Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 50. Sandra Yang Marah


__ADS_3

"Kamu yang bilang ya ke Andreas!" Seseorang tiba-tiba mencegatku di koridor menuju ruang kafetaria karyawan.


"Dokter Sandra..." Aku kaget karena diatiba-tiba mengikutiku dari belakang  dan langsung memarahiku.


"Kenapa sih kamu harus ngurus urusan orang! Gak punya kerjaaan kamu! Sok care bener!"  Dan dia menyemburkan kemarahannya padaku begitu saja. Aku tak pernah berniat jahat, aku hanya mengkhawatirkan jika suatu saat dia tak bisa mengendalikan emosinya lagi dia menempuh jalan pintas.


"Dokter Andreas kan teman dekatmu, kau harusnya menerima..." Dia langsung memotong perkataanku. Padahal aku hanya ingin membantunya.


"Bisa gak sih lu gak usah ikut campur urusan orang, kepo banget sih jadi orang. Masalah gue bisa gue handle sendiri gak perlu orang lain!"  Aku selama ini selalu berusaha bersikap baik padanya padahal. Dia benar-benar orang yang sulit.


"Sandra!"  Andreas yang datang dari belakang dan menegurnya sekarang.

__ADS_1


"Lu juga gak usah ngikutin gue bisa gak? Lu juga gak usah kepo! Gue bisa urus urusan gue sendiri! Napa sih semuanya kalian ini pada sok care bener..." Gantian Andreas yang dimarahi oleh dokter Sandra.


"Dokter Sandra, ayo kita bicara..." Aku mencobe mengatakan padanya aku tak berniat tak baik padanya.


"Gak usah ngurus urusan gue! Gak ngerti lu ya." Setelah mengucapkan itu dia melenggang pergi meninggalkan kami. Nampaknya baru kali ini dokter Andreas membicarakan hal ini, padahal aku memberitahunya sudah cukup lama.  Aku dan dokter Andreas bertatapan satu sama lain.


"Dia memang bukan orang yang sabar dan baik hati nampaknya dokter Andreas. Niat kita disalah artikan." Andreas menghela napas, dokter ganteng itu nampaknya juga tak bisa melakukan apapun.


"Mungkin dia takut reputasinya tercoreng disini. Bagaimanapun dia dokter dengan level tinggi, cardiologist..." Mungkin dr. Sandra berpikir kami ingin menekannya, bukan membantunya.


"Justru dengan level seperti itu dia harus mendapatkan bantuan. Jika tidak berapa banyak operasi yang beresiko jika dia tidak dalam kondisi bisa mengontrol emosinya dengan baik. Nyawa pasien bisa dalam bahaya. Tinggal tunggu waktu dia dituntut atas kesalahan prosedur jika dia tak bisa berpikir lurus..." Andreas bicara denganku sementara kami berjalan ke ruang kafetaria.

__ADS_1


"Mungkin pelan-pelan dia bisa menerima bantuan. Kau harus bersabar..."


"Itu yang kulakukan sekarang, bersabar, entah kenapa dia menjadi orang paling sulit untuk didekati." Aku tahu, untuk beberapa saat aku sering bergabung dengannya di meja makan. Tapi dia sepertinya punya masalah dengan bergaul, kadang aku merasa dia hanya menggangap kehadiran Dokter Vincent dan Andreas temannya kurasa, dia jarang terlalu  menanggapi kehadiran Bu Melisa dan aku, jika ada pun dia cuma basa-basi.


"Mungkin kau harus tanya bagaimana mendekatinya dengan dokter Vincent." Andreas melihatku. "Dokter Vincent bukannya dulu adalah teman dekatnya..." Jariku membuat tanda kutip.


"Hmmm..." Tampaknya dia belum mempertimbangkan melakukan hal itu atau tidak. "Kudengar kau baru pulang liburan dari Korea kemarin, tampaknya tak lama lagi akan ada undangan datang..."


"Masih diusahakan, belum begitu cepat..." Aku tersenyum  menanggapi pertanyaannya. Kami sudah berniat mengurus pernikahan agama karena agama kami sama, dan juga itu adalah syarat mendaftarkan ke catatan sipil Indonesia.


"Bagaimanapun selamat buat kalian..."

__ADS_1


"Kudoakan kau dan dr. Sandra juga lancar..." Dia meringis.


__ADS_2