Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 3. Segelas Soju


__ADS_3

Dua bulan kemudian, kami benar-benar sibuk dan jadwal operasi kami  sudah mengantri, aku bersemangat karena bisa belajar kasus-kasus unik, kami terkenal dalam waktu singkat dan bahkan Director  sudah memberikan unit kami sendiri bulan ini. Kami pindah kantor, beberapa dokter pindah  ke bagian kami untuk mendapatkan supervisi langsung dokter Joshua. Dokter Joshua benar-benar  pekerja keras. Tapi dia tak memintaku harus mengikutinya, aku bekerja sesuai dengan koridor waktu kerjaku. Walau kebanyakan aku yang tak enak dan selalu bertanya apa dia perlu bantuan.


“Dok, kau tak pulang.” Ini akhir pekan dan dia masih di ruangannya sudah pukul 7 malam.


“Nanti saja, kau pulanglah. Kupikir kau sudah  pulang sejam yang lalu.”


“Aku mengobrol dengan yang lain setelah selesai mengatur unit baru kita...” Belakangan kusadari dia sangat sering pulang malam sekali. Kehidupannya adalah rumah sakit, pulang tidur, lalu kembali lagi paginya. Dia bahkan tak keberatan mengobrol dengan pasiennya lama disini. Tadinya kupikir dia memang berkomitmen, tapi  ada kalanya aku bertanya. Apa dia tak ingin punya kehidupan sosial yang lain, atau mungkin dia hanya tak ingin dirumah sendiri. Tak ingin bersedih karena sesuatu.



“Aku harus sangat berterima kasih padamu. Aku mendapat asisten yang sangat cakap, bahkan kau sangat terlatih untuk berkomunikasi dengan pasien, kau sangat cepat belajar. Ini semua juga kerja kerasmu, aku akan memberikan nilai A+++ di kondite penilaianmu.” Aku tertawa mendengar pujiannya.


“Saya belajar banyak dari dokter, saya yang harus berterima kasih.”


“Kau mau kutraktir makan malam?”


“Makan malam?”


“Ayolah, merayakan unit baru kita. Atau kau punya kencan,aku lupa ini akhir pekan...”


“Tidak... Boleh makan malam,aku mau.” Ini kali kedua dia mengajakku makan malam.


“Ayo kalau begitu.” Aku tersenyum, makan malam dengan Oppa JinHee. Entah kenapa otakku selalu mengasosiasikannya dengan JinHee.


Kami memilih sebuah restoran autentic Korea kesukaannya selama di Jakarta. Aku menyetujuinya karena aku juga suka tapi tak bisa sering-sering kesana, aku baru internship, kau tahu berapa gajiku pokokku?! Makan direstoran seperti itu  akan langsung membuatku garuk-garuk kepala. Hanya UMR lebih sedikit, menjadi dokter sebenarnya adalah perjuangan berat awalnya. Kecuali kau sudah ahli spesialist seperti dokter Joshua, bekerja di rumah sakit besar, banyak pasien, kau baru bisa lega.


“Dimana pacarmu, ini malam Minggu, kau malah menemaniku makan?” Dia langsung bertanya padaku.

__ADS_1


“Hmm... tak ada, aku tak punya pacar.” Aku sudah kelaparan mencium bau daging di panggangan. “Belum  ada yang menarik hati.” Aku mengaku terus terang.



“Leo, dokter tampan itu beberapa kali mencoba mengajakmu kencan kurasa....” Ternyata dia tahu juga Leo mengajakku.


“Tidak tertarik,  entahlah Dok. Kurasa aku masih punya banyak yang harus dikejar masih muda masih intern gaji masih pas-pasan, belum menjelajahi dunia. Aku lebih suka menganggap semuanya  teman.Aku lebih suka menghabiskan waktu mengobrol dengan dokter-dokter senior, banyak yang bisa kupelajari.”


“Orang tuamu masih sehat?”


“Aku tinggal dengan Mama, tidak pernah melihat Ayahku. Mama bilang dia sudah meninggal. Tapi aku  tak pernah melihat makamnya. Mama menolak membicarakannya. Jadi anggap saja dia tidak ada. Aku sudah disini, sudah jalan hidupku.” Aku bisa membicarakannya tanpa emosi sekarang, tapi ada di masa pemberontakkanku aku merindukan Papaku, iri dengan Papa orang lain. Berbuat kenakalan hanya untuk protes kepada ketidak beruntunganku. Membuat  Mama jatuh  sakit waktu SMA, karena aku benar-benar tak bisa diatur.


