
“Hickey.” Aku kelepasan bicara dan melihat Oppa. Aku seharusnya tak melihat ini, jadi semalam, dia tidak menganti bajunya sama sekali, dia bersama wanita itu semalaman. Jadi wanita itu memang istimewa baginya, dia sudah jauh-jauh kesini, mungkin akhirnya dia menerima seseorang. Cepat atau lambat mereka akan bersama.
“Ah, maafkan aku Doc, aku keluar dulu, aku ada pekerjaan yang aku lupa.” Dia terlihat juga terkejut aku menemukan tanda itu, tapi aku juga tahu tak punya hak bicara. Aku berbalik dan langsung keluar ruangan Oppa dengan muka panas plus mata panas. Ini tidak akan berhasil, dia cuma mengganggapku sebagai anak kecil.
Aku menyerah...
Dan aku harus menangis sendiri di toilet sebagai akibatnya. Mama benar soal ini, ini akan hanya membuatku patah hati. Aku mengharapkan seseorang yang tidak akan menganggapku sejak awal. Kami berbeda terlalu jauh. Dan sekarang aku menangis sendiri di toilet menangisi cintaku yang bertepuk sebelah tangan.
Ini tak akan berhasil. Aku tak akan kemana-mana. Bagaimana aku mungkin mengharapkannya, kami memang berbeda terlalu jauh. Sekarang aku harus menghadapi resiko patah hati. Tak ada gunanya aku menangis, lebih baik aku telan kekecewaan ini sendiri. Jadi aku keluar, memperbaiki mukaku dan berusaha menjadi normal lagi. Aku akan terlihat memalukan jika patah hati seperti ini. Aku pergi mengecek pasien.
“Dok, pasien sudah siap.” Kali ini yang akan jadi assisten bukan aku, tapi dokter lain. Aku selesai mengecek persiapan pasien bersama perawat anestesi, aku tidak akan scrub-in , hanya mengecek persiapan.
“Oke, thank you.” Dia pasti melihat mataku yang memerah, tapi dia tidak berkata apapun. Ini lebih baik aku punya waktu lebih untuk mengumpulkan diriku sendiri, setelah jam makan siang aku masih menghadapi tiga konsultasi bersamanya.
Tapi bagaimanapun aku mencoba aku tetap kehilangan diriku setelahnya. Konsentrasiku buyar dan yang kulakukan kebanyakan termenung sambil terisak sendiri. Seseorang masuk dan aku menoleh dengan mata masih berkaca. Ternyata itu Oppa.
“Kau baik-baik saja?” Aku terkejut, ternyata operasinya lebih cepat selesai, kupikir masih paling tidak setengah jam lagi dia masuk keruangan praktek ini.
“Sorry,... aku hanya... Maaf Dok, aku akan mengecek pasien berikutnya.” Aku kehabisan alasan yang aku lakukan sekarang hanya dari ruangannya untuk menghindarinya secepat putri malu yang menutup daunnya.
Dan kemudian di sisa hari aku berusaha bicara seperlunya dengannya. Aku tak sanggup menatapnya dan lebih banyak menghindar, walaupun aku berhasil bersikap seperti biasanya saat konsultasi.
“Dok, saya boleh pulang? Apakah masih ada tugas?”
“Iya pulanglah.”
“Terima kasih.” Dia tidak menahanku. Membuatku nyaman atau mengajakku ngobrol. Tapi mungkin lebih baik begini. Aku tak akan pernah melangkah dari tugasku sebagai assisten lagi.
__ADS_1
Tiga hari kemudian aku duduk di depan Erwin di sebuah restoran Jepang, aku berjanji membantunya memanasi seseorang. Tapi yang kami lakukan hanyalah duduk mengobrol.
“Aku hanya perlu duduk mengobrol denganmu Kak.” Kurasa ngobrol dengan Erwin adalah pengalihan yang bagus.Ketimbang melamun tentang patah hati yang kualami.
“Iya. Dia ada disini bersama temannya. Mengobrolah seperti biasa, tak usah perdulikan dia dimana. Bagaimana kabar dokter Vincent yang kau ingin panasi?” Aku tersenyum getir dan menceritakan semua yang terjadi, sementara dia mendengarkanku.
“Hmm... dia bilang hanya teman? Bagaimana sikapnya beberapa hari ini...”
“Dia berusaha baik seperti biasa, kadang membawakanku makanan beberapa hari ini, mungkin dia langsung merasa bersalah mematahkan hatiku, kurasa sedikit banyak dia tahu, tapi dia hanya menganggapku keponakan kecilnya, dia tak bertanya kenapa aku tak secerewet biasanya padanya, pasti dia tahu aku patah hati padanya. Tapi aku patah hati, bagaimana lagi, aku harus bersikap, aku kecewa ... Aku sudah merelakannya dan bersedia mundur Kak Erwin.” Erwin terdiam mendengar ceritaku.
