
Kurasa hari ini berlalu bagai mimpi, upacara pernikahan kecil yang membuatmu meneteskan air mata, terharu melihat Ibumu meneteskan air mata bahagia dan akhirnya bisa membuatnya tak kuatir lagi. Teman-teman yang datang memberimu selamat. Terasa bagai mimpi. Aku sekarang adalah seorang istri dan punya seorang suami disampingku. Bambang yang menumpahkan kopi dibajuku beberapa bulan yang lalu, orang yang kusebut sebagai manusia kuno di hari pertama pertemuan kami adalah suamiku sekarang. Sepertinya cerita cinta kami akan sangat menarik diceritakan nanti.
Acara jamuan malam sudah selesai dan kami kembali ke sebuah hotel yang menjadi kamar pengantin kami. Aku mulai berdebar tak keruan disampingnya saat menuju kamar kami.
“Kenapa kau diam sekali, kuingat sepanjang siang dan malam ini kau sangat ramai.” Dia menarikku dalam pelukannya saat pintu tertutup. Padahal dia masih dalam jasnya dan aku masih dalam gaun pengantinku.
“Tak apa, aku hanya kehabisan energi.”
“Kau masih lapar, mungkin kita bisa keluar lagi mencari makanan.”
“Tidak, aku hanya terlalu gembira sepanjang hari.” Aku melihat matanya dan tersenyum begitu saja, dia tampak tampan sekarang. Brewoknya dibiarkan sedikit tumbuh dan membuat jariku tak bisa bertahan untuk tidak menyentuhnya.
“Kau belum menciumku hari ini...”
“Sudah tadi di wedding kiss,...” Wajahku mamanas begitu saja.
“Itu tidak dihitung sayang. Tidak sampai tiga detik,...”
“Memalukan berciuman didepan umum Bambang.”
“Begitu. Aku tadi sangat berharap makan malamnya cepat selesai...” Aku juga berharap sama. Aku hanya ingin punya waktu berdua dengannya secepatnya. Aku menciumnya dengan tak sabar, dan dia tergesa membalas ciumanku, kami memang kelaparan tapi oleh sesuatu yang lain. Terengah oleh keinginan kami sendiri, ini benar-benar menyiksa. Tangannya melepas jasnya dan melemparkannya sembarang ke sofa,mengapai bukaan gaunku.
“Aku harus membersihkan make upku, dulu...” Aku menghentikannya. “Bagaimana kalau kau mandi duluan...” Aku sedikit menawar, walaupun mengerti dia sama tak sabarnya denganku. Tapi kami akan punya banyak waktu nanti...
“Baiklah, jangan lama-lama...” Kilatan dimatanya membuatku merasa ditelanjangi. Dia masuk kamar mandi sementara aku membereskan make upku. Dan bersedia menungguku bergiliran mandi. Untunglah dia tidak memintaku ke kamar mandi bersamanya. Entah kenapa ini begitu mendebarkan tapi juga terasa manis. Saat aku keluar dengan kimono tidurku dia membuka sebuah botol champagne. Aku menerima gelas sparkling wine istimewa itu dengan tersenyum.
“Bersulang sayang, untuk gelar baru kita...” Aku tertawa ketika gelas kami berdenting.
__ADS_1
“Untuk gelar baru kita...” Tak butuh lama untuk dia menarikku ke sofa dan tenggelam ke kehangatan lengannya, menikmati manisnya anggur manis itu.
“Apa kau bahagia?” Sebuah pertanyaan yang membuatku memandangnya.
“Sangat...” Dan pertanyaannya ingin membuatku menciumnya kembali, merasakan wangi anggur yang tertinggal di bibirnya. Menangkup wajahnya membiarkan tanganku memeluk tengkuknya. Dia mengambil gelasku dan menarikku ke pangkuannya, berhadapan seperti ini membuat semuanya terlalu menggoda. Aku menyentuh bibirnya dengan lembut, tapi dia tidak membalasnya, dia hanya mengunci pinggangku di pangkuannya membuatku gemas ingin merasakan balasan ciumannya lagi, sekarang aku mengunci tengkuknya, mengambil ciumanku dan merasakan dia mulai membalasku.
Udara memanas dengan cepat ketika ciuman berubah menjadi cumbuan. Membuat sarafmu terlalu perasa dan tubuhmu terlalu mendamba dan kau tak bisa mengendalikan suaramu lagi yang menginginkan dia melakukan lebih banyak. Dan tak lama untuk mendapatkan kami sudah berada di ranjang pengantin kami mengapai satu sama lain.
