Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 10. Let's Play Nice


__ADS_3

...Aturan no. 1 dalam permainan ini adalah...


...Jangan mengejar pria, biarkan dia yang  mengejarmu....


...Let's just play nice....


...●●●●●...


"Hmm...oke kita sudah sampai Boss. Barnya di lantai teratas gedung ini."


"Jangan minum banyak. Kau bilang kau tak bisa minum." Dia menaruh sedikit perhatian bukan. Laki-laki tetaplah laki-laki mereka suka memperhatikan benda cantik. Dan merasa  mereka bisa melindungi porselen cantik. Itu hanya alur alami permainan di dunia pria dan wanita.


"Tenanglah Dok, aku bisa mengurus diriku sendiri." Aku tersenyum padanya. Dia mungkin baru melihat sisi lain dari siapa assistennya yang tiap hari berjalan didepannya dengan baju kemeja dan jas dokter yang kebesaran. "Kita turun?"


"Apakah ada aturan sosialisasi yang harus kupenuhi?"


"Hmm tidak ini bukan gathering resmi. Mengobrolah seperti biasa.” Aku turun dan berjalan seperti biasa, dan aku tak berjalan dibelakang. Aku tak menunggu. Aku meneliti lagi alamat yang dikirimkan sementara Oppa  berjalan dibelakangku.

__ADS_1


“Barnya lantai teratas. Ini sekaligus club Dok, ada fine dining Italian, bar dan live music. Dan jangan minum terlalu banyak... “ Aku bicara padanya sementara kami mengakses lift. Dia tersenyum.


“Well, aku bisa mengandalkanmu untuk mengemudi.” Dia tersenyum, well, mengandalkanku? Jangan terlalu yakin aku  akan membuatnya mudah.


“Aku bukan sopirmu,  pengalamanku tidak berakhir baik terakhir kali. Aku tak suka orang menciumku dan memanggil nama perempuan lain...” Aku sengaja menyebutkannya untuk membuatnya merasa  bersalah.


“Aku minta maaf...” Aku sengaja tak menjawabnya . By the way, dia terlihat berbeda malam ini, aku tak pernah melihatnya memakai kemeja gelap sebelumnya. Jadi terlihat berbeda auranya dari yang biasa. Terlihat lebih misterius, dan sekaligus menggoda. Aku ingin mengandengnya tapi dia tak menawariku dari tadi. Aku memimpin jalan dan berjalan ke area lain untuk mengakses lift berbeda yang ditunjukkan oleh petugas.


Tapi aku jadi diam karena masih teringat dia memanggilku Hye-ri.


"Entahlah..." Aku hanya memandangnya sebentar dan melengos ke  arah lain. Aku telah melakukan banyak untuknya kenapa dia mengingatkanku pada kejadian itu. Sementara pintu lift  terbuka dan sudah ada waitress untuk reservasi menunggu kami didepan sana. Aku melangkah kedepan, sekarang tinggiku hampir sama dengannya. Itu memberikan efek padaku, aku merasa tak perlu merasa kecil  darinya malam ini.


“Tunggu...” Aku menoleh pada Oppa. “Kau datang bersamaku, berjalanlah bersamaku.”


“Oke.” Baiklah dia ingin aku berjalan bersamanya.


“Aku tak keberatan kau mengandengku. Anggap saja aku temanmu diluar bukan atasanmu.” Perkataannya membuatnya memicingkan mata. Anggap saja aku teman.

__ADS_1


“Fine.” Aku mengatakannya tanpa emosi, tapi sebenarnya senang. Tak usah memperlihatkannya, anggap saja kau tak tertarik.


Aku menggandengnya lengannya masuk ke waitress yang mengantarkan kami ke reservasi. Ada sebuah area yang diisi sofa melingkar untuk sebuah kelompok. Ada lebih sepuluh orang yang ada disana. Nola yang melihat kami langsung berdiri.


“Dokter Yuna, Dokter Joshua, senang kalian bisa kesini. “ Dia memperkenalkan teman-temannya. Dia ternyata bersama kekasihnya Alfred, ada suami istri juga Ester dan Nicholas, dua orang teman Nola, Gracia dan Lydia, Liana dan Jonathan yang juga suami istri, dan ada satu orang pria single Erwin, yang adalah seorang pengacara. Ahh akhirnya ada pria tampan yang bisa kuganggu, aku langsung mengambil duduk di dekat Erwin, asli yang  ini terlihat dewasa dan keren.


Aku suka potongan begini, ngomongnya tenang, punya perasaan mereka bisa  memproses pembicaraan dengan cepat, pinter, pengalamannya luas. Terasa berbahaya  dan  mendebarkan. Aku tahu Leo mungkin lebih ganteng dari ini, tapi dia tak punya sesuatu yang  misterius untuk menarik perhatianku, aku dan dia seperti halaman yang sudah terbuka. Berkenalan dengan orang-orang lebih berpengalaman selalu membuatku lebih tertarik.



Tapi bintang malam ini tentu saja Oppa, aku membantunya dengan  beberapa pembicaraan, karena Gracia dan Lucia tampaknya tertarik memperoleh informasi  mengenai beberapa prosedur bedah kosmetik,  memberitahunya idiom-idiom yang dia tidak mengerti, mereka menggunakan English  untuk menghormati kehadiran Oppa. Tapi tetap saja ada saatnya mereka menggunakan bahasa Ibu, setelah beberapa bulan ini dia sedikit banyak belajar beberapa kalimat dalam bahasa dan bisa sedikut bahan candaan. Sisanya aku menggunakan waktuku untuk bicara dengan  Erwin yang ternyata mengenal Pak Vincent, yang termasuk sebagai klien kantornya walaupun bukan dia yang menangani.


Aku menyukai caranya berbicara, karena kami berada di bidang yang berbeda, keingintahuan membuat pembicaraan mengalir lancar, sementara Gracia, Lydia dan Nola yang lebih banyak menemani Oppa  bicara. Malam ini ternyata sangat menyenangkan, makanan enak, teman baru yang menawan, coktail yang menemani kami membuat semuanya terlihat lebih baik. Dan terutama ada Erwin yang menemaniku bicara.


“Kau datang  bersama dokter Joshua, kalian bukan pasangan?” Erwin bertanya untuk memastikan.


“Bukan...Aku hanya menemaninya kesini. Plus aku assistennya yang berharga.”

__ADS_1


__ADS_2