“Hmm... aku tak melihatnya seperti kau. Mungkin sama sekali tak terlihat seperti yang kau pikirkan. Tapi untuk dia mengetahui perasaanmu, aku yakin dia tahu sepenuhnya, setelah kau tiba-tiba berubah, dia hanya tak yakin pada dirinya...”
“Begitukah?” Aku berpikir aku tak punya harapan lagi tapi rupanya Kak Erwin punya pandangan yang berbeda.
“Sisi psikologis wanita dan pria berbeda. S**x bukan tanda Oppamu mencintainya, bagi kebanyakan pria pun begitu. S**x bisa jadi hanya some...vocational needs bagi mereka, lagipula mungkin mereka benar-benar teman. Terlebih mereka di Korea, nilai value pernikahan sudah banyak berubah, kebanyakan wanita disana berpikir lebih terbuka, kau tahu maksudku lebih terbuka bukan? Se*x bagi mereka bukan sebuah tanda ikatan solid. Mungkin mereka punya hubungan tertentu sebelumnya, tapi mungkin juga tak akan mengarah kemanapun, karena kau mengatakan sendiri dia belum berencana kembali ke Korea.”
“Ohhh, kak Erwin berpikir begitu.” Aku sekarang mendengarkan pendapat dari sisi pria. Ini terasa sedikit berlawanan dengan perasaanku yang sudah hancur lebur, tapi mungkin tidak salah juga.
“Tapi ada yang bagus sebenarnya, Oppamu mulai bisa move on dari traumanya, mulai bisa menerima kedekatan dari orang lain. Dan perkara dia masih berusaha membawakanmu makanan, berbaikan denganmu, artinya dia sudah terpengaruh oleh kedekatan kalian, istilahnya dia merasa ada yang hilang...dan pasti dia sedikit banyak merasa bersalah padamu. Malah sebenarnya kau bisa melihatnya lebih perhatian karena rasa bersalahnya, tapi disisi lain mungkin dia masih juga tak yakin apa yang harus dia lakukan...”
“Jadi menurutmu aku masih punya harapan?”
“Iya. Jangan putus ada dulu oke. Jika kau mundur sepenuhnya sekarang, dia akan menjauh juga. Tetaplah bersikap baik padanya.Tapi kali ini jangan terlalu baik, ngambek sedikit juga boleh, tarik ulur saja sampai dia binggung, kau juga bisa sedikit... kontak fisik,...ehm maksudku misal sedikit tidak sengaja pegangan tangan, ... nanti dia akan lebih memikirkannya. Percayalah, jika dia tidak menjauh dari sinyal sentuhan tidak sengajamu, artinya dia memikirkanmu juga.”
Ternyata ngomong sama Kak Erwin bikin mataku terbuka. Aku kembali bisa sedikit tersenyum.
“Kak Erwin, makasih lhoo ya. Tadinya aku udah rela nyerah aja.”
“Semangat yah!” Kak Erwin melihat ke arah lain dalam sekejab. “Ehh sial dia kesini, kamu jadi penggemarku aja ya... Anggep aja dia saingan. Jangan liat dia, tetep ke aku pura-pura gak tahu.” Mata kak Erwin bikin tanda, aku meringis lebar.
__ADS_1
“Win... Geser!” Nih cewe sangar juga, cakep sih tapi sangar. Datang-datang langsung merintah Kak Erwin.
“Napa sih lu? Datang-datang suruh orang geser. Ngapain lu disini?” Erwin membalasnya gak kalah ketus. Busyet dah... Ini demen apa lagi perang sodara.
“Makan lah, ngapain juga orang ke restoran.”
“Lu gak liat gue lagi sama temen gue.”
“Ini siapa Kak Erwin, kok gangguin kita.”
“Kita? Ada hubungan apa lu sama dia?” Aku jadi penggemar boleh dong nyebut kita.
“Ehh gue ada hubungan apa sama temen gue kok lu yang ngurus, Ridwan mana, napa gak ngurus lu.” Ini kok dibawa berantem ya, bukannya ini cewe yang kak Erwin taksir.
“Ihh napa lu yang jadi ngurus-ngurus gue.”
“Lahh, napa lu yang kesini? Siapa yang ngurus siapa? Lu gila ya?” Kak Erwin bisa ketus plus nyablak juga ya ngomongnya. Gue kok bisa ngeliat piring terbang ya disekitar gue. Untung ada gak wajan terbang.
“Lu...” Cewe itu gak bisa ngomong sekarang, cuma nunjuk Kak Erwin dengan kesal.
“Apa?” Erwin tambah menantangnya.
“Awas aja lu.” Dan dia pergi dari meja kita dengan muka gak rela.
Kak Erwin ketawa ngakak, gue naikin alis gak ngerti sama apa yang terjadi sama mereka. Katanya demen, tapi kok kaya kucing garong berantemnya.
\=\=\=\=\=\=
Cerita Erwin Ntar di Law Firm
__ADS_1
Jangan lupa hadiah dan votenya ya