
"Bagus dong. Suruh dia kerja setaon biar tahu susahnya kerja, kalau dia mau lanjut tawarin kuliah. Kurasa dimanapun bidangnya pasti ada entry level. Dia enjoy kerja di entry level berarti dia punya passion disitu...." Sore-sore akhirnya Vincent mampir ke rumah.
Aku mengenalkannya ke Mama yang terlihat dengan senang hati menerimanya. Sementara aku tak masuk kantor akhir pekan ini.
Kami para perempuan, aku, Ibuku dan Lenna duduk bersama Vincent. Kami membicarakan Ardy yang menghilang di akhir minggu ini. Bahkan Sabtu Minggu pun mungkin dia harus kerja, libur mereka mungkin hari biasa. Sabtu minggu malah rame pekerjaan semacam itu.
"Jadi helper Vin, ..." Kok aku gak tega ngebayangin dia mungkin motongin buah, ngebentuk adonan, ngebersihin work station, padahal ya sebenarnya pasti pekerjaan koki juga ada bagian itu. Tapi aku yang mungkin bekerja di bidang yang sangat berbeda melihat itu secara berbeda.
"Dia udah bertekad kerja ya biarin aja, masih muda, tenaga masih bagus, butuh pengalaman liat bagaimana bakery besar bekerja, susah kerja cape dikit ya biarin, dia berani nyemplung begitu kamu harus hargain. Jika dia bertahan satu tahun ke depan kamu bisa ngomong ke dia buat cari pendidikan yang lebih baik berarti dia memang serius..."
"Gitu?" Vincent punya pandangan yang jelas berbeda denganku.
"Iya gitu. Setiap orang punya jalan yang ingin mereka jalani sendiri, berikan dia satu tahun buat kerja, jika dia masih bertahan, berikan dia jalan untuk kuliah di bidang yang dia perjuangkan itu..." Vincent tak ragu menepuk pundakku didepan Mama.
"Mama gimana Ma..." Aku akhirnya terserah Mama. Mungkin benar aku tak bisa mengatur orang supaya berjalan di jalan yang menurut aku benar. Jika tidak aku tidak setujupun ini akan berakhir dengan pertengkaran lagi.
"Asal dia gak gaul yang engga-engga lagi Mel, biarin saja dia kerja Mel. Kamu marahin dia juga gak ada gunanya. Malah Mama takut dia minta kos lagi."
"Iya Kak, biarin ajalah. Toh dia kerja, biar Kakak free juga gak usah mikirin biaya dia setahun ini." Aku menghela napas. Jika saja Papa masih ada, dia akan punya pemahaman lebih baik bagaimana bicara ke anak laki-lakinya ini.
"Ya sudahlah." Bibir berkata ya sudahlah tapi hati masih terbeban. Sudah kehilangan uang cukup banyak, dan harus merelakan...
"Dia akan baik-baik saja, dia cowo. Cowo itu gak perlu takut susah. Kamu pikir kalo dia pilih jadi dokter kaya aku itu gak susah, sama, jam kerjanya panjang di awal, gaji gak seberapa di awal, udah kaya zombie karena kurang tidur awal-awalnya. Semua orang punya step berjuang di awal karier." Vincent menambahkan.
"Hmm... Ga pa pa ya. Mama gak pa pa Ma?" Aku punya ketakutan sebagai seorang kakak dianggap menelantarkan adikku. Rasanya aku tetap tak rela membiarkannya bekerja sebagai helper toko kue seperti itu.
__ADS_1
"Ga pa pa Mel, biar aja dia kerja biar tahu dapet uang itu gimana. Biar tahu kamu ngeluarin uang buat kuliahin dia itu susah gak dapetnya. Bener kata nak Vincent, di cowo kerja keras di usia muda bagus. Kalau kamu punya uang nanti tawarin dia kuliah...Mama akan bilang suruh dia nabung uang kuliahnya sendiri juga, gak boleh boros kemana-mana. Pelajaran buat dia.
"Ini kakak yang bertanggung jawab Tante. Semua dia dipikirin." Vincent pasti tahu apa yang kupikirkan.
"Iya Nak Vincent, Mel banyak tanggungan. Mungkin menyusahkan Nak Vincent juga. Tapi Tante senang Mel punya temen cerita sekarang."
