Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 5. Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

“Jal isseo.”


“Jal ga.” Kami berpisah setelah makan malam. Aku sedikit membungkuk mengantar kepergiannya dan mengucapkan salam.


Melihat bayangan  punggungnya dari kejauhan. Aku menghela  napas. Perasaan ini, apa aku mengharapkan perhatiannya. Mungkin aku hanya terlalu sering bersamanya berbulan-bulan ini.  Lagipula aku sedang dalam mode kasihan padanya.


Lagipula tak mungkin, dia posisinya atasanku. Aku tak bisa menjangkau hatinya sama sekali, aku berusaha bicara,  tapi dia sampai sekarang tak pernah terlalu membuka diri pada siapapun nampaknya, aku sudah memperhatikan beberapa dokter wanita bahkan mencoba mendekatinya terang-terangan, tapi dia selalu  menghindar. Dia tak pernah menghindariku karena aku tak pernah mengusiknya atau memperlihatkan hal-hal yang mengganggu. Lagipula umur kami jauh...


“Yun, pulang?” Aku menoleh ke belakang ternyata  Leo yang menyapaku.


“Hei, udah selesai shift?” Aku membalas sapaannya.


“Iya, kuanter yuk. Kan kita searah.”


“Ngerepotin gak usah.”


“Ayolah...” Dia memegang tanganku dan  menarikku  ke parkiran. Aku menarik tanganku dari Leo. “Sorry,  aku hanya bermaksud kau tak usah sungkan padaku...”



“Baiklah.”Akhirnya aku mengikutinya.


“Bagaimana pekerjaan, kau terlihat sibuk sekali belakangan?” Dia membuka pembicaraan setelah kami sampai kemobil.


“Hmm baik, banyak hal menarik yang  bisa dipelajari.”


“Kau pacaran dengan Dokter Joshua ya?”


“Tentu saja tidak!”


“Ohh, kupikir begitu, jangan marah, kalian terlihat dekat.” Aku tak menjawabnya. Dia menghela napas.


“Karena kau tidak pacaran dengan Om-om  itu. Hmm...mau coba jalan denganku?” Sekarang aku melihatnya dan meringis. “Aku gak jelek-jelek amatkan? Kamu selalu menghindar, aku terus terang saja, aku mau mengajakmu jalan, apa mukaku kriminal?” Aku tertawa.


“Banyak yang pengen ngejar kamu, kenapa kamu gak ngajak  yang ngejar kamu aja.”


“Kalo bebek ngejar aku,  aku  harus ngajak bebek juga gitu.” Balasannya membuatku tertawa.


“Iya masuk akal juga sih...” Aku tertawa mukanya ditekuk, sepanjang aku disini, aku gak pernah ngeliat muka ganteng yang satu ini marah-marah. Kayanya ini tipe gak pernah ditolak punya. Kalo ditolak langsung baper.

__ADS_1


“Ya udah nonton  aja deh, minggu  depan ya, pas libur. Makasih udah nganter pulang.” Langsung  senyuman dan ramai, aku kayanya perlu lihat yang ganteng-ganteng dulu  daripada ikut baperan  sama Oppa.


Tapi kenapa ya, aku kalo disuruh pilih antara nemenin Oppa makan sama nemenin Leo makan rasanya aku lebih milih Oppa. Padahal Leo itu ganteng lho, kok akunya rasanya lebih milih Oppa. Sekarang aku menghela napas panjang. Ini bener-bener gak beres.



Hari ini aku libur, ketemu sama temen-temen cewe sudah lama gak hang out bareng. Aku  sudah mau pulang, ketika aku melihat Oppa masuk ke sebuah bar digedung yang sama dengan restoran tempat aku hang out. Dia ke bar, mungkin bertemu seseorang, baru jam  9, aku ikutin sebentar tak bisa menahan rasa penasaranku. Kulihat dia duduk sendiri  di bar. Aku duduk agak jauh darinya, hanya melihatnya... Sebenarnya apa yang kulakukan disini.


Sejam kemudian dia masih duduk sendiri. Aku juga duduk sendiri seperti orang bodoh sendiri disini menonton livemusic, lama-lama jika ada orang iseng aku bisa dikira hostes karena duduk disini sendiri.  Akhirnya aku memutuskan bergabung.


“Dok.” Aku duduk di kursi bar disampingnya, belum terlalu ramai. Dia melihat ke arahku.


“Kau lagi, gadis cerewet, kenapa kau disini.” Sambil mendorong keningku. Dia mungkin sudah sedikit mabuk, jika sepenuhnya sadar  dia tak akan bicara atau berlaku begini.


“Aku tadi bersama teman-teman, waktu melihatmu, tapi mereka sudah pergi...”



“Ohh, kebetulan sekali.” Dia minum lagi dan meminta gelasnya diisi. “Kenapa kau di bar, nanti kau di cari orang tuamu,gadis cerewet. Sana pulanglah...” Dia benar-benar mabuk, kurasa dia tak akan ingat pembicaraan kami  nanti.


“Dok kau sendiri?” Mungkin dia  menunggu seseorang disini.


“Siapa yang  meninggalkanmu.” Aku merasa bersalah mengoreknya saat mabuk, tapi aku penasaran. Lagipula tak ada yang mengerti pembicaraan kami.


“Hye-ri, Sun-young,...” Itu nama wanita.


“Anak dan istrimu?” Aku mengambil kesimpulan.


