Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 6. Perasaan Yang Tak Mungkin Terbalas


__ADS_3

Jika kau punya satu kata untuk  mengambarkan pria yang akan kau cintai, apakah itu?


Lama aku memikirkan jawaban itu saat menghadapi ketidakpercayaan kepada pria, hubungan pribadi yang turun naik. Aku tahu jawabannya, jauh di dalam hatiku. Tapi aku belum punya kesempatan menemukannya. Aku tahu tidak semua pria seperti Ayahku. Mama pernah bilang, ini hanya bagian dari takdirnya bertemu dengan orang buruk. Jika dia sendiri sampai sekarang, dia hanya ingin fokus pada apa yang bisa membuatnya bahagia dan menemukan dirinya. Aku dan pencapaian usahanya.


Aku terduduk sendiri di sebuah sofa di kamar Oppa saat selesai membenarkan posisi tidurnya. Dia sangat merindukan anak dan istrinya, menyalahkan dirinya sendiri. Kasihan dia... Dia pasti Ayah dan suami yang baik. Dunianya sempurna tadinya, sebelum itu direngut darinya. Bagaimana seorang laki-laki sabar dan baik yang mementingkan keluarga seperti dia menghadapi kehilangan sekaligus seperti itu.


“Hye-ri...” Sebuah kata keluar dari bibirnya. Bahkan dia masih memimpikannya. Aku menyentuh rambutnya yang berantakan, merapikannya. Menyentuh wajahnya sebelum menariknya kembali. Ini tidak boleh, dia bukan siapa-siapa... Tapi kerutan di alisnya disela tidurnya yang tidak tenang membuatku kembali menyentuhnya karena ingin membuatnya tenang. Aku mengelus rambutnya, dia tidak akan tahu ini. Bahkan dia tidak ingat apa yang sudah dia lakukan. Aku sekarang merasa seperti wanita yang memanfaatkan kesempatan, aku bahkan memegang tangannya yang halus. Siala*n! Kenapa malah aku yang ingin menyentuhnya...


“Kau pasti sangat sedih... Mereka sudah disurga, tak ada yang menyalahkanmu. Itu kecelakaan. Kau harus melanjutkan hidupmu...” Aku mengelus rambutnya berharap mimpi buruk pergi dari tidurnya. Perlahan dia benar-benar tertidur lebih dalam, napasnya sudah tenang.


Aku menatapnya  sebentar, ciuman itu... dia menyangka aku orang lain. Kau benar-benar tega Oppa. Menghela napas putus asa, membuang perasaan tidak relaku sendiri. Perasaanku padanya, jika itu benar ada, kurasa itu tidak mungkin dia terima. Aku hanya akan bertepuk sebelah tangan dan memang mengharapkan orang yang salah. Lebih mudah menerima Leo yang terang-terangan sedang mendekatiku.


Aku harus pulang. Ini sudah hampir  jam 11. Besok dia bangun apa dia punya sesuatu untuk dimakan. Aku memeriksa kulkasnya, nampaknya dia punya beberapa bahan makanan, sedikit banyak dia  tahu memasak sederhana nampaknya. Dia  punya slow cooker, aku bikin dakjuk (bubur ayam korea) saja untuknya, ini takkan lama. Jadi aku mengambil beras, ayam, jamur, beras, daun bawang dan wortel dan mulai mengerjakan dengan cepat. Memasukkannya ke slow cooker dan dalam setengah jam selesai.


Meninggalkan sebuah catatan, jika dia bahkan tidak ingat  siapa yang membawanya pulang.


‘Ada Dakjuk di slow cookermu. Kau mabuk semalam, aku yang membawamu pulang. Yuna bukan Yoona’  Bahkan aku menambahkan emoticon tersenyum.


Aku mengecek ke kamarnya sebentar, melihat dia tertidur  dengan pulas dan meninggalkannya sekarang.

__ADS_1



Hari minggu aku harusnya punya janji untuk nonton dengan Leo. Dia sudah mengingatkan dari pagi, aku tersenyum melihat betapa banyak pesannya hari ini. Dia sangat bersemangat tampaknya. Tapi aku tak menerima pesan apapun dari Oppa, apa dia baik-baik saja. Apa dia masih tidur sampai tengah hari begini.


“Ma, aku pergi nonton dengan Leo.” Dia pernah berkumpul dengan teman-teman kuliah sealumni yang bekerja di rumah sakit yang sama.


“Leo. Yang ganteng itu? Kamu pacaran sama dia?”


“Engga Ma, temenan doang.”


“Oh.” Mama ingin  mengatakan sesuatu  tapi tak jadi. “Dia jemput kesini? Bukannya rumahnya gak terlalu jauh. Suruh masuk aja.”


“Gak lah Ma. Ribet, nonton  doang sama makan kok. Abis makan pulang. Pergi ya Ma”


“Aku gak usah turun minta izin sama Mama kamu?”


“Engga, aku udah bilang pergi sama kamu.”


“Ga sopan kayanya. Aku gak enak, aku turun  aja...” Dia  malah langsung turun dan meninggalkanku di mobil. Ehhh, kok malah dia yang mau ketemu Mama. Aku terpaksa harus turun juga dan menemaninya.

__ADS_1


“Kamu ribet Leo.”


“Aku gak enak pergi gitu aja, Mama kamu bukan gak  tahu aku.” Dia tak mengindahkanku ptotesku sama sekali.


“Selamat siang Tante, gimana kabarnya.”


“Ohh Leo ya, udah lama gak ketemu.Ayo duduk  bentar...” Dia malah ramah banget ngobrol sama Mama kemana-mana. Sampai aku bete nungguinya. Cerita tentang studinya yang sudah selesai sekarang, kerjaan dia yang udah tetap. Mama seneng ngedengerinnya. Ini Leo lagi mau pamer CV depan Mama kayanya. Dia ngobrol sama Mama aku ngeliatin HP, apa  Oppa ngirim pesan. Kok gak bilang makasih atau apapun sih. Jangan-jangan dia sakit. Kuputuskan untuk mengirimkan pesan padanya. ‘Dok, udah bangun. Tahu  ada bubur di slow cookernya.’


Hmm gak dibaca lama. Aku jadi kesal.


“Ehh mau jalan  gak, abis tiketnya nih.” Aku menyalurkan kekesalanku ke Leo.


“Ohhh iya-iya, Tante kalo gitu saya sama Yuna pergi dulu.”


“Iya. Pergilah,hati-hati, pulangnya jangan malam-malam.”


Akhirnya. Selesai juga ngobrol basa-basinya. Aku ke Mall memang nonton, bayar utang udah dianterin sama Leo. Tapi disana aku tak konsen, teringat kejadian semalam. Leo ngajak ngobrol aku menanggapinya dengan konsentrasi terpecah. Oppa tidak membalas pesanku apa dia baik-baik   saja, jangan-jangan dia sakit. Apa aku harus melihatnya ke apartmentnya.


Sebuah pesan akhirnya datang padaku. ‘Iya. Terima kasih buat semua.’ Jawabannya pendek saja  tapi sudah cukup membuatku tersenyum dan tidak kesal lagi.

__ADS_1


“Kenapa senyum-senyum gak jelas.” Leo yang melihatku memperhatikanku melihat ponsel ikut kepo.


“Engga, ada yang kirim video lucu. Yukk masuk bioskop.” Akhirnya aku bisa nonton dengan tenang.


__ADS_2