"Tidak apa Tante. Saya sudah biasa banyak urusan. Saya juga biasa ngurusin orang." Aku tertawa dan memukul pahanya, ini Bambang ternyata tukang banyol juga dibalik sikapnya yang selalu sok cool kalo dikantor.
Mama tersenyum pada kami. Mungkin salah satu kekhawatirannya selama ini aku tak bisΓ menemukan teman hidup sudah hilang.
\=\=\=\=\=\=
Vincent dari Selasa kemarin tak ke kantor entah kenapa. Dia cuma bilang ada kerjaan di luar. Dia tidak menjawab pesan WA-ku sama sekali sampai sore, kupikir mungkin karena banyak kesibukan. Tapi kemudian sampai Kamis juga dia tidak ke kantor, padahal besok Jumat siang kami sudah harus berada di bandara untuk penerbangan jam 1 ke Bali.
Aku tak meneleponnya karena kupikir dia juga tak ingin diganggu saat bekerja. Tapi penantianku dalam 3 malam kemudian sia-sia sehingga aku kesal.
Jumat siang aku ke kantor masuk ke kantor untuk menyelesaikan sesuatu baru ke bandara. Dia tidak juga menghubungiku. Padahal kami punya jadwal penerbangan yang sama. Sopir kantor mengantarku sampai ke Bandara.
Sebenarnya dia masih hidup atau tidak?! Begitu pikiranku. Aku mulai kesal dan berpikir macam-macam. Sementara aku akhirnya aku melupakannya karena sudah mendapat teman mengobrol empat group direktur wilayah Jabodetabek dan Bandung termasuk Direktur ku yang lama yang juga punya jadwal terbang sama.
"Kau dimana?" Dia akhirnya menelepon 20 menit sebelum boarding. 20 menit!
"Jelas diruang tunggu."
__ADS_1
"Lambaikan tanganmu ke atas." Aku melambaikan tanganku dan menoleh ke pintu masuk ruang tunggu. Akhirnya aku bisa melihatnya dengan baju kemeja birunya.
"Pak Vincent." Dengan rekan-rekan ditim kami juga menyambutnya. Dia kemudian duduk dengan rekan direktur lainnya. Sama sekali tidak menyapaku... Hebat!
Untuk skala kapasitas sebenarnya rumah sakit kami adalah yang terbesar, demikian juga jumlah dokter. Jadi dia jelas mendapat perhatian yang lain? Dia adalah yang termuda, dan pemegang unit terbesar.
Terlalu banyak yang bisa mereka bicarakan, sementara aku bergabung dengan kolega sebidangku juga. Hanya dua orang wanita disini, untungnya ada salah satu orang wanita juga jadi aku punya teman duduk berdampingan.
Jadi kami tak punya waktu untuk mengobrol saat penerbangan. Aku sedikit kesal soal itu. Saat datang pun dia langsung menyapa koleganya sesama para Direktur dan terlibat obrolan dengan mereka.
Baiklah...baiklah, tidak etis juga kami bermesraan disini. Tapi tak bisakah dia setidaknya menelepon saat malam. Aku bertekad tak akan mengajaknya bicara duluan.
Ini perlu diluruskan, aku tak suka diabaikan. Aku bukan hanya teman mesranya. Aku merasa seperti wanita bodoh yang menunggu tiga hari dan dalam tiga hari dia tak menelepon sekalipun. Apa dia menganggap aku tak ada.
Aku menyibukkan diri, berpura-pura tak punya kepentingan dengannya. Melihat apa dia sadar atau sama sekali tidak... Tapi seperti kuduga tidak. Dia terlalu terlibat dalam obrolannya sendiri.
Dua hari pertama ini agenda kami adalah makan malam semua pimpinan unit usaha, besok sore kami semua bergabung dengan pertemuan para pemegang saham.
Satu kekhawatiran lagi yang ada dipikiranku, aku sangat berharap entah aku tidak berhadapan langsung dan ditaruh semeja dengan Simon di pertemuan itu.
Jika dia datang... Aku entah kenapa yakin dia punya tujuan tertentu. Aku banyak yang perlu kubuktikan pada mantanku itu.
π§‘π§‘
Next up jam 6 sore
__ADS_1