
“Kau baik-baik saja, ...” Oppa melihatku yang sudah duduk kelelahan.
“Kakiku sakit oleh heelsnya.”
“Semua sudah pulang, kau sudah bisa ganti baju biasa,... “
“Kak Yuna, ayo kami bantu ganti, tinggal beresin gaun kakak, ini bajunya udah sama saya.” Dan mereka membantuku menganti bajuku kemudian. Membuatku merasa lega akhirnya seperti melepaskan beban bawaan berkilo-kilo. Ball gown itu memang cukup berat, tapi aku menyukainya.
“Ayo, kita kembali...” WO membereskan gaun kami, memasukkannya ke dalam mobil, Oppa juga sudah melepas jasnya dan menggulungnya kemejanya sampai siku sekarang. Aku masuk ke dalam mobil dengan menghela napas panjang.
“Akhirnya selesai....”
“Hmm...akhirnya selesai.” Kami berkendara kembali ke hotel yang tidak jauh dari tempat acara. Sudah jam 11 malam, aku merasa lelah, tapi tetap sangat bahagia dengan semua yang terjadi hari ini. Semuanya berjalan lancar, semua orang merasa gembira dan aku bersyukur telah sampai disini akhirnya, sebuah cincin melingkar di jari manisku sekarang, aku akan memulai sebuah awal yang baru. Awal yang baru untuk kami berdua, aku memutar cincin di jari manisku.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan sayang...” Oppa menyentuh tanganku ditengah lamunanku.
“Tak ada, hanya bersyukur semuanya berjalan lancar hari ini. ” Aku membiarkan diriku bersandar ke lengannya sementara jari-jari tanganku menggengam tangannya.
“Apa yang kau pikirkan Oppa...” Aku yang sekarang bertanya padanya.
“Semoga kita berdua tetap bersama dan melihat cucu kita. 사랑해 너만을 saranghae neomaneul (aku mencintaimu, hanya kamu.” Sebuah bait terakhir dalam lagu kami adalah sebuah harapan. Aku menutup mataku dan sejenak hanya bersandar bersamanya. Tanpa membicarakan apapun, merasa bahagia akan masa depan kami.
Tak terasa kami dengan cepat sampai ke hotel. Aku mulai berdebar sekarang, ketika dia menggandeng tanganku, aku menjadi gugup, padahal kupikir aku akan biasa saja, tapi ternyata diantara kelelahanku aku sekarang berdebar juga walaupun Oppa terlihat biasa saja.
“Kau ingin mandi duluan?”
__ADS_1
“Aku ingin melepaskan jepit rambut dulu...” Beberapa jepit rambut masih tertinggal. Aku perlu waktu didepan meja rias untuk melepaskannya dan membersihkan seluruh make upku.
“Baiklah, ...” Dia masuk kamar mandi duluan. Dan saat dia keluar aku dengan cepat mengantikannya masuk ke kamar mandi tanpa berani melihatnya. Dan setelah selesai, dengan kimono tidur yang cukup sopan itu aku kembali ke kamar. Udara terasa dingin, AC hotel ini membuat orang kedinginan sementara sekarang jantungku berdebar tak keruan dan pipiku panas, dia melihatku dan tersenyum
“Kemarilah...” Dia menepuk bed disampingnya, aku duduk disampingnya dengan jantung berdebar. “Tanganmu dingin sekali...”
“AC-nya dingin sekali.” Dia melihatku yang tersipu ada didekatnya.
“Kau yakin kau baik-baik saja. Kau tak takut padaku kan...”
“Oppa kau membuatku gugup.” Dia malah tertawa dan dia sekarang merangkul pinggangku, membawaku dekat dengan tubuhnya. Panas tubuhnya dan pelukannya membuatku sedikit tenang.
“Ohh ayolah... biasanya kau suka menggodaku, sekarang kenapa kau tak melakukannya lagi.” Aku tersenyum lebar, iya biasanya aku suka melihatnya menahan dirinya, tapi sekarang dia akan membalasku untuk itu.Sebuah ciuman kecil menyasarku kemudian. Hanya sebentar membuatku menginginkan lebih banyak lagi. “Jika kau tidak mau sekarang...tidak apa, tunggu moodmu sedang bagus saja. Aku tak masalah. Bagaimana kalau kita tidur saja..”
__ADS_1