
“Yuna, kenapa kamu menangis. Aku hanya bilang ini butuh waktu...” Dia merangkulku, tapi perasaanku tidak bisa diperbaiki lagi, tiba-tiba aku merasa bisa melihat gambaran besarnya dari cerita ini. Aku perlu berpikir apa yang harus kulakukan.
Makan malam kami terasa hambar, walaupun dia berusaha membuat semuanya lebih baik. Tapi entahlah, aku mungkin menyadari aku akan patah hati seperti kata Mama.
“Oppa, apa kau mencintaiku...” Sebuah pertanyaan kuajukan saat dia mengantarkanku pulang. Lama dia tidak menjawabnya, sudah jelas bahwa cinta datang dengan segala kondisi dan persyaratannya kali ini.
“Yuna, aku menyukaimu, kau baik, kau memberiku dunia yang baru, kau menarikku dari kegelapan. Tapi cinta adalah kata yang berat. Cinta berarti sebuah tanggung jawab lebih, ... jika saat ini aku belum bisa mengatakan itu, bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku membutuhkan waktu untuk bisa mengatakan itu padamu.”
Aku mengerti, jauh lebih mengerti sekarang.
__ADS_1
“Jangan marah.” Dia menggengam tanganku. Aku tersenyum padanya, tapi hatiku sakit.
“Tak apa. Aku tahu, aku hanya bilang aku mungkin jatuh cinta padamu saat pertama kita bertemu, karena kau mirip sekali dengan Jin Hee.” Aku tertawa tapi tak melihatnya, menyembunyikan mataku yang memanas.
Malam itu aku tak bisa tidur, menangis terisak sendirian di kamarku semalaman. Kami tidak pernah bertengkar, tapi sekalinya kami bertengkar, bahkan itu adalah hal yang sangat menghancurkan. Apa kami punya masa depan. Pertanyaan besar itu memaksa mataku terbuka dan membenturkanku dengan keras di dinding.
Bangun dengan mata sembab yang berusaha kututupi dari Mama tapi matanya terlalu awas untuk bisa hubohongi.
“Boleh Mah,...” Aku mencoba tersenyum. Dia sibuk membuat sandwich untuk sarapan kami minggu pagi itu. Dia membawa sandwich, kopi dan coklat panas ke meja makan. Aku berusaha terlihat seperti biasa. Makan dengan lahap, tapi diantaranya melamun.
__ADS_1
“Ada yang berjalan tidak baik.” Aku terkejut melihat Mama memegang bahuku.
“Mama... kaget. Engga Ma, biasa saja...” Mama melihatku.
“Beneran?” Aku tak sedikitpun bisa berbohong dari Mama. Mama menghela napas dan menepuk bahuku . “Yuna sayang, Mama sudah tahu ini akan terjadi, kau menemukannya di titik ini, matamu terbuka sekarang, dia jika dia mencintaimu, dia akan menemukan jalannya, dia harus menemukan jalannya. Kau tak usah menunggu, ambil jarak buat kalian berdua berpikir, jika ini berakhir kau bisa move on dan menggangapnya bukan siapa-siapa. Jika dia berniat memperjuangkanmu dia akan mengambil keputusan, jika tidak jangan bodoh menunggu empat tahun untuk sesuatu yang sia-sia.”
Aku menangis di depan Mama akhirnya. Airmataku turun didepannya tanpa bisa ku tahan.
“Apa Yuna bodoh Ma.” Mama tertawa kecil mendengar pertanyaan di tengah isakanku.
__ADS_1
“Bukan bodoh sayang, itu namanya rintangan. Jika kalian tak bisa melewati rintangannya itu akan berakhir, kadang mereka yang jatuh cinta menggangap cinta akan mengalahkan semuanya, tanpa melihat ada tembok besar yang bisa dilihat semua orang. Ketika akhirnya kalian terbentur kalian harus membuat keputusan, ada yang harus berkorban. Ada yang harus berjuang... Jika kau terbentur sekarang bukannya lebih baik bagimu memutuskan sesuatu dibanding harus menunggu di umurmu hampir 30 dan dia hampir 45, bayangka jika dia memutuskan di 45, jika pun kalian akhirnya menikah, saat kalian umur 60 apa anak kalian sudah bisa menopang kalian? Dia baru berusia lima belas tahun.”