
“Sayang, kita pergi makan malam dengan teman-temanku oke. Aku ingin mengenalkanmu pada temen-teman dekatku disini.Klub makan siang di cafetaria...” Ohh aku sering melihatnya, kadang dia memang berkumpul dengan mereka.
“Ohhh?”Aku tersenyum lebar, nampaknya ini adalah salah satu cara dia mengumumkan aku pacarnya. “Siapa saja..”
“Ada Pak Vincent, Bu Melisa, Dokter Andreas, mungkin dokter Sandra jika dia mau ikut...”
“Apa ini semacam kau mengundang mereka makan malam.”
“Hmm...iya untuk mengenalkanmu.”
“Thanks...” Aku tersenyum senang.
Kami bertemu di lobby, dan aku mengenal Bu Melisa, dan Pak Vincent, aku pernah tak sengaja bicara didepannya tanpa memberi salam. Di kejauhan aku melihat seorang dokter ganteng yang beberapa kali kulihat bicara dengan Oppa juga, mungkin ini yang namanya dokter Andreas dan dokter wanita yang kujumpai di kamar mandi tadi melambai padanya dan masuk ke lift naik ke atas.
“Sandra tak ikut?” Oppa bertanya padanya.
“Tidak dia ada kasus darurat barusan.”
“Ohhh, oke. Ohh ya ini Yuna, kekasihku... Ini Dokter Vincent, Bu Melisa, Dokter Andreas...”
“Ini ternyata yang bikin Dokter Joshua jungkir balik, pusing tujuh keliling...” Bu Melisa menyalamiku.
“Sampai tujuh keliling ya Bu.”
“Iya, mukanya kalau udah pusing keliatan. Apalagi kalo dibilang terserah, sampai binggung dia mesti diapain terserahnya.” Bu Melisa yang bicara bahasa Indonesia membuat semua orang tertawa, Oppa yang masih setengah mengerti sedikit bahasa, tampaknya mengerti kami menertawakannya.
“Kalian menertawakan saya....” Oppa ngomong bahasa Indonesia juga.
“Bilang lagi Yun, terserah gue...” Bu Melisa yang sekarang memanasi.
__ADS_1
“Terserah gue.” Oppa sekarang tampaknya mengerti arti kata terserah gue ini sekarang.
“Apanya yg ‘up to you’?” Dia merangkul dan mengetuk kepalaku. Sementara semua orang kembali tertawa karena Oppa tak bisa dikerjain lagi. Dia sudah belajar banyak setahun ini ternyata.
Kami pergi makan malam kemudian, kali ini disebuah restoran Korea pilihan Oppa. Merayakan jadian kami secara resmi.
“Sayang Sandra gak ikut, tadi kayanya operasinya sulit ada komplikasi, molor hampir dua jam dia. Sekarang ada kasus darurat lagi. Belakangan dia kayanya ada masalah. Tapi ditanya dia bilang gak ada apa-apa.” Dokter Andreas nampak khawatir padanya.
“Dokter Andreas pacarnya Dokter Sandra -kah?”
“Ohh bukan, kami hanya teman.” Nampaknya dia teman yang perhatian. Maksudku perhatian karena dia menyukainya atau sesuatu seperti itu.
“Ahhh... bagaimana kau ini Andreas, mana ilmu mencairkan gunung es mu.”Bu Melisa menyindirnya,
“Kompornya masih kurang panas .” Dokter Vincent yang menambahkan.Jadi benar Dokter Andreas ini menaruh perhatian dengan dokter Sandra. Mungkin lebih baik kuberitahu dia, setidaknya mungkin dia bisa membantunya.
Jadi aku menunggu Dokter Vincent dan Bu Melisa pulang dulu setelah makan malam yang kebanyakan isisnya ploncoan untuk aku dan Oppa itu.
“Hah, kenapa?” Oppa binggung kenapa tiba-tiba aku harus bicara ke Andreas.
“Kak Andreas.” Aku memanggilnya kakak saja.
“Iya, ada apa...” Dia melihatku dengan heran karena menyusulnya, sementara Oppa juga menyusul dibelakangku.
“Soal Dokter Sandra.”
“Dokter Sandra?”
“Duduk sebentar Kak,...” aku mengajaknya duduk disalah satu kursi di area Mall.
__ADS_1
“Aku tadi sore memergokinya, di toilet perempuan lantaiku yang memang sepi, sepertinya dia melukai diri sendiri.”
“Apa?” Kuceritakan apa yang kulihat dan pembicaraan singkat kami, Dokter Andreas hanya terperangah mendengar ceritaku.
“Sebenarnya aku juga sudah curiga... Dia selalu memakai lengan panjang.”
“Tenang saja Kak, aku tak cerita ke siapapun, paling Oppa, karena aku bicara sama Dokter Andreas aku tahu dia bisa menjaga rahasia teman.”
“Thanks ya,... terima kasih sudah cerita.”
“Iya kak.”
“Kalau begitu saya pulang dulu. Dokter Joshua, see you.” Dokter Andreas melambai pergi sekarang Oppa penasaran apa yang kubicarakan dengan Dokter Andreas.
“Ada apa sebenarnya, kalian membicarakan Dokter Sandra.”
“Hmm...tadi aku melihat Dokter Sandra mengiris pergelangan tangannya sendiri, self injuring, kurasa dia perlu dibantu melepaskan habit berbahaya itu.”
“Ya ampun, dokter Sandra itu dokter bedah yang brilliant, tak disangka dia punya problem seperti itu.”
“Hmm entahlah masing-masing orang kurasa Oppa punya masalahnya sendiri-sendiri.”
“Apa kau punya problem psikologis sayang, selain kau sangat manja, berisik dan cerewet.”
“Itu bukan kekurangan, itu nilai lebihku. Buktinya saat aku mendiamkanku kau mencariku, kau kehilangan aku bukan.” Oppa tertawa dan merangkulku.
“Iya, aku merindukanmu, kau puas.” Sebagai balasannya aku mencium pipinya dengan gemas.
__ADS_1