Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 11. Teman Sekongkol


__ADS_3

“Tapi nampaknya dia memperhatikanmu, dia tak begitu paham bahasa kan?” Erwin bertanya dengan nada rendah.


“Benarkah, kalau begitu biarkan saja...” Aku tersenyum dan menghabiskan gelas coktail keduaku, yang ini Moskow Mule. Vodka coktail, ini membuatku sedikit  pusing.


“Biar kutebak kau sedang memanasinya bukan. Apa kau sedang memanfaatkanku disini.” Aku tertawa, seseorang dengan umur yang lebih dewasa memang  tahu membaca situasi.


“Sedikit.” Aku meringis dan  mengaku padanya... “Kak Erwin, dia tak bisa dipanasi, paling dia hanya menganggapku seperti  keponakan kecilnya yang  harus diawasi.” Erwin tertawa.


“Kau tak terlihat seperti keponakan kecil, bersabarlah, kadang pria itu cukup sederhana dan nampaknya kau tahu bagaimana bermain. Lagipula kau selalu berada didekatnya dan menurut pengamatanku sebenarnya kau sudah  mendapat sedikit perhatiannya, jika  tidak dia tidak mungkin membawamu kesini tanpa terganggu...”


“Hmm...aku hanya harus terlihat tak berusaha. Tapi tetap disana.”


“Tepat. Dan semua wanita yang dibelakangnya cukup untuk memanasinya juga...” Semua pembicaraan ini dilakukan dengan nada rendah, terlihat seperti kami melakukan pembicaraan pribadi, karena aku duduk dipisahkan  oleh Gracia, dia tak bisa mendengar pembicaraan kami.”Bagaimana kita berteman saja, aku juga punya seseorang yang ingin kupanasi.”  Aku langsung tersenyum padanya.


“Well, menarik. Boleh... Apa orangnya disini.”


“Tidak. Ini pertemuan relasi bisnis juga sebenarnya, pacar Nola dan pak Nicholas adalah klienku.”


“Ohh, kau pasti sudah pengacara senior. Relasimu luas, aku baru akan menyelesaikan  intern.”


“Kau  akan  punya waktumu sendiri, di umurmu aku juga baru merintis karier, itu juga perlu usaha keras. Apalagi kau dokter, pegetahuanmu berguna seumur hidup...” Kami bertukar nomor telepon sambil mengobrol akrab.


“Sepertinya sudah larut. Sebaiknya kami pulang...” Oppa  yang  meminta diri sekarang. Hmm... Baiklah ayo pulang, aku sudah cukup bermain.


“Ahh memang sudah larut. Ohh ya Yuna, mau  diantar kita searah?” Kak Erwin yang baik hati itu menjalankan perannya dengan baik, tak kusangka akan mendapatkan teman disini.


“Tak usah, aku yang mengantarnya. Terima kasih  Pak Erwin.”  Sekarang Oppa  langsung menjawab. Ternyata dia tahu tanggung jawabnya juga, aku menyembunyikan senyumku.


“Ohh baiklah. Kalau begitu aku akan pulang.” Kami semua berpisah sekarang kembali ke mobil masing-masing.

__ADS_1


Oppa tak bicara banyak saat kami berjalan. Aku berlagak senang  dan bersemangat sekarang,dan tidak mengandengnya. Eitsss, aku bertemu Erwin yang ganteng  tadi. Boleh aku sedikit  terlihat bersemangat kan? Tapi  ini berbahaya juga bagaimana jika dia menganggap aku lebih cocok dengan Erwin itu dan dengan senang hati tidak punya kepercayaan diri dan mundur. Hmm..memusingkan juga. Tapi kata kak Erwin Oppa memperhatikanku. Mungkin aku tak usah buru-buru, sedikit membuka matanya juga sudah merupakan kemajuan, bukan itu tujuannya. Tujuan pertama adalah membuat dia kembali ke kehidupan sosial dan tidak  berusaha mengurung diri lagi...


Saking seriusnya berangan-angan, berpikir, plus  sambil bermain ponsel, aku tidak melihat jalanku dan sebuah polisi tidur membuatku  kehilangan keseimbangan.


“Aww...” Dan pergelangan kakiku membuat putaran panik untuk menjaga keseimbangan. Oppa yang berada didepanku, refleks menangkapku agar tidak terjerembab. Ponsel ditanganku terlempar  lepas.


“Aigooo, kau baik-baik saja.” Oppa masih memegangku. Aku meringis  dan mendesah kesakitan, sial! Aku benar-benar mengacau.


“Kakiku sakit... Ponselku.” Aku mau mengapai ponselku tapi tak bisa, Oppa membantu mengambilkannya.”Sialan...” Aku menyumpah sendiri.


