
“Aku mencintaimu, itu yang kau ingin aku katakan bukan. Aku mencintaimu gadis licik...” Akhirnya aku mengatakannya itu padanya. Dia memandangku sekarang.
“Aku mencintaimu Oppa...” Dia membalas dan memelukku sekarang.
“Aku akan bicara pada Ibuku, bukan tak bisa sekarang, dia sedang tak begitu baik belakangan, aku tak bisa bicara di telepon untuk hal sepenting itu. Aku juga bukan tak memikirkan apa yang kau katakan, tapi aku sudah membuat Ibuku khawatir beberapa saat, aku merasa aku tak berbakti padanya, pulang ini seharusnya aku mengajaknya jalan-jalan, memijat kakinya, menghabiskan waktu bersamanya dan pelan-pelan bicara tentang kita. Dia sudah berusia 62 tahun, belakangan dia agak drop, Kakakku bilang tak apa, tapi aku jelas khawatir. Jika aku membawamu...”
“Aku tak akan menyusahkanmu disana. Aku punya teman disana, aku punya keluarga dan teman yang ingin kukunjungi, aku pernah study tour sebulan disana saat aku belajar bahasa Korea,Seoul mungkin sudah kuanggap rumah keduaku, aku sudah lebih dari 5x bolak-balik Seoul, aku akan mengunjungi Ibumu di hari terakhir saja. Setiap liburan kita akan kita manfaatkan ke Seoul, mengunjungi orang tuamu. Kita bisa menggabungkan minimal 2x libur panjang setiap tahunnya, terutama tahun baru, Seoul sangat indah saat liburan tahun baru... atau liburan musim semi, kau bisa mengajak mereka kesini, aku pastikan aku akan memperlakukan Ayah dan Ibumu sebagai orang tuaku sendiri, aku akan dengan senang hari membuatkan mereka makanan-makanan enak. Anak kita akan menganggap Seoul sebagai rumah keduanya, kita akan mengajarkan mereka bicara Korea. Kita akan memiliki satu anak saja, kita perlu mempersiapkan pensiun kita lebih baik, karena kau sudah opa-opa maksudku kakek -kakek dalam dua puluh tahun lagi. Mungkin kita harus berusaha punya beberapa apotik sendiri, ataumungkin klinik kecantikan sendiri nanti untuk berjaga-jaga. Dan kau tak akan kehilangan apapun saat bersamaku Oppa, karena bagiku Seoul juga adalah rumahku.”
__ADS_1
Dan sekarang aku terdiam begitu saja saat dia mengatakan semua yang ada di pikirannya. Semua rencananya yang begitu mendetail itu.
“Sebanyak apa yang ada dalam pikiranmu itu.”
“Semua mimpiku, semuanya asal kita bisa bersama.”
“Begitukah,... Baiklah aku bisa tenang sekarang. Ternyata suamiku bekerja dengan otak juga, kau tahu dokter kadang terperangkap pada kenyataan jika dia tidak praktek, dia tidak punya penghasilan. Aku tak tahu kau semacam punya trademark.”
__ADS_1
“Gadis licik, kau baru kenal denganku enam bulan, bagaimana kau berharap kau bisa membongkar portofolioku.” Dia tertawa.
“Kau sangat sombong ternyata Oppa. Kau tidak berbohongkan, begitu kita menikah serahkan padaku daftar kekayaanmu.” Perkataannya membuatku setengah dimanfaatkan, walaupun itu sebenarnya tidak salah juga. Dia sebenarnya bersikap realistis dan berpikir jauh kedepan. Tapi mungkin dia melihat Ibunya yang harus bekerja menghidupi anaknya sendiri.
“Gadis licik, tenang saja, jika aku mati muda kau akan jadi janda kaya, dan anakku akan baik-baik saja... Kau tak perlu takut aku akan memaksamu menghidupi anakku sampai kau renta.” Aku mengetuk-ngetuk kepalanya dan membuatnya tertawa senang.
Kadang aku berpikir, bagaimana mungkin aku jatuh cinta ke gadis yang penuh perhitungan seperti ini.
__ADS_1