Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2 Part 14. Little Princess with Unicorn


__ADS_3

...Kau tahu bagaimana rasanya ingin menyentuhnya tapi tak bisa?...


...Kau tahu bagaimana rasanya harus menyembunyikan perasaanmu....


...Sangat menyebalkan!...


...●●●...


“Dok, kau single?” Sebuah pertanyaan muncul dan membuatku menaikkan alisku. Dua orang wanita muda duduk didepanku. Mereka punya semuanya, cantik, rambut panjang  mengkilat, tubuh tinggi, lekuk terjaga seperti gitar spanyol, perut rata, parfum dan pakaian mahal, tampaknya mereka menjalani effortless life, plus gaya mereka sepertinya sengaja menyerupai satu dengan  yang lainnya.  Aku harus terbiasa dengan yang seperti ini  nampaknya.


“Carla, kau nakal.” Temannya  yang bernama Olla menyenggol teman dekatnya itu. “Kau belum cukup ya, masih nyari lagi.” Oppa sudah selesai menjelaskan opsi breast implant ke mereka, tepatnya salah satu gadis yang bernama Olla.


“Ini namanya intermezzo sayang, membuka horizon pengetahuan baru.” Carla dengan tawa cekikannya yang khas membuatku merinding. Tapi aku tak bisa membuat ekspresi apapun, mereka pasien, tentu saja harus diperlakukan seperti raja. Salah-salah aku  membuat kesalahan menyinggung mereka, mereka tak jadi operasi  disini.


“Dia sudah kebanyakan temen dok. Jangan dipercaya...” Dasar  sugar baby. Oppa  hanya tersenyum mendengar candaan mereka. “Tapi  dokter Joshua ganteng sekali, kaya artis drama korea.” Carla terang-terangan menggoda  dokternya. Tentu saja dia copy-an Oppa Jin Lee ku.


“Terimakasih atas pujiannya.” Oppa selalu bisa menemukan cara beramah tamah dengan pasiennya tanpa terlihat tertarik. Dia selama ini terlihat bisa menarik garis antara hubungan profesional dan pribadi.


“Dok, kalo saya ambil prosedur disini, mungkin harganya diskon Dok.” Olla sekarang yang bicara. Gak mau hasilnya diskon juga kan? Pengen nyeletuk kaya gitu tapi tentu saja gak boleh. Cakep-cakep minta diskonan.


“Itu kekuasaan Direktur rumah sakit buat diskonan Nona Olla.” Oppa membalik perkataannya dengan tersenyum. Kali ini tak perlu aku yang jadi translator karena mereka  Englishnya fluent.


“Ohhh begitu. Gimana kalau makan malam berdua Dok. Dokter bisa menjelaskan lebih mendetail  soal tadi.” Carla masih berusaha.


“Maaf saya belakangan ini punya jadwal yang penuh belakangan. Nanti jadwalnya konsultasi ke Dokter Yuna oke. Nanti mau  tanya-tanya bisa ke dokter Yuna juga.” Dan dia dengan pintar melempar pembicaraannya padaku, aku memberikan senyumku ke mereka.


“Ahh dokter Yuna, dokter beruntung sekali bisa tiap hari sama Oppa. Seru banget.” Olla bicara bahasa kepadaku. Aku meringis lebar ke mereka.


“Oppa yang ini ngasih kerjaan tiap hari Kak. Kejam lagi, gak ada seru-serunya.” Aku panggil Kakak  saja sepertinya mereka lebih tua, lebih berpengalaman. Lebih segala-galanya.


“Setidaknya gak sepet-sepet amat ya say, bisa cuci mata.” Dia menanggapiku sambil mengedipkan matanya, aku hanya bisa tersenyum. “Ya sudahlah, nanti tolong dibantu ya Dok. Aku runding dulu ama keluarga kapan.”


“Baik, kabarkan saja Kak. Nanti  kalau udah fix, saya kasih jadwal 1x pemeriksaan sebelum operasi  setelah tanggal ditentukan.” Aku membukakan pintu mengantar mereka pergi.


“Dasar sugar baby.” Pintu tertutup, aku kembali ke dalam dan menggerutu.


“Kau akan  sering menghadapi yang seperti itu. Jangan sampai kau memberikan mereka pandangan meremehkan, kau harus ingat  bersikap ramah kepada siapapun, tidak mencoba menghakimi apapun.” Oppa mengingatkanku.

__ADS_1


“Aku tahu Dok.” Aku melengkapi keterangan di sheet pemeriksaan Carla.


Pintu diketuk oleh seseorang. Dokter  Maria,seorang dokter dari bagian bedah umum.


“Dokter Joshua, ayo saya mau traktir makan siang nih.” Seorang dokter cantik dari bagian bedah umum  menyapanya.  Kok bisa? Dia ramah sekali? Ada hubungan apa mereka, Dokter Joshua cuma satu kali membantunya konsultasi menangani kasus rhinopyhma yang sangat jarang disini. Pikiranku langsung  berpikir mereka pasti sering ngobrol chat, lalu janjian makan, aku aja gak pernah sengaja chat lama-lama sama dia, sengaja Dokter Maria ngajak dia makan. Langsung kesal.


