Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 30. Pesan Mama


__ADS_3

“Oppa, kau yakin? Aku bisa berpura-pura jalan lurus, atau bilang aku sedikit minum dengan teman-teman...Atau berbohong apapun...” Aku senang dia berani menghadapi Mama, tapi tak kurang itu reaksi Mama membuatku khawatir juga.


“Iya, tak apa. Kita bukan pergi ke bar atau semacamnya...”


Kami turun, kepalaku pusing, dan mengantuk sebenarnya aku yakin bisa berjalan sendiri. Tapi karena Oppa berkeras, aku membiarkannya. Tapi orang bilang


Aku membuka pintu depan. Dan melihat ruang tengah masih terang, baru jam sepuluh, memang biasanya Mama belum  tidur.


“Yuna?” Mama memanggil namaku.


“Iya Ma, ini Yuna.” Mama melonggok ke ruang tengah. Dan terbentur pada sosok Oppa selanjutnya pada dandananku.


“Selamat malam Nyonya.” Dia berbicara bahasa Indonesia, dia sudah belajar.


“Ohh Anda...” Mama tidak tersenyum sama sekali, gawat Mama marah.


“Saya mengantar Yuna. Maaf dia sedikit minum tadi, kami pergi ke perjamuan, dia menghormati host dan minum sedikit.” Dan berusaha menjelaskan dengan dengan kosakata yang dia hafal barusan. Aku menghenyakkan diri ke sofa.

__ADS_1


“Ohh, kalian sudah couple?” Pertanyaan Mama mungkin dia mengerti.


“Iya  Nyonya, maaf saya belum datang kesini menemui Nyonya.”


“Berapa lama.” Yang ini Oppa tidak mengerti artinya dia memandangku. Aku menerjemahkan artinya ke korea.


“Kau bisa menjawabku dengan English.” Mama bisa mengerti sedikit banyak English walaupun dia tidak fasih dengan pembicaraannya.


“Kurasa hampir sebulan.” Mama diam, ini menegangkan. Dia melihatku dan kembali lagi ke Oppa.


“Ma, ini bukan ke Bar, hanya jamuan menghormati teman Oppa seorang pengusaha Korea yang tinggal  disini. Ga pa pa kan Ma. Jangan marah Ma.” Dia menghela napas panjang.


“Mama menyuruhmu  datang besok siang Oppa.”


“Ohh baiklah. Kau istirahatlah, aku akan datang kesini jam 1. Nanti aku telepon lagi.”


Malam itu berakhir tanpa insiden, walaupun Mama tidak marah, dia juga tidak menerima Oppa.

__ADS_1


\============


Oppa sepertinya cukup grogi karena sikap Mama semalam. Dia tahu Mama tidak akan begitu saja menyetujui kami. Bahkan memperoleh persetujuan Mama sebenarnya tidak akan mudah. Entah apa yang akan Mama bicarakan hari ini.


Jadi dia punya caranya sendiri, pagi-pagi dia sudah menelepon.


“Yuna, sebutkan padaku kue apa yang Mama sukai,  buah apa yang Mama sukai, makanan macam apa yang Mama suka.”


“Kenapa kau menanyakan semua itu.”


“Kau tahu dia menatapku dengan pandangan sedingin es semalam. Jika aku datang dengan tangan kosong   hari ini dia akan menyiramiku dengan air.”  Aku tertawa, aku senang dia memikirkannya, ternyata dia tipe-tipe yang sangat paham etika dan bagaimana menyenangkan orang tua.


“Baiklah, mulai dari makanan....” Dia  langsung mencatatnya dengan serius, dan jam 10 dia sudah berada di mall untuk membeli semuanya.


‘Aku sudah mendapatkan semuanya. Akhirnya. Aku akan mandi dan kerumahmu sebentar lagi.” Aku tersenyum mendapatkan pesannya yang manis itu.


‘Tak usah buru-buru.’ Aku menjawabnya dengan  cepat, sambil tersenyum gembira. Aku tak tahu kalo Oppa adalah orang yang seserius ini. Padahal dia belum pernah terlalu mesra denganku, bilang saranghae pun tak pernah, tapi dia benar-benar menghormati Mama. Bukankah itu pertanda bagus.

__ADS_1


 


 


__ADS_2