
“Aku mau bicara denganmu dulu oke, nanti pulang kita bicara dulu. Aku akan membelikanmu tiketnya nanti malam.” Dia menatap dengan menyelidik.
“Baiklah, kita bicara nanti.” Dia setuju dan tersenyum. Syukurlah dia hanya emosional semalam. Tapi dia berniat langsung ikut... Aku harus mencari kata-kata yang tepat untuk bicara dengannya.
\=====
“Oppa, apa yang ingin kau bicarakan. Lebih baik kau beli tiketnya dulu. Kalau tidak aku tak akan percaya padamu lagi...”Dia duduk di sofa apartmentku dan mengingatkanku lagi pada janjiku.
Aku menariknya ke duduk pangkuanku dan mengunci pinggangnya. Gadis pemaksa ini tahu bagaimana membuat semua keinginannya dijalankan.
“Ki**ss me...” Gadis ini membuatku sakit kepala semalam. Kadangkala aku bertanya kenapa aku bisa dijodohkan dengan dia oleh semesta ini.
__ADS_1
“Ki**ss you?” Dia melakukannya, sebuah kecupan cepat dan ringan. Sama sekali tidak berniat menciumku.
“Kau sudah memikirkan soal anak, tapi menciumku saja kau tidak rela... Bagaimana kau pikir kau bisa mendapatkan anak dariku? Kau yakin kau bisa?”
“Oppaaa...” Mukanya memerah begitu saja karena perkatanku, aku senang bisa membalasnya.
“Ki**ss me honey, bukankah kau berkata kau mencintaiku...” Sekarang aku yang mengambil inisiatif , membuat tubuhnya mendekat dan mencium bibir lembutnya itu. Gadis ini sudah memikirkan anak kami, apa dia tahu artinya itu... Tukang memaksa, kenapa aku jatuh cinta pada gadis serumit ini.
“Oppa...” Dia menggeliat ketika aku membuatnya menekankan diriku padanya, sementara dia antara mau menolak, tapi tubuhnya menginginkanku.
“Hmm...”Aku tak memperdulikan rengekannya. Sekarang aku membalik posisinya dan membuat dia terbaring di sofa besar itu.
__ADS_1
“Oppa kau sudah berjanji...” Dia menghentikanku ketika roknya terangkat, sementara aku di posisi membutuhkan dirinya untuk melepas diriku.
“Aku tak akan menyentuh yang tak boleh kusentuh.Kau bisa percaya padaku, ini kesalahanmu juga, kau membuatku pusing dari kemarin, tukang memaksa, kau sudah berani bicara tentang anak bukan, kenapa kau tidak menerima akibatnya...” Dengan tak sabar kukembalikan tangannya saat aku menekankan diriku yang sudah berada diatasnya, dan dia pun tak bisa menahan desahannya, gadis ini dia juga tak bisa menyangkal dia menikmatinya. Tak butuh waktu lama untuk melepaskan ketengangan itu tanpa menyentuhnya, walaupun aku mengacaukan bajunya sepenuhnya, membuat beberapa tanda di dadanya, dan membuat rambutnya sedikit kusut dan akhirnya dia hanya menatapku dengan muka yang memerah.
“Sekarang kau sudah melewati tutorial pertama mendapatkan anak. Walaupun itu bukan yang sebenarnya, bukan pertama kali kau melihatnya bukan, katamu kau sudah berpengalaman pacaran...” Aku memang sengaja menggodanya, membuatnya tak mampu menentang mataku. Mambuatnya menyadari kadang dia harus hati-hati memaksaku dan berusahan membuat semuanya harus sesuai rencananya.
“Oppa,...” Sekarang kupingnya ikut merah, membuatku dengan gemas menciumnya. “Gadis licik. Katakan kau benar-benar tega meminta putus padaku hanya karena satu kali pertengkaran yang bisa dibicarakan. Kau pikir kau bisa minta putus seenakmu, jika jadi istriku, apa kau bisa bilang putus juga?”
“Karena aku merasa kau tak menganggapku, setelah aku berusaha begitu banyak, apa itu belum cukup untukmu...” Tangan kecilnya memukul dadaku. Aku menangkapnya dan menciumnya lagi,...
__ADS_1