Sampai saat itu Paman dan Nenekku datang mencariku dan bicara panjang lebar. Mengatakan bahwa Papa meninggalkan kami, Mama menganggapnya sudah meninggal, karena memang dia akhirnya tinggal di kota lain. Akhirnya aku bisa melihat dengan sisi Mama, melihat apa yang dia usahakan untukku, walaupun dia bisa juga menjadi getir karena aku anak Papa tapi dia tetap Mama yang terhebat.Akhirnya aku berhenti dengan pemberontakanku setelah bisa melihat dari sisi yang sama dengan Mamaku.


“Ohh...” Dokter Joshua diam, tampaknya dia tak akan melanjutkan bicara tentang itu.


“Aku tahu, aku beberapa kali pacaran dengan sebayaku, tentu  saja. Hanya aku selalu berpikir punya hubungan itu sedikit menggangu, menyita waktu, saling merindukan kemudian karena masalah bodoh  saling membenci, complicated. Menguras pikiran, perasaan, jadi semangkin kesini, kurasa lebih banyak  hal berguna yang bisa kulakukan.” Oppa menatapku nampaknya dia kasihan,tapi sudah lama aku  membenci rasa kasihan dan mengantinya dengan terlihat selalu terlihat gembira, bersemangat menghadapi dunia.   Hanya sangat sedikit orang yang pernah mendengarku bicara begini. Oppa ini salah satunya.


“Aigoooo, ini kelihatan enak,...” Makanan  kami  sudah datang, lebih baik memanggang daging ini secepatnya.


“Ayo makan-makan.” Kami segera meletakkan daging berbumbu itu ke panggangan. Sementara masakan yang bisa dicomot duluan seperti gimbab(sushi korea), dan Japchae(soun goreng) juga sudah datang.  Kami sibuk makan sambil membicarakan makanan, restoran yang dia sukai, sampai kemampuanku memasak makanan Korea.


“Kau yakin bisa  membuat japchae dan gimbab, pork kalbi?


“Tentu saja.”


“Wow?!” Aku tertawa ketika dia terlihat kagum.

__ADS_1


“Kapan-kapan, aku akan membawakanmu hasil masakanku.” Aku menawarkan.


“Hmmm boleh-boleh.” Dia langsung menyetujui.


“Dok, kau tidak bergabung dengan komunitasmu? Maksudku dengan orang-orang Korea disini?”


“Kau sudah termasuk komunitas orang Korea...” Aku tertawa  mendengar perkataannya.


“Aku hanya berpikir kau menghabiskan terlalu banyak waktu di rumah sakit.”


“Hmm...” Dia cuma tersenyum sedih. “Kau mau menemaniku minum.” Dia tak menjawabku tapi malah mengajak minum. Cerita sampai  dia memutuskan pindah kesini mungkin berat. Dia lebih jauh mengurung diri nampaknya.


“Hmm boleh sedikit...” Dia menuangkan soju ke cangkir kecilku dan cangkirnya sendiri. Aku sedikit membungkuk menerimanya.


“Kau tahu...Semua orang punya beban hati masing-masing. Kadang yang bisa kita lakukan hanya berusaha terus hidup. Itu menghargai harapan...” Sebuah perkataan yang menyayat hati. Entah apa maksudnya dan cerita dibalik itu. Dia menghela napas sebelum meneguk sojunya dengan satu tegukan dan menyusul tegukan kedua. Dan menuang cangkir ketiganya sekaligus.


“Kau biasa minum? Satu cangkir saja kalau tak bisa. Terimakasih sudah menemaniku...”


“Sedikit, tapi tak berani terlalu banyak.”


“Kau bisa selalu bicara. Itu bagus, rasanya belakangan hidupku ada tiga tidur,rumah sakit,dan kau yang  terus mengoceh sepanjang hari. Kurasa  dalam mimpipun aku bisa mendengar kau bicara.” Dia mengajak toss dengan gelasnya.


“Dok, kau ingin mengatakan aku terlalu cerewet. Soju membuatmu bicara terlalu jujur.” Dia tertawa mendengar sindiranku.


“Tidak, teruslah bicara, lebih baik bermimpi tentang  jadwal pekerjaan daripada bermimpi  buruk. Aku sebenarnya harus berterimakasih padamu karena aku bahkan tak punya waktu untuk merenungi nasib lagi disini. Jadi tetaplah begitu...”


Entah apa dan  kenapa, tampaknya laki-laki didepanku ini pernah terjatuh begitu dalam.Mungkin apa yang ditanggungnya sangat berat. Aku mengasihaninya sekarang...

__ADS_1


__ADS_2