
Term teman itu sangat menggangu bagiku. Aku tidak bisa menerima wanita itu datang dan menatapnya dengan penuh perasaan begitu.
“Jangan terserah...” Dia membalik pundakku yang membelakanginya.
“Aku salah, tapi aku bersumpah waktu itu adalah kejadian yang tak pernah terulang lagi, kita sudah disini, kau sudah kukenalkan sebagai calon istriku didepannya, kejadian itu sebelum kita punya ikatan. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya padamu...Saat itu, itu terjadi begitu saja, itu murni dorongan fisik pria. Tapi cuma itu... cuma sampai situ!”
“Aku cemburu padanya! Kenapa kau menyuruhnya datang kesini...”
“Aku tahu kau cemburu, aku tak mengundangnya kesini, aku berani bersumpah demi apapun, dia pasti tahu dari teman-temanku. Ibupun tak mengundangnya karena aku sudah berpesan padanya. Tapi biarpun begitu dimasa lalu dia membantu banyak hal, membantuku melewati hari-hari terberat, lagipula dia sudah menikah dengan orang lain. Jadi kumohon jangan kesal oke, jangan mengatakan ‘terserah’ kata saktimu itu...”
Aku masih mencebik padanya.
“Sayang, kau jelek jika mencebik ...” Aku menatapnya dengan kesal. Aku ingin membalasnya sekarang, aku ingin melampiaskan perasaan kesalku dari tadi, jadi tanganku bergerak aku mengarahkan cubitanku diperutnya dengan sepenuh hati.
“Awww....” Dia mengaduh tapi aku tak melepaskan cubitanku. ”Yuna....”
“Kau dengar aku Oppa, jika lain kali teman mesramu itu berani muncul didepanku lagi dan menatapmu begitu rupa didepanku. Aku akan membuatnya malu didepanmu dan orang tuamu. Bilang padanya tak usah datang lagi kesini lain kali. Kau mengerti, atau aku akan terang-terangan membalasnya. Dan aku berani bersumpah demi apapun aku akan melakukan itu. Kau mengerti...”
“Baiklah, apapun maumu. Please ini sakit..." Dia memegang tanganku sambil meringis kesakitan.
“Cubitan ini untuk menyelesaikan kekesalanku, kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja tanpa mengamuk setelah dongkol sepanjang makan siang melihatnya menatapmu dengan mesra begitu.” Aku melepas cubitanku dengan puas.
“Astaga, kau benar-benar tega...” Dia mengelus perutnya yang kuaniaya itu. Dia melihat perutnya yang kucubit, aku meringus melihat bekasnya yang memerah.
__ADS_1
“Kita damai sekarang.” Aku tertawa kecil dan tersenyum dengan puas melihat tanda yang kutinggalkan. “Ayo keluar...” Dan aku menuju ke pintu.
“Siapa bilang kita damai?! Pacar jahat yang terlalu cemburu, kau berani mencubitku begitu rupa?” Dia menghalangiku untuk mencapai pintu.
“Itu balasanmu...” Sekarang apa yang dia inginkan.
“Kau berani mencubitku?” Alisnya naik, tapi aku tidak takut membalikkan kalimatnya.
“Itu salahmu sendiri! Teman mesramu itu...” Aku belum menyelesaikan kalimatku ketika dia membungkamku dengan mengunci pinggangku dan ciumannya tiba-tiba menguasaiku.
“Kau tunggu balasanmu berani mencubitku begini...” Dia hanya bermain-main denganku. Dia ternyata tidak marah.
“Ohhh.... Sayang, kau yakin kau gadis pera**wan? Kenapa kau bertingkah seperti gadis nakal. Otakmu itu mesum sekali,...apa sebenarnya yang ada di pikiranmu, menurutmu bagaimana aku akan membalasmu?” Aku meringis lebar ketika dia menaikkan alisnya begitu rupa, mukaku panas.
“Sudah kubilang aku punya banyak pengalaman...” Aku mengikik geli. Entah kenapa aku senang bermain-main seperti ini dengannya. “Maafkan aku, aku hanya cemburu melihatnya menatapmu seperti itu. Aku tak bisa ... membayangkan kau dan dia... ” Aku memeluknya erat dan menyembunyikan wajahku di lekukan lehernya. "Kau tahu apa maksudku...Aku tak suka dia menatapmu seakan dia dan kau..." Bayangan bagaimana Oppa memeluk wanita lain menyiksaku dan aku memeluknya erat. "Aku benar-benar tak tahan membayangkan itu..."
“Kekasih tersayangku yang sangat cemburu, lihat aku Yuna...” Aku melihatnya di matanya. “Aku minta maaf, aku mencintaimu. Jangan kesal lagi oke. Dia tak akan datang lagi didepanmu. Aku berjanji...” Aku tersenyum kecil dan menganguk.
Baiklah kami berdamai.
Kami berbaikan dan menghabiskan waktu kami dengan Eomma dan Appa di sisa hari kami di Seoul. Bagaimanapun ini hari terakhir kami berada disini, tak seharusnya diisi dengan pertengkaran di depannya.
__ADS_1
“Cepat urus semuanya, Mama dan Papa menantikan kapan kalian mengirimi kalian tiket ke Jakarta. Joshua jangan menunda apapun lagi. Yuna, jika Joshua membuatmu kesal telepon Bibi, aku akan memarahinya untukmu.” Pesan terakhir Eomma setidaknya membuatku tersenyum bahagia.
“Terima kasih Bibi, aku akan sering menelepon Bibi...” Aku memeluknya, merasa lega mereka semua telah menerimaku sebagai calon menantunya
“Aku pergi Ma, nanti liburan tahun baru kami akan kembali.”
“Pergilah, cepat kirimi kami kabar.” Kami melambai pada mereka dan pergi dengan taxi menuju bandara. Perpisahan tak pernah terasa mudah.
“Ada yang kau ingin beli lagi?” Kami menuju bandara, bagasi kami sudah cukup banyak.
“Tidak...” Aku hanya menikmati melihat pemandangan di sepanjang jalan, kampung halaman Oppa, dia menunjukkan beberapa tempat yang sering dikunjunginya dan punya kenangan buatnya untukku. Dia terlihat gembira bisa kembali lagi, sekaligus mungkin sedih akan pergi dari tanah kelahirannya. Tapi dia bersedia melakukannya.
Karena aku adalah masa depannya sekarang.
❤❤❤❤❤
Jangan lupa Erwin udah update lhooo 32 part
Di LAW FIRM Series yaaa update nya
Vote tetep di Jalan Cinta Sang Dokter sd akhir Juni
__ADS_1