“Aku membunuh mereka,... kau tahu... aku harusnya aku tak menerobos hujan badai malam itu, lebih baik aku menunggu sampai pagi. Tapi kupikir lebih baik kami tiba dirumah lebih awal... Aku sangat bodoh.” Aku mulai mendapat gambaran apa yang terjadi. Ini pasti melibatkan kecelakaan yang  menyebabkan kematian istri dan  anaknya, dia yang mengemudi, dan dia sangat menyalahkan dirinya sendiri. Dia bisa sampai kesini sebenarnya keajaiban. Mengingat persentase bunuh diri di Korea yang sangat tinggi. Tapi dia dokter, dia harusnya punya support system dari keluarga dan teman-temannya, itu makanya dia bisa berakhir disini. Dia masih menyalahkan dirinya, mengurung dirinya di pekerjaan sampai dia kelelahan adalah caranya melepaskan diri dari tekanan perasaannya bersalahnya sendiri.


“Aku membunuh mereka... Kau tahu rasanya itu.” Dia tertawa tapi kemudian bahunya terguncang, dia menangis sedih  karena sedang teringat istri dan putrinya. Aku mengelus punggungnya ikut merasakan rasa bersalah yang dia tanggung seumur hidupnya. Kondisinya tak mudah. Bartender yang ada didepanku melihat kami. Jika dibiarkan lebih lama lagi dia akan  tidur disini.


“Kau mabuk, kuantar kau pulang Dok, ...” Aku memberi kartuku untuk digesek untuk gelas terakhirnya.


“Aku tak mau pulang, kau yang harus pulang... gadis cerewet, nanti kau dicari Ibumu.” Sekarang dia mulai meracau.


“Kau butuh bantuan buat membawanya?” Bartender itu tahu aku akan  kesulitan.


“Iya..” Aku sangat berterima kasih atas bantuannya.

__ADS_1


“Kupanggilkan seseorang.” Tak lama seorang  laki-laki yang nampaknya pelayan membantuku memapah berjalan sampai ke parkiran. Untunglah hari ini aku membawa mobil dan untunglah dia  tak tidur duluan.


“Yoonaaaa, kenapa kau membawaku pulang... Aku masih mau minum!” Dia masih  membuka matanya. Apartmentnya tak terlalu jauh. Kurasa  dia tak akan tertidur sebelum aku sampai.


“Diamlah boss. Namaku Yuna bukan Yoona, berapa kali harus kubilang itu...” Dia takkan mengingat aku mengatakan itu.


“Kau lebih cantik jika dipanggil Yoonaa...” Dasar mabuk  bicara ngaco. Aku tak meladeninya. Kurasa aku masih bisa membawanya keatas.


“Ayo keatas!” Aku menarik tangannya, jangan tidur dulu! Dia akhirnya bersedia kutarik.


“Yoonaa, kenapa  kau cerewet sekali,tapi masakanmu enak.  Kau benar-benar mengingatkanku pada jabchae buatan Ibuku.” Aku tak bersedia membalas orang mabuk, lebih baik aku membawanya ke atas secepatnya. Aku takut dia muntah. Semoga dia hanya tidur saja, dokter harusnya tahu  aturan makan dulu sebelum mabuk.


“Mana kunci pintumu, ...” Akhirnya aku selamat membawanya ke lantai unitnya.


“Kunci...kunci..” Dia memberiku kunci di kantong jaketnya.


“Kau memang menyusahkan Boss.” Akhirnya bisa masuk dan menyalakan lampu.


“Sudah kubilang aku masih mau disana.” Aku melemparnya ke sofa sekarang. Harusnya  dia tidak muntah, baru sejam disana. Aku membuka sepatunya dan kaus kakinya, melemparnya  ke rak dekat pintu. Aman. Tinggal menunggunya tidur  sebentar lagi dan pergi. Ohh nyalakan AC dulu, bawa ke kamarnya. Kasian tidur  di sofa, bagaimana jika dia jatuh kebawah.


“Ayo, jangan  tidur disini!” Aku menariknya bangkit lagi membawanya ke kamarnya. Dia menurutiku tanpa bicara sekarang.


“Hye-ri...” Dia memanggil nama istrinya tapi melihatku. Astaga ini gawat! “Aku merindukanmu...” Dan aku tak bisa melawan pelukannya. Ini gawat! Orang mabuk memang menyusahkan.


“Aku Yuna, apa yang kau lakukan!”


“Hye-ri.” Entah bagaimana dia membantingku ketempat tidur dan menindihku. Sia*l! Ini terakhir kalinya aku mau berurusan dengan orang mabuk! Dan tak disangka dia menciumku!Aku membelalak  saat dia mengunciku dan membuatku tak bisa bergerak. “Aku merindukanmu Hye-ri.... sayang.Kenapa  kau tak  membiarkankan aku  bersamamu... Aku merindukanmu...” Sekuat tenaga aku mencoba membalik posisiku dari berat tubuhnya.Ini benar...benar...menyebalkan!


Dan setelah aku berhasil keluar dari  himpitannya.


“Hyeriiiii.... aku ikut denganmu.” Sebuah rintihan sedih dan dia tertidur.


Aku hanya bisa  melihatnya tertidur sekarang dalam posisi kaki masih mengantung. Aku kesal karena dia menciumku, tapi disisi lain aku kasihan padanya!


“Kau sialan Oppa!”  Aku menyerah memarahinya, sekarang aku harus memperbaiki posisi tidurnya.


\=\=\=\=\=


Vote jangan lupa yooo

__ADS_1


__ADS_2