu ke atas..." Dia menarikku berdiri.


"Ada apa di atas?" Aku mulai deg-degan sekarang.


"Ikut saja..." Apalagi yang ada di lantai dua. Aku punya tebakan mendebarkan soal ini. Dan belum apa-apa jantungku sudah tak keruan debarannya.


"Kau mau mengajakku kemana..." Dia membuka sebuah pintu, dan mengajakku masuk.


"Aku mau berdua saja denganmu..." Ini kamarnya. Kamar didominasi warna coklat gelap ini nyaman. Sebuah set sofa besar empuk ada didalamnya dan di sisi lainnya sebuah ranjang king size yang nyaman.


"Ini kamarmu ya..." Dia menarikku jatuh ke pangkuannya.


"Hmm... tentu saja. Kamar siapa lagi." Aku tertawa. "Kau suka..." Dia mengunciku pinggangku seakan takut aku pergi dari sisinya.


"Aku suka orangnya." Dia tersenyum menatapku dan aku tambah nervous berada di pelukannya. Ini begitu mendebarkan. "Bicaralah sesuatu, kau membuatku gugup." Aku tak bisa bertahan hanya diam begini.


"Apa yang kau pikirkan..." Dia bertanya dan telapak tanganku perlahan menyentuh wajahnya. Sensasi brewok yang tumbuh menyentuh telapak tanganku . Dia menangkap tanganku dan mencium telapaknya, membuat desiran berjalan ke seluruh tubuhku.


"Kiss me..." Dia meminta dan melihat padaku, membuat aku memegang wajahnya lagi dan perlahan memeluk lehernya dan merasakan untuk pertama kalinya bibirnya bersentuhan dengan bibirku.


"Vin..." Kali pertama aku menyebut namanya. Dia menatapku, tak menunggu lama dia yang mengambil alih ciuman, kali ini dia memelukku erat dan membuatku bernapas dalam ciumannya, menyisipkan jemariku ke tengkuknya, terengah ketika semuanya selesai. Aku menyembunyikan wajah panasku di lekukan lehernya, debaran jantungku membuatku lemas. Dan dia masih memelukku erat.


"Kenapa kemarin kau tak menciumku."


"Kapan..."


"Saat kau meminumkanku obat."


"Kau bukannya sedang memikirkan sebuah suntikan antibiotik lebih keras saat itu." Aku tertawa sekarang.


"Dasar m**esum..." Aku memencet hidungnya.


"Itu pikiranmu bukan pikiranku." Dia menjawabku sambil tersenyum lebar. "Kenapa kau tak memintanya. Sudah kukatakan aku akan kabulkan apapun yang kau minta..."


"Aku mau pulang, ..." Lebih lama disini aku tak yakin bisa pulang dengan selamat.

__ADS_1


"Sebentar lagi. Biarkan aku memelukmu sebentar lagi. Aku tak akan memulai sesuatu yang berbahaya seperti percobaan suntikan dengan antibiotic baru. Percayalah aku hanya ingin duduk bersamamu..." Aku tertawa dan membiarkan diriku berbaring di pangkuannya sementara dia memainkan rambutku dan kami mengobrol hal ringan.


Perasaan aman ini membuat semua orang nyaman. Aku tak akan rela kehilangan ini. Perasaan dicintai dan diinginkan yang memabukkan. Bagaimana aku bisa menanggungnya jika kehilangan lagi.


__ADS_2