
“Iya Paman, aku dokter umum tapi belum mengambil spesialisasi.”
“Jangankan bahasa Korea, makanan Koreapun dia bisa membuatnya Pa.”
“Benarkah, kau bisa masak Korea?” Sekarang Ibunya yang bertanya.
“Aku masih belajar Bibi.”
“Enak Ma, aku serius dia masak enak...”
“Pantas saja kau bisa jatuh cinta padanya. Besok pagi kita masak sedikit, kalian pulang sore kuajarkan kau memasak makanan kesukaan anakku.” Bibi langsung mengajakku memasak bersamanya. Ini sangat bagus, aku senang, kurasa setiap Ibu pasti senang mendapatkan seseorang yang sedikit banyak tahu cara masak makanan anaknya.
“Baik Bibi...”
Sisa malam itu aku merasa lega, pembicaraan mengalir lancar, dan kekhawatiranku hilang.Aku merasa diterima sepenuhnya. Mereka ramah dan Bibi, Eonnie berusaha membuatku nyaman.Ternyata ini tidak menakutkan seperti yang kubayangkan.
Menjelang malam Bibi mengantarku ke kamarku. Sementara Kakaknya Oppa telah kembali.
“Ini kamarmu, harusnya Joshua membawamu lebih awal, kenapa kau harus tinggal di hotel.”
“Tak apa Bibi, Oppa bilang dia ingin lebih memperhatikan Bibi, selama ini dia sudah membuat Bibi khawatir. Kebahagiaan Bibi adalah kebahagiaan kami juga.”
“Bibi memang kuatir, setiap kali Bibi takut menerima telepon ... jika terjadi... kecelakaan. Kau tahu apa yang menimpanya membuatnya menyalahkan diri selama bertahun-tahun. Bibi sudah berusaha menasehatinya, membuatnya berjanji demi Bibi tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Tapi hasilnya Bibi tak yakin. Bibi yang memaksanya mengambil pekerjaan di luar untuk membantunya melupakan apa yang terjadi di Seoul. Tapi sekarang dia mempunyai kau, mempunyai semangat hidup lagi, Bibi bisa tidur dengan tenang tanpa mimpi buruk lagi. Bibi harus berterima kasih padamu.”
__ADS_1
“Aku tahu Bibi, di awalnya aku juga tahu keadaan Oppa tidak baik...”
“Bibi tak tahu bagaimana kau melakukannya. Tapi cepatlah menikah, dia sangat menyukai anak-anak, kalian harus cepat punya anak, dan kembalilah ke Seoul mengunjungi kami dengan membawa cucu bagi kami...” Dia menggengam tanganku dan bicara dengan tersenyum.
“Bibi, terimakasih atas izin Bibi.” Aku tak bisa tak terharu mendengar kata-katanya.
“Lain kali panggil Ibu, kau membawa anakku yang hampir hilang, kau sudah kuanggap putriku.”
“Baik Bibi...”
“Nah istirahatlah, kau pasti lelah, besok kita bertemu jam 7.30 didapur oke.”
“Baik Bibi.”
Aku menghela napas lega. Hari ini telah berakhir dan aku menerima persetujuan keluarga ini. Seseorang mengetuk pintuku kemudian saat aku sudah berganti ke piyama tidur.
“Memang tidak boleh?” Aku tersenyum dan membiarkannya masuk.
“Apa yang dibicarakan Ibu...”Dan dia menarikku ke pelukannya, menciumku singkat membuatku ingin memeluknya lagi.
“Hmm ... harapan yang baik-baik. Tidak ada yang buruk.”
“Sudah lega bukan, sudah kubilang Ibuku baik. Tapi kebetulan yang sangat aneh kau bertemu dengannya tadi pagi.”
__ADS_1
“Iya, itu seperti takdir yang aneh.” Dia menatapku sesaat.
“Takdir yang aneh, seperti aku yang sangat beruntung bertemu denganmu.” Aku tersenyum, dan memegang wajahnya.
“Aku mencintaimu...”
“Terimakasih sudah berusaha mengejarku.” Aku tertawa.
“Bukankah kau sering mengatakanku licik.”
“Aku jatuh cinta pada kelicikanmu, kecerewetanmu, ...apalagi yang harus kudebat tentang itu.” Aku memberinya ciuman yang dibalasnya dengan segera.
“Aku sudah mengunci pintu... Kita bisa melanjutkan ini.”
“Oppaa...” Aku memukul dadanya.
“Keluar dari kamarku. Kau tidak sopan, nanti aku mengadu pada Ibumu.”
“Kau yakin berani?” Dia menertawakanku.“Gadis bodoh, aku sudah berjanji pada Ibumu. Aku orang yang memegang janji, kenapa kau takut sekali, jika aku mau melakukannya aku punya banyak kesempatan tadi siang.”
“Kau jahat...” Dia menertawakannku.
Malam terakhir yang sangat membahagiakan, tak sabar menunggu saat kami bisa kembali lagi disini.
__ADS_1