“Ohhh,  dokter Maria. Oke, sebentar.” Oppa langsung okein ajakannya.


“Saya tunggu di depan ya Dok...” Dia melambai sambil tersenyum manis.


“Really...” Aku tiba-tiba membuat gerutuan pelan. Dia menatapku, aku tak melihatnya masih menyelesaikan catatan pasien.


“Ya, ada yang salah?” Dia tak  mengerti kalimatku.


Aku mengepalkan tangan. Aku tak bisa punya hak bertanya tentu saja. Kami tak punya hubungan apapun. Dan tiba-tiba itu rasanya membuatku tertekan.  Rasa cemburu melihat  dia makan siang dengan yang lain, mengobrol dengan dokter yang lain, tapi kau tahu kau tak punya hak menanyakan apapun.


“Tidak, aku hanya teringat sesuatu. Aku keluar dulu Dok.” Mataku berkabut, dan  aku merasa sangat bodoh. Mungkin dokter Maria hanya ingin menyatakan terima kasih karena bantuan Oppa, tapi aku yang langsung terpancing. Jatuh cinta memang bodoh. Aku merasa bodoh...


Dia kembali makan siang, aku berusaha terlihat biasa saja. Aku berusaha! Aku sungguh berusaha, tapi mungkin ini bukan hari terbaikku dalam berusaha atau PMS itu terlalu menjadi pemicu berbahaya bagi kestabilan mood seseorang.


“Yuna, kau tahu pasien dokter Maria  kemarin, ini foto setelah operasi pertamanya.” Aku melihat fotonya dengan tak tertarik. “Dia melakukannya dengan baik.” Puji aja terus. Aku tak berkata apapun, kita punya satu konsultasi jam setengah dua.


“Ok,...” Dia masih melihat gambar-gambar dari dokter Maria. Aku membayangkan apa sih yang bagus dari gambar kelebihan jaringan plus isinya mungkin keju. ( Kami para dokter menyebut lemak/nanah atau bagian tubuh yang lain  menjadi semacam makanan)


"Apa yang istimewa dari itu?"


"Apa maksudmu? Tidak ada yang istimewa hanya ini kasus langka." Aku mendengus sambil tersenyum sinis.


"Ada apa denganmu? Kau terlihat kesal dari tadi?"


"Nothing..." Sekarang Oppa melihat ke arahku, kadang aku di berada titik putus asa. Apa ini akan berhasil pada akhirnya. Apa dia akan menganggap keberadaanku, mamahami perasaanku. Kadang aku merasa dia dekat tapi begitu jauh dijangkau.


"Ada apa? Kau bisa cerita?" Sekarang dia malah bertanya dengan penuh perhatian.


"I just can't tell you Doc."


"Kenapa? Kau tidak percaya padaku?" Aku menghela napas panjang mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


"Sometimes I just hate my self."


"Why you hate yourself?"


"Karena kadang aku berpikir aku bodoh." Dia mengangkat bahunya.


"Semua dari kita pernah melakukan hal bodoh. Kau hanya harus terus hidup untuk menertawakannya." Aku melihatnya yang tersenyum sambil memainkan pulpennya.



"Kau punya nilai bagus waktu kuliah filsafat, bukan begitu Doc?" Aku membalik pernyataannya.


"Ini bukan tentang aku, ini tentang kau princess... Why not you... just speak up. Maybe I can give you some perspective."


"I'm definitely not princess, never believe that, I never see prince come to save me, I don't need some perspective..."


*Aku tentu saja bukan princess, aku tak percaya cerita putri. Aku tidak pernah melihat pangeran datang menyelamatkanku, saya gak perlu sudut pandang.


"Setiap wanita ingin menjadi putri. Kau sering melihat tendensi putri disini. Anggap saja aku kakak laki-lakimu, kau bisa cerita apapun..." Kakak laki-laki, jadi dia menganggapku sebagai adik kecilnya.


He never considered be my prince? Huh, never mind. I'm Queen, I need King not his son. That's perspective. **


**Tidak mempertimbangkan menjadi pangeranku? Tidak apa. Saya Ratu, Saya butuh Raja bukan anaknya. Itu sebuah sudut pandang


Aku tak menjawabnya lagi karena dia menganggapku sebagai adik kecilnya. Dengan semua wanita dewasa penggoda yang jadi pasiennya, dia menganggapku adik kecil yang masih naif. Bukan begitu?! Aku bahkan tak dianggap sebagai wanita tapi gadis kecil?!


"Kau masih tak mau cerita?"


"Terserah!"


"What?" Dia tak mengerti apa yang kukatakan tentu saja.


Dan aku meninggalkannya sendiri untuk memanggil pasien berikutnya.


He consider me 24 years old woman as a little princess with ponytail riding an unicorn?!


Now, I hate you Oppa.

__ADS_1


* Dia melihatku 24 tahun sebagai putri kecil dengan ekor kuda mengendarai unicorn. Aku membencimu Oppa*


__ADS_2