
Makan malam yang menyenangkan, kami bergandeng tangan kembali ke mobil setelah berjalan-jalan sebentar. Aku menyender di bahunya dengan nyaman dan bahagia malam ini.
“Oppa, kapan-kapan kita jalan-jalan kesini lagi.” Aku sekarang berani bersender padanya. Ini menyenangkan, bisa memeluk lengannya untuk pertama kali dan bersandar seperti ini, dia tidak keberatan.
“Iya, baiklah.” Dia menyalakan mobil. “Apa Ibumu tahu kita bersama?” Tiba-tiba dia membuat pertanyaan padaku.
“Hmm, Mama tahu aku menyukaimu. Dia sebenarnya lebih mendukung aku dengan Leo.”
“Ahh begitukah.”
“Mungkin sebaiknya kau mendengarkan Ibumu.”
“Oppa, kenapa kau jahat sekali padaku.” Sekarang aku bangun dan senderanku dan memukulnya. Dia tertawa mendengar protesku.
“Baiklah-baiklah. Aku hanya bercanda. Apa kau mau aku mengantarmu dan bertemu Ibumu?” Dia merangkulku kembali dan membiarkan aku bersender lagi didekatnya. Dia terlihat gembira dan nampaknya sesaat melupakan dia melepaskan cincin pernikahannya.Dan aku tak bisa lebih gembira lagi karena saat ini sudah bisa berada begitu dekat dengannya, memegang tangannya, bersandar dibahunya, sementara dia merangkulku.
“Ini sudah malam, jika kau ingin bertemu dengannya akhir pekan saja. Di siang hari. Tak perlu sekarang, kita berjalan saja dulu, sampai kau yakin, sampai kita yakin menghadap ke Mama...”
__ADS_1
“Kau tinggal dirumah Ibumu, bagaimana aku tak minta izin padanya...”
“Begitukah,... kau memang sopan.” Aku mendongak ke arahnya dan bertepatan dia melihat ke arahku. Posisi ini terlalu dekat. Dengan cepat aku tahu ini akan mengarah ke sesuatu, apa dia akan menciumku karena aku terlalu dekat. Jantungku berdetak tak tertahankan sekarang. Apa dia perlu sedikit dorongan?
“Oppa...” Panggilan kecil itu berhasil mendorong sesuatu. Kali ini bibirnya menyentuh bibirku, membuatku sesaat tak bisa bernapas karena terkejut, hanya singkat dan membuatku penasaran.
“Sebentar sekali...” Sebuah pernyataan yang membuat Oppa tertawa terpingkal-pingkal.
“Tidak diragukan lagi, kau memang punya banyak pengalaman.” Dia bicara sambil mengetuk-ngetuk keningku dan aku tetap melihatnya tanpa takut.
“Apa kau serius?” Dia masih tersenyum tapi berhenti tertawa.
“Apa aku terlihat bercanda...” Dia terlihat menakar perkataanku, sebelum akhirnya membuat keputusannya. Kali ini dia merangkul pinggangku, memiringkan kepalanya dan membuat ciuman yang pantas, membuatku bisa membalas ciumannya juga, dan kali ini rasanya waktu seperti terhenti begitu saja.
“Apa itu masih terlalu singkat untukmu...” Ketika sesaat kemudian itu berakhir,dia menciumku singkat dan membuatku mengubur diri di lekukan lehernya dengan perasaan meluap bahagia berada di pelukan lengannya. Aku hanya tertawa manangapinya dan menyembunyikan muka panasku di balik lampu temaram bercahaya keemasan di pinggir pantai.
__ADS_1
“Waktu kau mabuk aku pernah macam-macam denganmu?”Aku tiba-tiba ingat saat aku pertama kali jatuh kasihan dengannya.
“Apa maksudmu? Pas aku mabuk...Kau macam-macam? Itu sudah lama, apa yang kau lakukan.” Dia melihatku dengan serius. Aku tertawa. Itu hanya mengelus dagunya saja, tapi pasti dia berpikir lebih jauh lagi. “Katakan apa yang kau lakukan? Atau aku akan menciummu sampai kau minta ampun...”
“Tidak, itu pertama kali aku tahu ceritamu, jatuh kasihan padamu. Selain aku memindahkanmu ke tempat tidur, aku hanya mengelus dagumu, lagipula kau juga menciumku tanpa izin...”
“Dasar gadis nakal. Beraninya kau menyentuh bossmu tanpa izin.” Dia kembali mengetuk kepalaku dan mambuatku tertawa. "Kau rupanya menyukai ciuman tak sengaja itu heh?"
“정말좋아해요 (jeongmal jowahaeyo, aku sangat menyukaimu).” Aku menatapnya dan mengelus dagunya kembali. Bukan untuk yang pertama kalinya.
Dia tak menjawabku, hanya membalas mengecup keningku. Itu cukup, karena aku sudah mendapatkan ciumannya.
●●●●●●●●●●
Hai sorry partnya pendek-pendek, ini untuk mencover levelku yang hanya dikembalikan 50% hiks hiks
Jangan lupa vote dan hadiahnya ya 🥰
__ADS_1
Makasih banyak buat dukungannya.