
Aku penasaran apa dia akan bersikap cemburu jika aku berdekatan dengan yang lain. Ada seorang dokter ganteng di bagian kami bernama Ryan. Dan seperti Leo, dia kurasa juga penggemarku, dia selalu menatapku dengan penuh perhatian jika kami bicara, atau sesekali membawakan coklat, kue atau makan siang.
Atau dia akan bersikap biasa-biasa saja? Aku bicara tentang jadwal operasi selanjutnya dimana dia akan terlibat sebagai assisten Oppa.
“Thanks Yuna.” Senyum Ryan nampaknya bisa melelehkan siapapun.
“Oke, ini jadwal pemeriksaan awalnya, data pasien, kau nanti membantuku menangani pemeriksaan awal. Oke.”
“Oke. Kau mau dibelikan makan malam?” Bukan sekali dia mengajakku makan malam, tapi tak pernah kuiyakan, paling aku hanya mengiyakan untuk makan siang sebentar karena waktunya singkat.
“Hmm, mungkin lain kali ya. Sibuk banget belakangan ini..” Sementara Oppa lewat di ruangan klinik kami sudah bersiap untuk pulang. Aku sengaja bicara dengan Ryan berlama-lama, bercanda, memukul lengannya sedikit dan hanya meliriknya tanpa kentara tanpa dia sadari, aku tahu dia melihatnya. Nahh sekarang setelah dia melihatnya, dan kami dalam posisi ini, apa dia akan memperlihatkan sedikit saja rasa cemburu. Atau sama sekali tidak?
Aku memasuki mobilnya. Kami mau makan malam bersama seperti janjinya. Dia nampaknya tahu aku belum sepenuhnya menerima alasannya.
__ADS_1
“Oppa, kau mau coklat. Dokter Ryan memberi ini, ini enak sekali, dimana dia beli ini...” Dia melihatku yang sedang menghabiskan coklat yang bentuknya unik itu. “Kau mau?” Aku bertanya dengan suara riang.
“Salah satu penggemarmu bukan.” Dia menyinggungnya. Ternyata diam-diam dia memperhatikan juga.
“Dokter Ryan penggemarku...? Entahlah, iyakah...Penggemarku banyak sudah kukatakan padamu.” Aku cengegesan menjawabnya. Dia membalas tatapanku, tapi tak mengatakan apapun, entah apa yang ada dipikirannya, dia tak mengatakannya.
”Oppa apa kau cemburu?” Aku tertawa melihatnya dan tetap di tempat dudukku, selama ini aku tak pernah mencoba melakukan kontak, bahkan berusaha memegang tanganku pun tidak, maka aku juga tak akan memulai mencoba memulai menyentuhnya.
Dia sangat sopan. Aku penasaran tidak sopannya seperti apa...Tapi seperti biasa dia tidak terpancing. Dia memang membuat penasaran.
“Ohh boleh, ayo kita ke Ancol, ada banyak restoran disana. Kuberitahu jalannya.” Biarkan saja dia tidak berusaha melakukan apapun, tapi sekarang aku tahu dia tidak terganggu dengan adanya aku disampingnya, dia tak terganggu dengan pembicaraanku, keberadaanku, walaupun aku menginginkannya lebih dekat kurasa dia hanya butuh waktu untuk sepenuhnya beralih dari dunianya yang kelabu ke duniaku yang penuh matahari.
Kami sampai, didepan sana semburat merah matahari masih terlihat. Aku segera turun mobil tak menunggunya, aku ingin segera duduk di balkon pinggir pantai melihat matahari terbenam.
__ADS_1
Dia duduk disampingku. Ikut melihat langit yang memerah di ufuk barat.
“Kau pernah kesini?”
“Belum baru kali ini.” Dia menatap langit, sepertinya dia tidak gembira.
“Oppa apa kau sedang sedih?”
“Bukan sedih, hanya jika kau mencoba lepas dari sesuatu, selalu ada rasa bersalah mengikuti...”
“Kau akan baik-baik saja.” Aku mengelus bahunya dan membuatnya tersenyum. Dan kali ini dia menangkap tanganku, ini kali pertama dia memegangku seperti ini. Menangkupkan tangannya dan saling mengaitkan jari-jari kami, membuat jantungku berdetak bahagia dan kupu-kupu mengelitik perutku.
“Kau sengaja bukan...” Tiba-tiba dia berkata di dalam kediaman kami.
__ADS_1