
“Apa yang sengaja?”
“Membuatku cemburu dengan Ryan...”
“Apa kau cemburu?” Aku mengulum senyumku.
“Lebih dari yang kau bayangkan.” Dia menatapku dan membuatku tak sanggup membalas tatapannya.
“Benarkah...” Dan aku memainkan jari-jarinya. Kusadari dia masih memakai cincin di tangan kanannya. “Ini cincin pernikahan-mu?”
“Iya,...” Dia menatap cincin putih itu dan sesaat kemudian dengan tangan yang lain melepasnya. Tapi dia kemudian tak sanggup bicara. “Sudah tiga tahun...aku belum bisa melepas ini. Tapi kurasa sekarang aku harus melepaskan mereka, membiarkan mereka beristirahat dengan tenang....” Aku hanya bisa mengelus bahunya. Ikut merasakan mataku memanas dan kesedihan dalam pelan suaranya.
“Semoga mereka beristirahat dengan tenang...” Aku mengucapkan doaku untuk jiwa yang telah pergi.
__ADS_1
“Beristirahatlah dengan tenang.” Dia meraba ukiran di cincin itu dan mengucapkan doanya sendiri. Dan kemudian menyimpannya di sakunya dan sesaat terpekur tanpa mengucapkan apapun.
“Seperti apa istrimu...” Oppa tertawa kecil dengan pertanyaanku. Dia terlihat mengingat sebentar.
“Setengahnya sepertimu, cerewet, detail, seperti matahari, suka memancing, licik...” Dia melihatku yang memperhatikan ucapannya dengan terperangah. “Aku bukan menyamakan kalian, aku tahu kalian adalah orang yang berbeda, tapi kadang melihat sikapmu, membuatku teringat akan dia...” Dia manambahkan perkataannya dengan cepat.
“Ohhh,...” Jadi begitu ternyata.
“Jangan salah paham atau marah, sekali lagi, kau tetaplah kau. Aku tak pernah memandangmu sebagai pengganti Hyeri...”
“Kau yakin mau terlibat denganku seperti ini. Apa yang kau lihat dariku. Jujurlah alasanmu, Leo dan Ryan penggemarmu itu jauh lebih ganteng, lebih muda dariku...” Sekarang dia bertanya lagi dan menginginkan alasan... Pembicaraan ini benar-benar sesuatu. Pacaran dengan yang lebih muda tentu saja tak pernah membicarakan hal yang seperti ini.
“Aku jatuh cinta pada betapa kau menghargai keluargamu. Tidak seperti Ayah yang tidak pernah kudapatkan. Bukan menganggapmu sebagai pengganti sosok Ayah, aku hanya yakin kau adalah Ayah yang hebat, dan tak akan meninggalkan keluarga, kita tidak akan bertengkar banyak, karena kau bisa memahami lebih baik dari yang seumurku, tidak berusaha menjadi egois, punya pengalaman lebih baik, bisa mengimbangi aku yang terkadang masih meledak-ledak. Itu alasanku mungkin... aku sudah bilang aku punya banyak pengalaman pacaran dengan seumurku. Dan semuanya tidak berakhir dengan baik...”
__ADS_1
“Aku manusia, punya kelemahan jangan terlalu mengharapkanku sempurna...”
“Tidak, aku bukan mengharapkan seseorang yang sempurna, bukan mengharapkan seseorang yang akan bersikap manis, romantis sepanjang waktu, aku tahu yang seperti itu hanya ada dalam hayalan. Hanya orang yang akan tetap berada di sana bersama aku dan anakku, apapun yang terjadi. Harapanku sederhana sebenarnya. Tapi jika seseorang yang bersamaku sama meledaknya denganku makan sama saja itu tidak akan bertahan lama. Apa itu terlalu berlebihan?”
“Hmm...aku tahu, kita terbiasa satu sama lain seperti keluarga.”
“Aku hanya ingin mengatakan bahwa setiap orang perlu berusaha melakukan yang terbaik di hubungan pribadi mereka, bersikap realistis. Tak selamanya cinta itu berdebar-debar, yang terbaik adalah kau nyaman dan menganggap pasanganmu bagian dari keseharianmu, pulang kerumah, melihat keluargamu baik-baik saja. Itu sudah kebahagiaan, romantis kadang terlupakan...”
"Iya,aku tahu Oppa, debaran itu hanya sesaat. Yang tertinggal hanya rasa terbiasa ada satu sama lain."
Dia tak mengatakan apapun hanya merangkul bahuku kemudian. Kami bersama duduk diam sampai semburat merah itu menghilang. Aku tahu dia perlu waktu untuk mendoakan keluarganya, berbicara dengan kenangan dalam hatinya. Kemudian bisa melangkah lebih tegak dan memegang tanganku lebih erat.
“Baiklah, ayo kita makan. Kau pasti sudah lapar.” Dia menyudahi perenungannya.
__ADS_1
“Ayo.” Dan aku sekarang menyambut tangannya dan siap menemani langkahnya.