
Karena Mama membicarakannya aku jadi memikirkannya. Sebelumnya aku sama sekali tak memikirkannya, apa dia berencana kembali ke Seoul? Apa dia punya kewajiban ke keluarganya. Mungkin dia disini hanya untuk memulihkan dirinya. Tapi semankin kupikirkan ini semankin memusingkan.
Mendapat perhatiannya saja aku belum,... Atau mungkin dia tak ingin punya hubungan apapun disini. Mungkin dia bisa mempertimbangkan untuk menetap demi aku nanti. Sekali lagi aku tahu pikiranku terlalu jauh. Mungkin aku sama sekali tak berhasil dalam permainan ini? Aku menginginkannya tapi apa dia punya pikiran yang sama akhirnya.
"Kakimu sudah tidak sakit? Kenapa kau masuk hari ini?" Oppa langsung bertanya saat aku ada di ruang prakteknya Senin pagi, aku sudah kembali bekerja, hari ini ada janji konsultasi dua pasien baru. Aku harus hadir.
"Bisa, ini cuma keseleo Dok, tidak begitu sakit lagi. Aku sudah memakai sepatu datar. Ada konsultasi hari ini aku harus hadir membantu dokter." Hari ini dia terlihat lebih segar, aku baru melihat dia baru memotong rambutnya lebih pendek.
"Ohh ya, aku bawa ini... Kau sudah sarapan." Dia menaruh gelas kopinya di meja dan menaruh kotak makannya, membukanya untukku.
"Gyeran ppang (roti telur)...." Oppa tersenyum saat aku mengenalinya.
"Makanlah..." Tentu saja aku menyukainya.
"Thanks Dok." Dia tersenyum melihatku makan.
"Ambil sebanyak yang kau mau." Dia mengangsurkan kotaknya padaku.
"Ini sarapanmu. Tidak aku mengambil tiga saja..."
"Hmm...aku bisa menemukan sesuatu yang lain di coffe shop di bawah. Ambil semuanya untuknu saja."
"Dok, kenapa kau baik sekali hari ini." Aku meringis lebar pada Oppa.
"Aku selalu baik." Perkataannya membuatku menaikkan alisku.
"Ohh?" Mungkin dia jadi takut aku dekat dengan pengacara itu. Apa dia terpancing? Gara-gara aku yang berubah jadi Cinderella semalam. Tapi tetap saja sekarang aku tak boleh terlihat memperdulikannya . "Ini makananmu, mana boleh aku menghabiskannya... Aku sudah sarapan Dok. Aku ambil 3 saja oke. Thanks Dok." Ada sepuluh roti di kotak itu. Aku berterima kasih padanya tapi tak melihatnya lama, tak ingin membuat dia menyangka aku terlalu senang.
"Baiklah, ini data pasienmu yang pertama datang jam 10 yang kedua datang jam satu siang. Kau harus mengunjungi Mr. Gleen, Ny. Anastasia jam 9, dokter Yenny dari unit anak minta kau melihat pasiennya, ini case facial asymmetry usia 9 tahun, konsultasi jam 3." Aku langsung ke jadwal kerjanya.
"Oke, kau tak usah menemani kunjungan pasien hari ini, biar dokter Jonny saja yang berjalan bersamaku. Dalam beberapa hari ini temani aku di konsultasi ruangan saja oke."
"Siap Dok."
Hari berjalan seperti biasa kemudian. Satu sesi konsultasi pasien cukup panjang hari ini. Aku sudah kelaparan dengan sesi konsultasi panjang itu.
Leo muncul di unitku membawakan aku bento. Dia membelikan banto untukku?
"Ini buatku?" Aku tadinya mau menitip diambilkan makanan oleh perawat unit. Tenyata Leo tiba-tiba muncul di ruang dokter unit kami. Dia berpapasan denganku tadi pagi dan tahu aku sedang cedera.
"Iyalah buatmu..." Dia terlihat benar-benar berusaha.
"Makasih ya. Kamu kok repot banget..." Aku tak bisa membalas lain selain mengucapkan terima kasih.
"Iya. Jalan turun tangga di rumah aja bisa keseleo. Gimana ceritanya itu..." Dia duduk menemaniku makan. Aku cuma meringis, karena tentu saja itu bukan cerita sebenarnya.
"Ya namanya juga lagi apes." Aku langsung membuka bentonya dan makan. Aku ada konsultasi lagi jam 1.
__ADS_1
Oppa tiba-tiba muncul di ruangan istirahat dan di tangannya membawa sebuah box makanan? Ehhh dia juga membawa makanan untukku?
"Yun, kupikir kamu belum makan. Ini buatmu..."
"Makasih Dok." Aku menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Dia ingat aku sulit ke kafetaria bawah. Sekarang sepertinya nya aku melihat sedikit cahaya harapan.
"Siang Dok,..." Leo memberikan salam untuk dokter Joshua.
"Siang, aku hanya mengantar itu. Kutinggalkan kalian..." Dia pergi secepat dia datang karena ada Leo disampingku?
"Baik juga Boss lu itu. Nganterin buat assistennya?"
"Dia emang baik..." Aku cuma mengangkat bahu tapi tersenyum melihat apa yang dia belikan. Ada steak Ayam. Leo meneliti mukaku. Aku pura-pura tak perduli apa yang dipikirkannya.
"Wahh steak Ayam. Leo mau? Bagi dua nih..."
"Engga." Jawabannya pendek saja. Dia melihatku yang mulai memotong steak crispy itu dengan bersemangat.
