Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 36. Bertengkar Akhirnya 2


__ADS_3

Diam kemudian, tak ada bicara apapun antara kami.  Semua sudah diucapkan, bahkan rasanya lebih sakit karena dia tak bisa mengatakan apapun untuk membuat perasaanku nyaman.


Sekarang aku sadar dan menertawakan diriku, tak ada yang nyaman soal putus cinta. Aku yang jatuh kasihan padanya, jatuh cinta, menuruti perasaanku ingin terlibat dalam hidupnya dan ketika akhirnya aku terbentur aku baru sadar mimpiku terlalu indah.


“Kenapa harus sedrastis ini, kenapa harus break... Tak bisakah kita tetap berjalan. Semua akan ada waktunya.”


“Aku merasa perlu persiapan. Kau punya kontrak tiga tahun lagi, aku tak mau punya anak umur 30 dan kau 45. Sederhana, itu terlalu berat dijalani. Lebih baik tidak, lebih cepat berakhir lebih baik...”


“Kau nampaknya berusaha memojokkanku dan mendesakku. Bukan begitu caranya menyelesaikan masalah. Kenapa kau senang sekali memakai trik memojokkan orang untuk menyelesaikan masalah?” Sekarang dia berusaha menuduhku?! Aku melihatnya dengan tak percaya.

__ADS_1


“Oppa, kau bahkan tidak mau mengakuiku sebagai kekasihmu! Kenapa kau tidak terus terang saja kita tidak punya harapan!” Sekarang aku emosi dan nadaku juga mulai naik.


“Sudah kubilang itu hanya menjaga lingkungan kerja. Kau salah paham... Sudah kubilang dari awal. Berkali-kali kujelaskan padamu. Kenapa kau tidak mengerti?”


“Nonsense!” Sekarang kami bertengkar. Oppa menghela napas panjang, aku diam.


“Kau tak perlu merasa sungkan, aku tak bisa mengikutimu kembali ke Seoul, itu masalah besar, dinding besar, satu dari kita harus membuat keputusan  melanjutkan ini atau tidak. Sesederhana itu... Jika tidak, kita juga bisa move on secepatnya. Tak perlu memberiku harapan kosong.”


“Aku hanya berusaha mempersiapkan diriku Oppa, tak mengertikah kau. Aku hanya berusaha   membiasakan menerima kemungkinan terburuk. Aku memberimu waktu, setelah kau kembali dari Seoul, jika dipikir-pikir mengatakan aku kekasihmu saja aku tak bisa, kau  bilang cinta padaku saja tak bisa, apa kau benar mencintaiku? Mungkin kau hanya menggunakanku sebagai pijakan kestabilan psikologismu, apalagi sekarang membuatmu pindah warga negara! Sebenarnya aku ini apa bagimu?!  Kenapa kau membuat ini sulit, tak bisakah kau mempersingkatnya. Jangan mengajakku bertengkar! Bagaimana kalau kupermudah saja ini buatmu, kita putus saja sekarang!”

__ADS_1


“Kau terlalu menggunakan emosi!  Kau berbicara terlalu jauh sekarang!” Sekarang untuk pertama kalinya nadanya naik.


“Aku memang emosi, tapi  aku juga tak menyalahkanmu, aku menyalahkan diriku sendiri! Kupikir cinta cukup mengerakkan semuanya, tapi ternyata mengakui aku kekasihmu saja kau tak mau, aku sudah setahun bersamamu dari awal. Lalu apa harapanku?”


Aku memang emosi, kupikir pembicaraan ini tidak akan menimbulkan pertengkaran,  toh aku berusaha  memberi waktu, mundur selangkah, memberinya waktu untuk berpikir, tapi dia mengatakan aku mendesaknya sehingga aku terpancing begitu jauh. Kami sudah bersama hampir setahun. Tidak cukupkah? Atau memang  tak bisa...


“Sudahlah Oppa, aku mungkin salah, kita putus saja, aku akan mempermudah ini bagi kita berdua. Aku tak perlu berharap satu bulan lagi. Akan kupermudah. Terima kasih untuk semuanya, jika aku terlihat menghindarimu, itu caraku beradaptasi kedepannya, jika kau ingin menegurku ada kesalahan dalam pekerjaan kau bebes menegurku. Dalam 2-3 bulan aku akan menganggapmu bukan siapa-siapa. Aku bisa pulang sendiri...”


“Yuna!” Dia mencengkram tanganku. “Kau kekanak-kanakan! Apa yang kau pikirkan, kau pikir dengan satu kata kau bisa pergi begitu saja?”

__ADS_1


“Kau juga tak pernah mengakuiku. Coba kau pikirkan siapa aku bagimu? Apa aku memang berharga?” Aku menentang matanya sesaat dan akhirnya menarik tanganku, ngambil tasku dan keluar menuju pintu.


Duduk di mobil  sendiri aku kemudian seperti tak sadar. Kenapa pembicaraan tadi begitu kacau. Aku sebenarnya tak berniat memulai pertengkaran... Kenapa malam ini berakhir begitu buruk.


__ADS_2