“Kau tahu, aku tak akan pelan-pelan padamu. Ini karena kau membuatku terlalu bersabar... Liat aku sayang.” Sebuah godaan yang terlalu sulit ditanggung menyentuhku perlahan dan aku juga menginginkannya setelah sekian lama. Sebuah perasaan sakit diawalnya tapi membuat napasmu tercekat, ketika dia membuat bagian dari dirinya menjadi bagian dari diriku.
“Vin...” Dia memelukku erat dan menghela napas ketika aku juga memeluknya dengan erat dibawah sana.
“Kau benar-benar ingin membunuhku.” Aku tertawa karena dia menyukainya\, ciuman gemasnya dan gerakannya membuatku pasrah menerima apa yang diberikannya\, hanya desaha*nku yang menandakan aku menginginkan lebih lagi\, ketika aku terlempar ke awang-awang\, tubuhku kecanduan akan dirinya\, punggungku melengkung dengan p*uas dan waktu tiba-tiba terasa berhenti. Semuanya terasa sangat manis\, tak lama dia menumpahkan dirinya dalam diriku dan membuat semuanya sempurna malam itu.
“Apa aku terlalu terburu-buru.” Aku menggeleng ketika napas kami menjadi normal, kehangatan yang dibuatnya terasa mengalir, membuatku bergegas membersihkan diri dan kembali kepelukannya kemudian, bergelung ke pelukannya kembali, menyukai rasanya menjadi begitu dekat dengannya.
“Kau begitu cantik dengan wajah meronamu itu, aku terlalu mencintaimu sekarang.” Tangannya bergerak, semua tubuhnya sekarang membuatku tergoda lagi, bahkan gesekan kecil dari dagunya dikulitku membuat napasku tertahan.
“Kau begitu m*esum.” Giliran aku tak bisa menolaknya, tadi memang terlalu cepat, karena pikiran kami tak bisa bertahan lagi atas godaan besarnya.
“Kau membuatku menunggu sekian lama memimpikanmu terlalu banyak...” Dia bergerak menguasaiku lagi, membuatku jengah dan tubuhku terusik kembali.
“Bambang, ngapain, aduh...ishhh” Aku terkejut dengan cepatnya dia bisa menguasaiku lagi, kali ini dia memelukku dari belakang,menekan pinggulku dan membuat mataku terpejam atas sensasi yang dibuatnya.
“Aku mencintaimu istriku sayang,...” Perkataannya dibarengi dengan ciuman ke tengkukku.
“Perkataan laki-laki di ranjang itu mempunyai tujuan berbahaya.Tak bisa dipercaya. Apa yang sedang kau lakukan,lepaskan.. ” Aku mencoba melepaskan diri, tapi apa daya antara mulut menolak dan tubuh menginginkan menjadi satu itu terlalu menyiksa.
__ADS_1
“Kau benar, aku berbahaya, kali ini memakai suntikan dengan dosis lebih kuat.” Sebuah hentakan membuatku bungkam.
“Aku suka dosis lebih tinggi Dokter Bambang.” Aku tertawa dia masih mengingat lelucon panas itu.
“Ini bisa membuatmu berakhir di rumah sakit sembilan bulan kemudian sayang. Hati-hati dengan permintaanmu. Tapi biarkan kita pacaran sedikit lebih lama oke, aku masih merindukanmu.”
“Kata Mamamu jangan kama-lama. Aku bisa ditelepon satu bulan sekali nanti.” Dia tertawa kecil, tapi tak butuh waktu lama untuk membuat kami terdiam lagi, aku menyukai bagaimana dia bersabar kali ini, membuatku merasa diperhatikan sepenuhnya dan akhirnya melambung untuk kedua kalinya.
“Aku mengantuk,...”
“Tidurlah. Kau pasti lelah...” Sebuah kecupan kecil terasa dikeningku membuatku tersenyum kecil sambil menutup mata. Ini aneh, tapi nanti aku akan terbiasa, ada seseorang disampingku.
Malam ini dan seterusnya aku tak akan sendiri lagi. Ada seseorang yang menemaniku berperang melawan kerasnya dunia.
...💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝...
...END SEASON ONE ...
...💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝...
Makasih semuanya sudah nemenin aku nyelesaion season 1
Besok kita ke Joshua dulu yaaa
Ahjussi cute rasa Oppa ini siap menemani hari-hari kamu.
Like comment dan hadiah jangan lupa yaa
__ADS_1
Makasihh banyak semuanya - Ohh yabagi kamu yang baru pertama kali bertemu dengan novelku , sihlakan baca I HATE MY BOSS, atau THE LAW FIRM SERIES , ada hubungannya dengan novel ini