
“Aku turut berduka untuk kehilanganmu Dok.” Kami sudah selesai dengan konsultasi terakhir dan punya waktu sebelum konsultasi pasien dokter lain.
“Terima kasih. Itu sudah dua tahun yang lalu.” Sudah dua tahun tapi dia masih menangisinya begitu berat, aku tak bayangkan bagaimana dia melewati bulan-bulan pertama. “Aku kesini untuk mencoba melepaskan diri, tak akan berhasil jika aku di Seoul. Terlalu banyak kenangan di setiap sudutnya...” Dia menghela napas panjang. Karena aku telah tahu sedikit ceritanya, akhirnya dia berani bicara.
“Jika kau ingin bicara, aku akan mendengarkan. Mungkin menceritakannya akan membuat perasaanmu lebih baik.”
“Terima kasih. Kau sudah banyak membantu.” Dia tersenyum kecil dan ikut membuatku tersenyum.
“Bersemangatlah Dok, setidaknya ada aku yang akan menimbunimu dengan pekerjaan, kau tak akan punya waktu bersedih. Aku akan menelepon Dr.Ricky apa pasiennya sudah bisa dikunjungi.” Aku menghilang dari depannya. Aku tak mau terlihat begitu berharap sehingga dia terganggu, jika tidak dia akan menarik diri. Dan itu buruk. Aku akan bersabar dan melihat apa yang bisa kulakukan.
“Dok, aku akan mengambil operasinya disini. Mungkin bulan depan aku ada jadwal lowong, kurasa bulan depan bisa...” Ishh, bicara tak usah dibuat-buat bisa gak sih. Seorang wanita cantik bernama Nola yang setuju dengan jadwal operasi rhinoplasty (operasi perbaikan bentuk hidung) ini ngomongnya gayanya manja banget.
“Senang Nona sudah memutuskan, kalau begitu nanti bisa ke dokter Yuna tanggalnya...” Aku harus tersenyum padanya. Pasien yang ini bicara sendiri dengan Oppa, karena Englishnya fluent.
“Ehmm, Dok, kita punya gathering akhir pekan besok di Alvons Bar akhir pekan ini. Teman-teman saya pas saya cerita juga tertarik dengan ini. Bagaimana kalau saya mengundang dokter bergabung dengan kami, sekalian dokter dapat komunitas baru, ini juga ada prianya lhoo...Eh, dokter Yuna juga bisa ikut.” Tapi jika dia ikut baik juga, dia tak minum sendiri lagi di akhir pekan. Dia tak langsung menjawabnya, mungkin aku harus sedikit mendorongnya..
__ADS_1
“Pergilah Dok, kau lebih baik bicara dengan orang, daripada kau mengurung diri. Sekali lagi aku menemukanmu tidur di bar, aku akan membiarkanmu disana.” Aku bicara padanya dengan Korean, tapi tak mau melihatnya, karena aku sedang melengkapi data.
“Baiklah, aku akan mengajak Yuna.” Baguslah, setidaknya aku bisa jalan-jalan di malam Minggu bersamanya.
“Ahhh, bagus sekali. Aku akan memberitahu teman-temanku. Setidaknya kita bisa ngobrol banyak hal bersama... Terima kasih Dok. Dokter Yuna, kau juga harus datang oke, aku akan mengirimimu alamat barnya...”
“Iya Miss Nola. Terima kasih untuk undangannya.” Aku mengantarnya keluar pasien kami sekarang.
Aku berbalik dan tersenyum pada Oppa. “Well, aku senang kau tidak mengurung dirimu lagi Dok. Bergabunglah dengan komunitas baru. Pasti kau punya kontak satu dua orang Korea yang ada disini. Kenapa kau tak pergi ke perkumpulannya.” Dia melihatku dan tidak bicara.
“Terima kasih Dok. Aku bangga dengan kecerewetanku.”
“Tak diragukan.” Dia masih menghinaku.
“Aku ini pembawa keberuntungan untukmu.” Aku menaik turunkan alisku. Dia akhirnya tak bisa menahan senyumnya. Dan aku tertawa bisa membuatnya tersenyum.
__ADS_1
“Pergilah sana, bawakan data pasien yang akan dioperasi besok untukku. Pergilah makan siang”
“Siap Boss!” Aku menghilang dari ruangannya, setelah berbulan-bulan akhirnya dia mau punya kehidupan sosial baru juga. Aku turut senang untuknya. Satu langkah ke depan untuk dia berusaha bisa memulai awal yang baru.
“Kelihatannya ada yang senang dapat kenaikan gaji.” Leo memepetku saat aku berjalan ke cafetaria.
“Leo kau shift siang, apa kabarmu.” Sejak aku menerima ajakan nontonnya dia tambah bersemangat. Ada saja mengirim pesan remeh, menelepon untuk keperluan tak penting. Padahal sebenarnya dia tahu aku tak perduli padanya. Aku hanya menganggapnya teman, tapi dia tetap tak melepas usahanya,...kadang aku membalasnya lama sekali dengan alasan sibuk, kemarin dia mendapat shift malam di UGD, kami jarang bertemu. Sekarang nampaknya shiftnya normal kembali.
“Baik sayang,... Aku senang shiftku normal lagi.”
“Hmmm...baguslah.” Aku terus berjalan ke cafetaria. Aku lapar.
“Yun, Sabtu malam makan yuk sama nonton.”
“Hmm, aku ada acara. Gak bisa Leo.” Yang kulakukan sekarang menolaknya sampai dia bosan.
“Acara apa, aku ikut. Hangout?” Gak nyerah ya. Aku tak memperhatikannya, sibuk mengambil makanan.
__ADS_1
“Gak bisa ini cewe-cewe doang, gak bawa cowo.” 1001 alasan aku punya untuk menghindarinya. “Ehh tuh Della nyariin lu tuh.” Aku mengalihkan perhatiannya begitu ada yang melambai padanya. “Della, sini ...” Aku mengundang penggemarnya ke meja kami untuk membuatnya sibuk.
“Kenapa, ishhhh...” Dan dia kesal sekarang.