
“Yuna, ...” Aku meneliti wajahnya keesokan harinya. Ketika dia kebetulan ada dikantorku mengantarkan data pasien.“Kau sedang ada masalah.” Dia melengos.
“Tidak.” Jika dia sedang kesal padaku, dia sama sekali tak mau melihat wajahku lama. Kebanyakan dia menghindari kontak mata walaupun dia bersikap biasa saja masalah pekerjaan.
“Aku punya salah padamu? Aku tidak keberatan jika kau terus terang, sebelumnya kita juga bicara terus terang...” Pertanyaanku membuatnya menghela napas.
“Aku hanya terlalu bodoh kukira. Aku sendiri yang buta.”
“Apa maksudmu? Bodoh kenapa?”
“Tidak usah dibahas lagi, sudah kubilang ini kebodohanku sendiri. Aku masih ada pekerjaan. Aku keluar dulu.” Aku menahan tangannya. Dia dengan cepat berusaha melepas tanganku.
“Jangan bersikap seperti anak kecil, bicaralah jika kau punya masalah denganku. Jangan menganggapku bisa menebak-nebak isi hatimu. Kenapa beberapa hari ini kau sengaja menghindariku?”
“Bukankah itu yang kau inginkan?” Dia mulai menjawabku dan menentang mataku sekarang. Ini lebih baik, jadi kami bicara terus terang.
“Itu yang aku inginkan?”
"Bukankah kau sengaja ingin aku menjauh, kau sengaja pamer dua kekasihmu didepanku, kenapa kau tak bilang saja jangan mendekatimu lagi. Kau membuatku berharap terlalu banyak, bukankah kau lebih baik bicara terus terang. Kenapa kau membiarkanku mengharapkanmu?” Benar yang kupikirkan, dia salah menanggapi soal kemarin.
“Aku tak bermaksud begitu, itu hanya spontan. Bukan sengaja untuk mengatakan sesuatu padamu...”
“Ohh begitu. Jadi sekarang apa yang harus kuharapkan, kau juga tak menerimaku, tapi kau tidur dengan wanita lain, memamerkan mantan kekasih pertamamu, bukankah itu artinya sudah jelas.” Aku diam, karena aku juga tak tahu bagaimana menjawabnya.
“Aku tidak bermaksud,...”
“Stop Doc.” Dia menghela napas panjang terlihat berusaha menguasai dirinya. “Maafkan aku, aku nanti akan biasa saja, aku perlu waktu, ... sudah kubilang pacarku lebih banyak darimu. Jika aku berusaha tersenyum saat itu, itu hanya aku yang tak mau terlihat bodoh.”
“Kau salah mengerti...” Dia langsung memotongku.
“Tidak. Aku tak salah mengerti. I don’t need sugar coating words**. Sorry, kau tak pernah punya komitmen padaku. Sudah kubilang aku yang bodoh. Ini hanya caraku beradaptasi menerima kenyataan. Setelah ini aku akan biasa-biasa saja, dan tidak seterusnya aku tidak berniat bergabung dengan kehidupan personalmu lagi. Sekali lagi aku yang harus minta maaf.” Dia berusaha terlihat berusaha tidak menangis didepanku.
__ADS_1
“Aku keluar dulu.” Dan dia meninggalkan ruanganku begitu saja.
**I don’t need sugar coating words= aku tak perlu kau berpura-pura mengatakan sesuatu yang manis (tapi sebenarnya pahit)
-----99999----
Apa aku harus mencoba mengejarnya sekarang? Berkali-kali aku bertanya hal ini pada diriku sendiri, apa hubungan ini akan berhasil. Kotak makan Yuna yang belum kukembalikan dan kuisi dengan makananku sendiri berhasil membuatku berpikir panjang.
“Hmm... siapa yang membuatkanmu bento begitu cantik?” Dr.Vincent tiba didepanku.
“No..no.. aku hanya bertanya. Itu makanan Korea bukan? Kupikir seorang wanita membuatkanmu, jika punya pacar disini, tampaknya aku akan merasa lega, seseorang dokter terbaikku akan bertahan lebih lama dari kontrak.” Dr. Vincent menepuk pundakku membuatku tertawa.
“Hmm, seseorang memang bersiap terlalu baik padaku. Aku tidak yakin untuk memulai ini sebenarnya...” Dia melihatku yang terlalu banyak berpikir.
“Kenapa?”
“Kami punya perbedaan umur yang cukup lumayan...” Dokter Vincent tersenyum mendengarnya.
“Umur itu hanya angka Dr. Joshua, yang lebih penting adalah apa kalian cukup merasa nyaman satu sama lain. Walaupun muda mungkin dia punya cukup kedewasaan bersikap, jika kau langsung menghindar karena umur...kurasa itu kurang tepat. Bukan anak 17 tahun kan? Kalau masih belasan tahun itu memang tidak cocok.”
