
“Iya aku mengerti Oppa, tidak menuang minuman sendiri, harus menuangkan ke yang lebih tua dulu.”
“Kau tahu?” Aku langsung mengangguk.
“Tentu saja, aku juga tahu tidak diperbolehkan menusuk nasi dengan sumpit, makan nasi dengan sendok. Tidak mengangkat mangkok nasi, mengambil lauk di piring kecil ...apalagi, jangan bersin menghadap makanan,jangan mulai makan sebelum yang tertua mulai makan, mengucapkan terima kasih sebelum dan selesai makan.”
“Gadis pintar...” Oppa tersenyum mendengar jawabanku
“Apa aku dapat hadiah Oppa?” Aku memeluk lengan dengan manja. Jika kau punya seseorang yang agak jauh umurnya denganmu, kau bisa sedikit bersikap manja, mereka menyenanginya kadang dan menyenangkan bisa bersikap begitu sesekali.
“Kubelikan kau 붕어빵 (bunggeoppang/ roti bentuk ikan yg diisi pasta kacang merah) sehabis makan...”
“Maksudmu 붕어빵 (bunggeoppang) apa, maksudmu es krim ikan di convenience store?! 붕어빵 (bunggeoppang) tidak ada yang menjual itu disini!” Dia tertawa mendengarku menebak makanan yang dia maksud.
“Baiklah, kalau begitu kita beli martabak saja.” Dan disini dia penggila martabak manis, makanan penuh kalori itu sangat enak buatnya. Dia bilang itu pancake paling enak di dunia.
“Itu maumu, jalanlah, nanti tidak sopan jika kita terlambat.”
__ADS_1
Kami akhirnya sampai di restoran makan malam itu. Ada dua pasangan yang suami istri, dan ternyata ada Joomi yang sudah pulih dengan suaminya. Satu lagi belum menikah, tapi nampaknya sudah pasangan cukup lama.
“Ahh,aku tahu siapa ini.” Joo-mi melihatku ketika kami saling berkenalan.
“Eonni Joo-mi, senang bertemu denganmu lagi, kau terlihat sangat sehat sekarang.”
“Ini juga berkatmu. Dan kau Dokter Joshua, sangat memperhatikan nasihatku. Tapi baguslah, kau punya teman disini.” Eonni Joo-mi kemudian mengenalkanku dengan yang lain, mereka menyambutku dengan baik, terutama karena aku bisa fasih dalam bahasa Korea.
Makan malam itu mengunakan semi private room, kami sedang menunggu seorang pengusaha Korea, seseorang yang merupakan senior kami semua dan istrinya, kursi mereka disiapkan di ujung meja, tempat terbaik selalu untuk orang yang lebih tua atau lebih senior (misal boss). Jika dalam ruangan berarti kursi yang terjauh dari pintu, dan sebagai yang termuda, kita harus mengambil kursi yang paling dekat dengan pintu. Kesalahan mengambil tempat bisa dicap kau tak tahu sopan santun.
Tak lama kemudian, senior datang dan kami menyambutnya, aku tentu saja diperkenalkan terakhir. Well, aku tak berani terlalu banyak bicara, takut salah bicara dan menjatuhkan Oppa, walaupun istri senior juga bersikap baik dengan menyapaku dan mengajak bicara.
Yang terpenting adalah kau harus menghabiskan makanan di piringmu, tentu saja sebagai yang termuda harus mengambil terakhir, dan yang lebih tua menawarkan mengambilkan. Toast untuk kesehatan selalu dipimpin oleh senior, toast ini tak boleh ditolak setidaknya, kau harus minum kecuali kau punya alasan kuat untuk menolaknya misalnya kondisi kesehatan dan malam ini berakhir dengan aku yang tidak terlalu terbiasa minum, minum cukup banyak untuk menghormati yang lain. Oppa melihatku dengan kuatir, tapi kurasa aku bisa menanganinya, walaupun akhirnya dia yang bicara jika seseorang menawariku minum lagi.
Dan akhirnya “Jalmeokeosseumnida (잘먹었습니다/ I have ate well.)” Semua orang menyatakan rasa terimakasihnya atas makan malam kepada host acara. Biasanya bill di bayar oleh senior, mereka jarang split bill, dan tentu saja untuk kesopanan yang muda biasanya menawarkan untuk membayarnya. Dan biasanya ditolak oleh senior dengan mengatakan kau bisa membayar nanti, yang juga berarti senior mungkin tak keberatan jika lain waktu diundang.
Akhirnya makan malam itu berakhir dan aku menghela napas lega. Semuanya terlihat baik-baik saja. Aku duduk dengan senyum dan bersyukur aku tak mengacau di makan malam itu.
“Oppa, aku tak berbuat kesalahan bukan.”
__ADS_1
“Sepertinya tidak, tapi tadi kau minum lumayan.”
“Hmm, benarkah. Aku memang sedikit pusing, tapi minum memang menyenangkan...” Aku meringis, aku mungkin akan mulai terbiasa dengan soju nanti. “Oppa, kiss me...”
“Aku rasa kau memang mabuk karena terlalu banyak soju.” Dia meringis melihatku.
“Oppa...” Aku merengek karena hari ini belum mendapatkan ciumannya. Dan kali ini dia tidak menolakku sebuah ciuman hangat dalam pelukannya selalu membuatku tersenyum bahagia.
Kami berjalan pulang dan minuman itu mulai memberikan efek setelah beberapa saat. Sekarang aku benar-benar pusing, aku tidak terbiasa dengan soju ini.
“Aku akan mengantarmu kedalam.” Tiba-tiba Oppa membuat keputusan.
“Mungkin Mama belum tidur? Bukankah akan masalah, Mama pasti tidak senang melihatku pusing seperti ini,”
“Aku akan menjelaskannya, tidak apa.”
Aku sekarang harus berdoa semoga mama tidak marah.
__ADS_1