
Aku memanfaatkan waktu tiga puluh menit untuk menganti bajuku dan kemudian melihatnya dengan tasnya sudah menunggu di lobby. Dia mengganti blousenya dengan blouse biru gelap, tapi tak memperbaiki dandannya, rambutnya tetap terikat lurus kebelakang, saat dia menggerai rambutnya dia berubah menjadi orang lain, dia masih menganggap aku mengecewakannya, dan tak berharap apapun, itu bisa dimengerti.
“Ayo,...” Dia melihatku datang, kemiripan warna baju kami sesaat membuatku tersenyum kecil. Kami berjalan bersama sampai ke mobil, memasang seat belt, aku tak bisa mengatakan satu katapun karena sekarang ternyata aku berdebar. Bukankah ini bodoh, aku merasa hal ini sudah berlalu jutaan tahun yang lalu, tapi sekarang aku menghadapi hal-hal seperti ini lagi, aku bahkan aku tak bisa mengumpulkan diriku untuk menemukan pembicaraan pembuka.
“Kenapa kau diam sekali Doc? Apa yang ingin kau bicarakan?” Dia bertanya dengan suara pelan padaku. Aku menyalakan mobil, tapi belum beranjak.
“Aku tiba-tiba tak tahu apa yang harus kubicarakan.” Aku menertawakan diriku sendiri dan membuatnya menghela napas panjang. Dia akan senang hati segera keluar dari mobil ini aku belum mulai bicara nampaknya. Aku menghadap ke arahnya, keremangan cahaya membuat wajahnya terlihat sedih. Pasti aku telah membuatnya menangis. “Kemarin, aku tak mengatakan Joo-mi sebagai pacar pertamamu untuk membuatmu kesal, aku ...”
“Itu tidak membuat perbedaan, jikapun begitu. Sudah kukatakan padamu. Kau tak perlu...” Dia langsung memotongku dengan tidak sabar.
“Jangan memotongku Yuna. Please biarkan aku bicara...” Dia diam tapi dia tidak melihat kearahku.
“Aku memberitahumu Joo-mi adalah ex-ku adalah murni karena aku nyaman bicara denganmu. Bukan untuk membuatmu menjauh seperti yang kau bilang.” Dia cuma mengangkat bahu. ”Kau tahu, kau dan aku punya banyak perbedaan. Disatu titik, aku mungkin takut perbedaan itu terlalu jauh, mungkin kau akan lebih mudah jika bersama yang lain, ... walaupun kemudian aku juga menyadari aku kehilangan.” Dia melihatku kemudian.
__ADS_1
“Jika kau ingin, ... maksudku, aku ingin sekarang, kita bisa mencoba berjalan dan kemudian... jika ini berjalan dan entah bagaimana kita tidak berhasil. Mudah-mudahan kita tetap bisa berteman, kau orang pertama yang membantuku melewati banyak hal disini, aku tak ingin kita berakhir dengan dua orang yang saling membenci.”
“Apa maksudmu? Kau ingin punya hubungan tapi kau sudah meramalkan ini tak akan berhasil?” Dia sudah emosi duluan.
“Aku tak bermaksud begitu. Maksudku, kau tahu mungkin kita lebih sulit menemukan keseragaman pemikiran, karena kita beda budaya, beda latar belakang keluarga, mungkin beda usia. Jika ini tak berhasil, ...”
“My God, ini bukan pernikahan. Jika tak berhasil aku tak akan mengambil hartamu atau mencoba membunuhmu. Kecuali jika aku punya alasan kuat menjadikanmu musuh. Kenapa pikiranmu panjang sekali.” Aku diam, mungkin aku terlalu banyak berpikir. Entahlah, yang jelas masalah hati ini kadang lebih memusingkan daripada pembuluh darah yang terputus.
“Aku baru mencoba lagi, setelah sekian lama...”
“Masalah Hyo-rim, yang meninggalkan ****** itu. Dia teman. Kami tak terikat komitmen. Aku dari awal tidak bisa memberikan komitmen padanya, dia tahu itu... Tapi setiap orang punya harapan berbeda, kau tentu punya harapan yang berbeda... Aku hanya tak ingin ini berakhir buruk. Karena kau tahu kau dan aku sekarang masih bertemu setiap hari. Kita punya ikatan pekerjaan, dan kenyataan bahwa aku masih sangat memerlukanmu di unitku...” Dia yang sekarang tertawa.
“Kau terlalu takut, sudah kubilang catatan pacaranku jauh lebih panjang darimu. Kita tak tahu bagaimana ini akan berakhir, kenapa kau tidak santai sedikit.”
__ADS_1
“Pembicaraan ini aneh bukan.” Aku menertawakan diriku sendiri sekarang.
“Ini memang aneh, dan ini salahmu. Kenapa kau membicarakan hal seperti ini. Tak bisakah kau bersikap mirip sedikit seperti pria-pria di drama Korea. Kenapa ilusi dan kenyataan itu bedanya jauh sekali...” Dia mengatakan hal yang lebih absurd lagi dan membuatku tersenyum menatapnya.
“Aku adalah aku, aku merindukan celotehanmu lagi, entah kenapa aku sendiri tak tahu... merindukan masakanmu mungkin, ... apa kau mau memaafkanku?” Dia melihatku dan tak bicara apapun. Itu kalimat terbaik yang pernah kususun. Aku jadi memikirkan kenapa dia tidak mau segera bicara.“Yuna... apa kau punya rencana balas dendam mengantung pertanyaanku juga?” Dia meringis lebar mendengar pertanyaanku.
“Tepat. Aku memaafkanmu. Tapi menerimamu belum masuk agendaku.” Dia tertawa dan aku tak tahu harus gembira atau sedih. “Aku lapar, kenapa kita berlama-lama disini?”
“Fine...as you wish boss.” Sekarang gadis licik ini yang jadi bossnya.
Dia benar-benar punya banyak pengalaman, tak usah diragukan.
\=====
__ADS_1
Bagi hadiah dan votenya yaaaa
Makasih banyak