“Hmm begitukah...”
“Tak ada salahnya mencoba, siapa tahu memang kalian cocok, tak usah berpikir terlalu jauh, jalani saja, kau akan tahu jawabannya, tak mungkin kau tahu jika kau tidak mencoba melangkah masuk bukan, lagipula kuingatkan kau, jika kau kembali ke Korea sebelum kontrakmu berakhir, kau kena pinalty...” Dia membuatku meringis.
__ADS_1
Dokter Vincent membuatku berpikir. Apakah kami nyaman satu dengan lain? Pertanyaan itu membuatku me-recall ingatanku, sebenarnya aku tak punya masalah dengan semua yang kuketahui tentang Yuna, kepribadiannya atau sikapnya. Dan alasan aku nyaman sebenarnya adalah dia tidak memaksakan kedekatannya, dia berusaha menjadi teman, perhatian, tapi tak pernah mencoba...terlalu berani.
“Yun, mau makan malam.” Aku mencoba berbaikan dengannya.
“Ohhh, enggak Dok. Mama nunggu saya pulang. Saya pulang dulu ya Dok...” Dia bicara seperti biasa tapi dia benar-benar tidak mau terlibat lagi, bahkan sekedar makan malam pun tak mau. “Selamat malam Dok. Aku sudah mengirim schedule besok.” Dan dia menghilang secepat angin tanpa melihatku. Membuatku tak punya kesempatan bicara dengannya.
Sepertinya benar masalah Joo-mi cukup membuatnya menjauh selamanya, setelah sebelumnya entah bagaimana dia bertoleransi terhadap tanda hick*ey. Kali ini dia benar-benar menyerah, padahal aku kali itu hanya bicara jujur dan kurasa kali ini mungkin dia serius , dalam beberapa hari ini dia otomatis menutup dirinya dari pembicaraan di luar pekerjaan.
Bahkan dia tidak pernah membuatkanku makanan lagi, tidak menanyakan kotak makannya yang masih ada padaku dan setelah beberapa saat aku tiba-tiba merasa sadar aku kehilangan kedekatannya. Sekarang aku merindukan cerita-cerita tak pentingnya. Entah mengomentari pasien kami atau gosip yang dia dengarkan. Seperti ada sesuatu yang hilang dari hariku. Setidaknya dia bisa kuanggap teman baikku selama ini. Cinta? Aku masih takut bicara cinta...
Apa aku harus mengejarnya...? Memberi diri kami kesempatan. Setidaknya mencoba, Yuna telah begitu baik, kenyataan bahwa aku mungkin merindukan kedekatannya adalah satu hal yang tak bisa kusangkal. Jika aku membiarkannya pergi begitu saja, tak memberikan kami kesempatan, aku merasa bersikap tidak adil padanya.
Beberapa hari setelahnya berlalu dengan berbagai pikiran, aku memutuskan aku harus bicara dengannya, besok free day. Aku dan dia tidak akan berada di kantor besok. Dia masuk untuk membuat laporan terakhir dan bertanya apa ada yang bisa dibantunya lagi.
“Yuna, thanks. Ini kotak makananmu” Aku mengembalikan kotak makan siangnya sore itu.
“Iya, oke Dok.” Dia tersenyum padaku, bahkan selama ini dia tak pernah memanggilku yang lain selain Dok. Mungkin pernah saat aku pertama menghadiri gathering dengan klien, tapi itu hanya sekali, dan tidak pernah lagi setelah nya. “Ada yang lain, kalau tidak ada I see you on Monday then...” Dia bersiap pulang.
“Yuna, kau mau menemaniku nonton?”
“Ehh....” Dia membeku sebentar. Seakan tidak percaya aku mengatakan itu. “Kau bilang ...nonton?”
“Iya...nonton, makan, besok kita free, mungkin tak masalah jika kita pulang sedikit larut.” Dia masih menatapku dengan tak percaya. Aku bergerak ke depannya. “Dan aku mau bicara sedikit.”
“Aku sudah bilang kau tak perlu merasa tidak enak Dok. Aku biasa-biasa saja sekarang. Kau tidak perlu kuatir apapun. Aku pulang dulu...”Dia berkeras tak mau menanggapiku dan berbalik pergi.
“Yuna!”Langkahnya terhenti. Dan aku mendatanginya, membuatnya membalik tubuhnya dan menatapku. “Kita harus bicara.”
“Soal apa...”
“Nanti saja. Tidak disini.” Dia masih belum memberikan jawaban. Aku perlu sedikit memaksanya. “I see you in 30 minutes at lobby.” Dia melihatku dan menilaiku dan aku harus menunggu jawabannya.
__ADS_1
“Oke...” Dan jawaban singkatnya membuatku diam-diam menghela napas lega.