“Lepas sepatumu. Makanya  perhatikan jalanmu, jalan sambil main  ponsel. Pegangan, jalan pelan-pelan, mobil kita disana.”



“Sakit...” Aku ingin menangis sekarang, stilettoku pasti sudah rusak.


“Hah? Apa maksudmu.”Aku melihat Oppa.


“Aku akan memapahmu, mobil kita diujung sana...”


“Ehh tidak! Aku jalan saja, aku bisa...”Tapi berjalan  selangkah saja seperti menancapkan paku ke kakiku. Mataku berair  sekarang.


“Kau tak bisa... Menurutlah, itu jauh, pegangan ke bahuku.” Dan dia memapahku begitu saja, ini memalukan, sekarang aku  berpegangan harus padanya sampai kemobil.


“Duduk  di tengah saja kau bisa meluruskan kakimu.” Aku mengigit  bibirku menahan sakitnya saat naik ke mobil.  “ Aku akan  melakukan test, stilettomu cukup tinggi tadi. Aku hanya takut ada cedera robek ligament.” Aku mengerti apa yang dilakukannya. Dia memeriksa  dengan melihat apa menekan atas betis melihat apa ada sakit yang ditimbulkan di bagian bawah tumit.


“Tidak sakit, kurasa tidak itu hanya  ‘sprain (terkilir)’ bukan ‘strain/tear (cedera robek otot/ligament/tendon).” Aku menjawabnya berdasarkan apa yang kurasakan.


“Aku tak punya obat disini, aku mampir ke apartment dulu mengambil obat dan membuat angkle strap. Tapi ini sudah malam, atau apotik 24 jam terdekat...” Dia mengecek ponselnya. “Ada dekat sini... Kita ke apotik dulu.” Dia tak bicara banyak, hanya membawa mobil dengan tenang ke sebuah apotik yang ada didekat sini.

__ADS_1


“Dok, terima kasih, maaf menyusahkanmu atas kecerobohanku.”  Aku sekarang tak enak padanya sudah menyusahkan.


“Tak apa.” Oppa hanya menjawab pendek. Kami sampai  di apotik. Dia meninggalkanku di mobil dan membeli belt strap putih  dan  coklat, krim healer,dan freeze spray.


“Aku akan mengurutnya untuk menormalkan ototnya,  sebelum memasang strap.” Dia naik ke mobil dan membuatku duduk lurus, meyemprotkan freeze spray yang membuatku menghela napas  lega karena meringankan sakitnya dan mengurutnya  dengan krim healer seperti sudah biasa melakukannya.


“Kau terlihat ahli Dok. Jika aku melakukannya  aku tak yakin langkah-langkahnya...”  Sekarang aku hanya bisa melihatnya bekerja dan mengaguminya.


“Ini kuliah wajib, kau tak bisa mengatasi ini kau tak lulus dokter, dan cedera umum.” Aku tersenyum, karena aku sendiri mungkin tak mengingat bagaimana melakukannya dengan benar. Sementara aku harus sedikit menahan kejutan ketika dia akhirnya melakukan sentakan terakhir. “Tak ada angkle strap support disana, jadi terpaksa aku harus mengunakan band strap manual. Dia menahan telapak kakiku lurus 90 °sebelum membalut plaster kain berperekat lebar itu untuk menahan posisi angkle tetap lurus.


“Selesai. Aku akan mengantarmu pulang. Jangan banyak bergerak besok. Oke...”


“Kenapa malah aku jadi pasienmu malam ini.” Aku tertawa sendiri menertawakan  kebodohanku.


“Itu karena kau terlalu senang bertemu pengacara ganteng.”  Aku tersenyum kecil.  Ternyata benar kata Kak Erwin, dia memperhatikanku.


“Erwin memang ganteng...” Kuputuskan untuk sedikit menggodanya. Tapi dia diam saja. Mungkin dia tidak tahu bagaimana menghadapiku. Tak apa, selama dia memperhatikanku, aku sudah senang sekarang.


“Aku harus  meminta maaf ke Ibumu. Harusnya aku mengingatkanmu untuk berpegangan.”


“Tak apa, Mama mungkin sudah  tidur. Lagipula ini kecerobohanku sendiri...”


“Bukan masalah, akan mengantarmu masuk sampai rumah. Jika sudah tidur tak apa yang penting sampai kau masuk ke dalam.” Dia tetap berlaku manis dan plus dia tidak takut  dengan Mama. Aku diam, sebenarnya aku beruntung atau  celaka. Aku keseleo, tapi bisa mendapatkannya merawatku dengan benar malah jadinya membuatku senang.


Ya Tuhan, aku pasti sudah gila karena menyukainya.


******


Para pembaca  bagi Vote, Hadiahnya ya jangan lupa. Jangan lupa jempol dan komennya

__ADS_1


__ADS_2