"Kecil-kecil makannya banyak juga ya." Leo menyindirku, aku tahu dia setengahnya cemburu.
"Ini enak lhooo, kubagi ya..." Aku langsung memberikan potongan steak itu ke kotak bentonya. Yang akhirnya dimakannya juga. Dengan kesal kukira.
Aku tak mengatakan aku menyukai dokter Joshua, tapi sikapku yang membelanya dan menolak kedekatannya pasti membuat dia memberi kesimpulan. Apalagi dia tahu aku tergila-gila akan Korea. Dia pasti menyimpulkan aku kekanakan, terperangkap pada halusiku soal Oppa-oppa, atau semacamnya. Dia masih tidak menyerah, mungkin dia menunggu aku diacuhkan. Tapi ternyata aku tak diacuhkan oleh Oppa pasti membuatnya kesal. Dia tidak berusaha bicara lagi sekarang...
"Aku harus balik ..." Tak lama dia menyelesaikan makannya.
"Iya. Bye..." Leo akhirnya pergi, aku menyelesaikan makanku karena jam 1 ada konsultasi.
"Mau kuantar pulang?" Tiba-tiba Oppa bertanya saat aku bertanya apa ada yang dia butuhkan lagi, pamit untuk pulang.
"Ohhh, gak usah dok..." Baru kali pertama selama hampir empat bulan ini dia menawari mau mengantarkanku pulang.
"Ga pa pa, ayo..." Dia tak menunggu persetujuanku. Dan langsung berjalan di depanku. Aku berdebar sekarang, apa artinya ini. Atau dia hanya lagi baik karena aku keseleo.
"Dok mungkin agak macet jam segini masih, gak usah menyusahkan dokter."
"Saya gak merasa disusahkan..."
"Hmm gimana kalo makan dulu. Makanan Indonesia aja."
"Ohh? Yakin? Makanan Indonesia..."
"Saya pengen coba rendang."
"Rendang?" Oppa mau makan padang?! Waduh!
"Katanya itu olahan daging yang termasuk makanan terenak di dunia."
__ADS_1
"Yakin?"
"Cafetaria pernah bikin rendang, tapi kata Bu Melisa itu gak otentik. Saya penasaran yang otentik bagaimana." Aku meringis, pasti dia kaget kalo dia diajak ke restoran padang. "Atau kamu mau pulang aja, terserah kamu..."
"Hmm... boleh, padang ya." Aku langsung antusias membayangkan bagaimana reaksi Oppa makan padang.
"Mau pegangan, jalannya udah bisa?"
"Bisa ga pa-pa, asal gak loncat-loncat." Aku gak mau gandengan, biarin dia nyaman dan gak liat aku yang needy ke dia. Aku harus menjaga ini terlihat tanpa perasaan, harus dia yang terlihat jatuh duluan bukan aku.
Hari ini dia benar-benar baik padaku kan? Kenapa? Entahlah, aku tak ingin memikirkannya...hanya ingin menikmatinya sekarang. Aku ingin liat reaksinya makan padang.
Jadilah kita ke restoran padang yang gak terlalu jauh dari kantor sambil nunggu macet berkurang. Dia terlihat antusias. Melihat meja-meja lain penuh dengan piring tersusun, mungkin dia heran orang Indo itu makannya sebakul ya.
"Kok kita gak dikasih menu?"
"Ada nanti..."
"Ohhh lama ya. Apa kita tak perlu panggil pelayannya." Aku cuma tersenyum dan menyuruhnya bersabar. Nahh pertunjukan utamanya datang, pelayan yang datang dengan piring ditangannya dan memenuhi meja kami dengan makanan. Dia melongo melihat
"Yuna, kenapa dikasih makanan sebanyak ini? Kita kan belum pesan?! Bagaiama makan makanan sebanyak ini, ini harganya bagaimana?" Mukanya panik dan aku tertawa puas.
"Yuna, jangan bercanda... Kau harus menjelaskan ke mereka kita tidak memesan begini banyak! Apa orang Indo bisa makan begini banyak, kita cuma berdua?"
"Minum apa Bu?" Pelayan langsung bertanya padaku.
"Ehhm ... teh hangat saja Pak." Aku beralih ke Oppa. "Dok mau minum apa?"
"Minum? Bagaimana dengan dengan makanan ini..."
"Tenanglah!?"
"Kau mau menghabiskan semua ini?!" Aku menyuruhnya tenang, dia menganggapku maruk! Aku sangat menikmati reaksinya.
"Teh saja?"
"Teh, baiklah terserah kau saja." Dia masih shock melihat meja kami yang penuh dengan makanan. "Kau benar-benar bisa menghabiskan ini?" Dia sudah membayangkan jumlah yang dia akan bayar.
"Ini dihitung yang dimakan saja Boss, jadi misal kau makan satu rendang saja, maka kau akan bayar rendang saja plus nasi plus minum."
"Ahhh I seee,..." Dan aku tergelak melihat kelegaannya. Dan selanjutnya dia cerewet bertanya semua menu yang dilihatnya. Aku sedikit mengerjainya makan sambal tentu saja karena dia melihatku menuang begitu banyak sambal di piringku.
"Kau tidak sakit perut memakan begitu banyak sambal."
"I'm perfectly fine."
"Luar biasa."
Makan malam itu berakhir dengan dia memuji rendang, dan gulai, membenci sambal dan pete. Dan aku yang menikmati menghabiskan waktu dengannya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin aku akan patah hati seperti kata Mama, tapi aku hanya menikmati waktuku bersamanya sekarang.
__ADS_1