
Saat dia berkata dia mencintaiku rasanya aku ingin menangis. Menangis karena terlalu bahagia. Semalaman aku menangis dan tak bisa tidur karena patah hati, tapi sekarang setelah mengetahui alasan sebenarnya aku memaafkannya.
“Oppa, pesankan tiketnya untukku. Atau berikan aku jadwalnya aku bisa pesan pesan tiket yang sama.”
“Kau sudah punya visa?”
“Aku masih punya multiple Visa yang baru habis berlakunya dua tahun lagi.”
“Ohhh...” Multiple visa ini berlaku untuk 5 tahun, jauh lebih murah jika kau sering kesana. Pengajuan Multiple Visa hanya bisa dilakukan untuk kamu yang sudah pernah pergi ke Korea Selatan sebanyak 2x atau pernah ke Amerika Serikat.
“Baiklah, ini jadwalku. Pesanlah...nanti kubayarkan ke rekeningmu harga tiketnya.” Dia mengambil ponselnya dan memforward email tiketnya padaku, yang membuatku menciumnya dengan segera.
“I love you...”
__ADS_1
“Love you too...” Dia tidak segan lagi mengatakan dia mencintaiku.
Betapa bahagia perasaanku malam ini.
\======ooo======
Aku mendengar seseorang terisak menangis. Toilet di ujung lantai bagian kami ini memang tak begitu ramai, kadang bisa berjam-jam tanpa orang, petugas kebersihanpun jarang mengecek karena tahu sepi. Aku menemukannya dan sering memakainya untuk berdandan yang memerlukan konsentrasi dan tak terganggu dengan orang yang lalu lalang.
Tapi kemudian isakannya berhenti kerena mungkin menyadari ada seseorang masuk. Mungkin harinya sedang berat, mungkin dia hanya perlu waktu buat dirinya sendiri, mungkin sedang putus cinta ... hmmm seperti aku kemarin. Untuk apapun aku merasa kasihan padanya.
Tak lama seorang keluar, seorang wanita cantik dengan baju kemeja putih panjang, aku melihatnya di kaca keluar. Aku mengenalnya dia seorang dokter disini, tapi aku tak mengingat bagiannya. Dia membawa sesuatu berwarna bercak merah, tissue, hmm... dia terluka. Mukanya kacau, benar dia habis menangis. Tapi darah apa... yang terjadi.
Itu sebelum aku tiba-tiba melihat lengannya ternoda darah saat dia mencuci tangan, ada garis-garis merah belum kering terlihat dia pergelangan tangannya. Aku membuat kesimpulan...
__ADS_1
“Jangan bodoh, semua ada penyelesaiannya, kenapa kau membahayakan dirimu sendiri. Apa kau berusaha bunuh diri?” Aku langsung bicara padanya. Kenapa dokter seperti dia berusaha menempuh jalan pintas.
“Apa yang kau katakan?” Dia melihatku, dia menyangka aku tak memperhatikannya. Aku mengambil tangannya, membuka lengannya, memperlihatkan luka yang baru saja dibuatnya.
“Jangan bodoh! Kau tahu mengiris lenganmu tak akan membuatmu mati, ...Kau dokter bukan?” Sebenarnya mengiris pergelangan tangan dalammu tak akan cukup membuatmu mati, masih banyak cara mati yang lebih cepat. Selain karena arterinya letaknya dalam, kau harus menyiksa dirimu dengan mengiris cukup dalam sampai mencapai pembuluh darah yang akan mengeringkan darahmu hingga mati. Kecuali kau menusuknya sampai robek ke arteri.
“Lepas, ini bukan urusanmu.” Ehm dia tidak seperti orang yang ingin bunuh diri. Kemudian kusadari ada bekas lain juga samar tadi, jadi berarti dia...
“Kau melukai dirimu sendiri...”
“Sekali lagi ini bukan urusanmu.” Gadis itu memotongku dengan cepat dan pergi. Aku jadi ingat sedikit materi psikologiku dengan self injury ini. Mereka melakukannya untuk melepaskan tekanan perasaan, rasa sakit dari mengiris diri ini adalah kebiasaan, kebanyakan dari mereka tertutup dan sulit bercerita kepada orang lain.
Aku tak tahu dia siapa, tapi pasti salah seorang dokter juga disini. Tapi membuka kasusnya juga berarti tekanan besar untuknya, bisa-bisa kredibilitasnya dipertanyakan. Lagipula mungkin dia tak mungkin membahayakan dirinya sendiri. Sudahlah siapapun dia mungkin ini bukan urusanku.
__ADS_1