Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 1 Part 35. Aku Siap


__ADS_3

“Besok harinya, deg-degan?” Bambang dan aku akhirnya bisa bicara  diantara persiapan kami yang sudah selesai sore ini. Setelah lamaran sederhana, kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya berdua dengan perencana pernikahan. Pernikahan kecil yang hanya mengundang teman-teman dekat dan keluarga sudah cukup buat kami.


Dan besok adalah hari pernikahan kami, karena kami menyiapkan hanya sedikit undangan dan WO yang sudah profesional membantu kami, bahkan kami tak membuat foto prewedding heboh, hanya foto dalam studio yang memakan waktu tak lebih dari setengah hari. Beberapa hal lainnya diatur sesimple mungkin, walaupun tetap memakan waktu tapi tidak begitu rumit dan bisa dilalui tanpa merasa terbeban. Rasanya bahkan menyenangkan melalui prosesnya bersama. Sangat berbeda dengan pernikahan pertama dimana upacaranya lebih besar dan rumit.


“Hmm... sebenernya engga sih, tapi rasanya tetap menyenangkan persiapannya. Aneh ya gak deg-degan, seneng aja tapi kalo deg-degan enggak terlalu kayanya sih.”


“Mungkin karena kita pernah di sini sebelumnya, atau pikiran kita berbeda dari sepuluh tahun yang lalu. Tapi besok kamu akan jadi istriku, mempunyai kau saat pulang kerumah itu rasanya membahagiakan. Aku tak merasa kehilangan setiap kau pergi, itu menyiksa sebenarnya. Jika tiga bulan bisa dipersingkat tiga minggu akan lebih baik. Tapi mulai besok kita akan selalu bersama...”


“Sebenernya aku takut. Takut kita berubah suatu saat, takut masalah bikin kita benci satu sama lain. Berjanjilah satu hal...” Aku mengenggam tangannya.


“Apa?”


“Jangan pernah bilang aku akan lebih  bahagia jika tidak bersamamu.” Dia merangkulku.


“Aku tahu itu kata-kata itu salah... Tidak, kondisi sekarang beda, aku tahu tanggung jawabku. Dulu aku merasa terganggu dengan kewajiban sebagai keluarga, aku melakukannya untuk membuat Mama bahagia, bukan karena aku siap sepenuhnya,  aku sama sekali tak tahu apa yang aku hadapi, saat itu kami masih sama-sama muda dan punya harapan berbeda satu sama lain. Atau mungkin memang pribadi kita tidak cocok satu sama lain, kupikir cinta bisa mengatasinya diawal tapi ternyata  tidak. Tapi sekarang hidupku tak berarti tanpa kau dan anak-anak dimasa depan kita. Entahlah jika dipikir-pikir semuanya sangat salah saat  itu...”

__ADS_1


“Mantan istrimu datang nanti?” Apa dia sudah berdamai dengan istrinya.


“Hmm dia bersedia datang. Dia mengundangku saat dia menikah enam tahun yang lalu, kami pernah bicara panjang lebar saat semuanya sudah mereda, saat dia akhirnya berbahagia, aku ikut senang dia menemukan seseorang. Dan aku yakin saat dia bersedia mengundangku, dia pun mengerti akhirnya kenapa aku tak pernah menyesali keputusan perceraian kami. Mungkin bisa dikatakan kami telah berdamai. Tapi sudahlah kita tidak usah membicarakan hal-hal masa lalu. Semuanya sudah berakhir. Sekarang  hanya kita berdua.”


“Hanya kita berdua...” Aku memegang tangannya sekarang.


“Kita berdua mulai besok. Dan seterusnya sampai akhir, semoga Tuhan mengizinkan itu terjadi dan kita akan berusaha tetap bertahan di masa-masa terberat  kita. Dalam suka maupun duka, ...”


“Gak ada kata -kamu akan lebih bahagia tanpa aku-. Jika kau berani mengucapkan kata itu, aku akan membuatmu sengsara aku janji. Jika kamu berani punya selir satu, kaya mantan  aku, mungkin aku bakal nyari PIL dua juga...”


“Pria Idaman Lain....” Langsung dia ngakak.


“Tukang  ngancem nomor wahid.” Dia menoel hidungku, aku tersenyum.


“Apa ketakutan terbesarmu?” Sekarang giliran dia bertanya. Aku berpikir  sesaat sebelum mengakuinya.

__ADS_1


“Gagal karena hal yang sama, tapi sekarang aku paham satu hal, seseorang hanya bisa mengendalikan diri sendiri bukan mengendalikan orang lain. Jika masing-masing dari kita berusaha saling menghormati dan menjaga, berbicara dengan tenang  demi keluarga, semua pasti bisa kita lalui.  Jika seseorang dari kita berkhianat dan menyembunyikannya, yang menanggungnya adalah orang itu sendiri, tanggung jawabnya bukan ke pasangannya lagi, tapi langsung ke Sang Pencipta. Aku tidak suka mengawasi orang dekat, aku percaya padamu. Dulu aku masih muda, aku masih sanggup keluar dan mulai dari awal. Mungkin entah bagaimana  nanti saat aku di posisi sudah punya anak, aku tidak muda lagi, mungkin kau main serong dengan wanita lain, aku akan memilih diam dan bertahan , demi kebahagiaan anak, perilakumu mungkin akan membuat hubungan kita berubah selamanya. Tapi aku akan  tetap disana,  aku bukan hakimmu lagi, aku menyerah menghakimi, mungkin  aku akan bermain sandiwara, entah apa kita akan pernah sama lagi, entah apa aku bisa memaafkan atau entah apa aku sendiri  bisa bersikap benar, aku tak tahu, mungkin aku hanya hidup menjalankan kewajipanku sebagai Ibu, tapi kuharap kita tak pernah jatuh ke  dalam masalah itu...”


Dia diam melihatku.


“Aku tahu apa yang kau bicarakan. Aku juga punya ketakutan bahwa aku terlalu biasa, kadang  terlalu egois, mengejar apa targetku sendiri seperti dulu, mungkin entah bagaimana jatuh seperti katamu, terlalu tak mengerti kebutuhan wanita sehingga pasanganku tak bahagia dan seterusnya. Kata Papa cinta itu sementara, tapi kasih itu kekal. Jika kau ingin memberikan kasih kepada keluargamu, kau akan selalu bertindak benar, aku hanya ingin kehidupan tenang, jauh dari pertengkaran. Punya anak yang kusayangi seperti orang tua yang lain, lagipula aku benar-benar tidak suka fluktuasi perasaan, kau tahu merindukan seseorang itu bisa membuatmu sulit bekerja. Tidak tenang saja, aku tak punya cita-cita bikin harem seperti mantanmu...” Giliran aku yang tersenyum sekarang.


“Kupikir kita berdua punya pemahaman yang sama soal keluarga tenang tempat anak-anak kita bukan. Kita akan baik-baik saja, walaupun kadang aku membuatmu kesal sedikit... ya tapi kita akan baik-baik saja.” Aku menggengam tangannya mendengar tambahan perkataannya.


“Kita berdua akan berusaha membuat semuanya baik-baik saja.” Aku menyetujuinya, entah kenapa ketakutanku  berkurang mendengarnya. Tidak ada yang mudah, selama kita hidup pasti ada masalah, tapi mendengar bahwa masing-masing dari kami punya keinginan yang baik untuk selalu hidup damai jauh dari pertengkaran itu sudah cukup.


“Sekarang kau siap buat besok...” Dia bertanya sambil menggengam tanganku.


“Aku siap.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2