
Kami sampai ke apartement Oppa, aku berusaha tetap tenang.Tapi belum apa-apa mataku sudah memanas duluan. Aku duduk di sofa berusaha mengumpulkan diriku, mengumpulkan keberanianku untuk bicara.
“Minumlah, ...” Dia memberiku sebuah minuman teh krisan manis, dan duduk disampingku. Merangkul bahuku dan sesaat aku hanya menyandarkan diriku begitu saja padanya. Menikmati kedekatan kami, betapa selama ini aku merasa begitu nyaman bersamanya tapi kemudian sesaat lagi ini harus berakhir.
“Oppa...”
“Kau masih marah soal kemarin. Aku sudah bilang aku butuh waktu. Semuanya perlu dibicarakan.” Aku menatapnya, duduk dipangkuannya, mengelus wajahnya dan sesaat ciumanku menyentuhnya, merasa putus asa kemudian. Bukan menenangkan perasaanku, tapi menciumnya membuatku ingin menangis.
“Aku tahu. Tapi mungkin aku sudah memikirkan banyak hal semalaman. Aku memikirkan... cinta tidak akan cukup buat kita.” Dan tetesan pertama sudah jatuh begitu saja saat aku menatapnya.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Kau tahu jika kita berjodoh, saat kau berumur 60 anakmu berumur berapa?” Dia menatapku dengan tidak mengerti.
“Kenapa kau bicara seolah-olah , ...”
“Ini...tak bisa...”
“Aku tahu mungkin ini sangat berat bagimu, sebuah keputusan yang besar, tak bisa diputuskan dalam semalam, tapi itu juga berarti cinta memang tak cukup, kita terlalu banyak perbedaan, apalagi jika keluargamu menginginkan kau kembali ke Seoul. Jadi aku juga tidak ingin memaksamu... Jadi aku minta kita break dulu. Aku akan menunggu keputusanmu setelah kau bicara dengan keluargamu. Aku akan memberimu waktu sampai kau pulang dari Seoul sebulan lagi. Apapun yang akan kau putuskan aku akan menerimanya. Ini tidak akan berpengaruh terhadap pekerjaan, aku tetap bekerja bersamamu. Sudah kubilang aku hebat dalam hal move on, lagipula aku punya banyak penggemar...”
__ADS_1
Aku tertawa tapi sekaligus juga menangis akhirnya dan merasa sangat bodoh... Aku mencoba berhenti menangis didepannya, jadi aku beralih dari pangkuannya dan duduk di ujung sofa. Dengan tak melihatnya aku berhasil menghentikan isakanku.
“Yuna, kenapa harus begini. Kenapa kau tiba-tiba memutuskan kita harus break...”
“Karena kita memang harus memutuskan, lebih cepat lebih baik. Cinta memang tidak cukup... Atau mungkin aku memang egois. Kita punya banyak halangan, kau bebas berpikir apapun tentangku. Tapi itu keputusanku... Kita belum kemana-mana lagi pula, kau benar tak membuat hubungan kita antara kita saja, mungkin malah sebenarnya kukira kau sudah bisa menduga ini lebih awal, tak ada yang tahu kita punya hubungan, ini hanya antara kita, lebih lama kau menunda rasa sakitnya akan lebih besar. Aku akan menganggap enam bulan ini, ... Entahlah, ...aku yang akan mengurusnya kau tak usah pusingkan itu.”
__ADS_1