
Kami melangkah ke hall megah hotel bintang lima itu, panitia memastikan kami para executive sudah hadir lebih awal 30 menit sebelum para tamu pemegang saham datang.
Aku bergabung dengan tim unit lainnya, satu meja diisi 4 executive dan 6 seat lainnya adalah untuk undangan untuk pemegang saham. Jadi kami punya kesempatan mengobrol dengan kolega kami sebelum tamu kami datang.
“Simon Ishak, Vincent kuingat kau pernah bermasalah dengannya.” Seorang Direktur lain, dr. Hansen membuat aku menoleh ke mereka.
“Masalah? Masalah seperti apa?” Aku langsung bertanya. Jadi Vincent mengenal Simon.
“Hmm... dua tahun yang lalu saat aku pertama mengambil posisi Direktur, aku menendangnya dari daftar supplier dan membanned semua salesnya masuk ke rumah sakit karena pelanggaran berat kesepakatan kadar kandungan obat di semua produk produksi mereka, kudengar kemudian efeknya berantai berakibat beberapa rumah sakit besar dan retail besar yang lain menendangnya juga. Sekarang nampaknya dia mengupayakan comeback dengan masuk sebagai pemegang saham. Karena jika berhasil masuk group kita sebagai supplier lagi, itu akan seperti lisensi jaminan mutu yang diakui oleh jaringan rumah sakit lainnya.” Ohhh begitu, aku sebelumnya heran kenapa tiba-tiba transaksi dengan perusahaan Simon menurun drastis dua tahun lalu, aku tahu ada semacam pergantian supplier, tapi aku tak tahu apa yang menyebabkannya.
“Kau benar nampaknya dia ingin come back, tapi kurasa dengan peraturan sekarang jika dia ingin kembali pun dia tidak bisa macam-macam lagi main curang. Kita sudah menetapkan standart uji kelayakan baru, tak ada yang bisa macam-macam dengan mengkompromikan kadar obat produksi mereka.” Hansen menjawab Vincent.
"Benar, sekali lagi dia tertangkap main curang, kubanned dia selamanya."
“Kenapa kau tak cerita?” Aku berbisik padanya.
“Bukan hal yang penting untuk diceritakan. Perselisihan itu sudah lama, jika dia ingin mendapatkan comeback dia juga harus baik-baik padaku. Dia tidak akan berani macam-macam padaku... dan padamu.” Kurasa aku benar-benad punya kartu AS sekarang.
“Untuk sementara jangan perlihatkan kita punya hubungan.”
“Oke.” Vincent menyetujui permintaanku.
__ADS_1
Tak lama kemudian para pemegang saham mulai tiba di lokasi acara. Akhirnya saat yang kutunggu, aku melihatnya, kali ini dengan seseorang wanita cantik, kinyis..kinyis, mungkin usianya masih kisaran 25-30, aku tak yakin itu istrinya.
Kami berpandangan sesaat, riak mukanya datar seperti biasa. Dia berumur sama dengan Vincent sekarang, masih di usia jayanya tentu saja. Apa dia tidak lelah menghadapi gadis-gadis muda itu. Atau mungkin dia memperlakukannya sebagai pemuas egonya. Gadis cantik itu menempel padanya seperti lintah, tatapannya memuja sang pria.
"Pak Vincent. Senang bisa bertemu kembali." Dia menyalami Vincent terlebuh dahulu, lalu Pak Hansen, Lucas yang juga satu tim dan akhirnya aku.
"Bu Melisa." Dia tersenyum kecil padaku.
"Pak Simon." Aku membalas senyumnya dengan percaya diri.
"Mari sihlakan duduk..." Vincent mempersihkannya duduk disampingnya, setelah dia berkenalan dengan tamu-tamu lain di mejanya. Dia tamu terakhir yang kami tunggu, sementara aku duduk disamping tamu yang lain.
Aku mengambil tugas menangani perbincangan dengan salah seorang pemegang saham di sampingku, yang kebetulan murni adalah seorang analis investasi sebuah firma keuangan Singapura, aku lebih bisa menjelaskan banyak hal padanya soal aspek usaha dalam bahasa yang umum saat laporan tahunan di paparkan oleh Direktur keuangan group.
Dan Vincent yang duduk disamping Simon yang bertugas memandu Simon.
"Ohhh benarkah... Maksudnya bagaimana?"
"Dia ..." Dia berbisik ke Vincent. Aku penasaran apa yang dibisikkannya ke Vincent.
"Ohh begitu." Vincent tidak mengulang ucapannya dan membuatku tambah penasaran. "Sangat menarik, dan disampingmu ini istrimu."
"Kau tidak mengenalnya, dia Lola penyanyi yang sedang naik daun. Aku membiayai semua promosi albumnya. Dia sibuk sekali sering muncul di televisi. Bukan istriku, istriku ada dirumah, dia pacarku..." Rupanya dia sudah menikah lagi dan mencari daun muda yang lain memang hobby beratnya.
__ADS_1
"Ohh Pak Simon, Anda sangat pandai mencari kekasih cantik." Vincent memuji atau menertawakannya aku tak yakin.
"Saya bisa kenalkan Anda ke banyak teman-teman modelnya. Mereka semua sangat cantik, dijamin mereka juga sangat pandai menyenangkan..."
Vincent hanya tertawa dan mengangguk. Selanjutnya aku tak memperhatikan lagi karena aku fokus ke tamuku sendiri dan Vincent yang bicara padanya.
Acara berlalu dengan cepat, makan malam itu akhirnya berakhir, besok mereka masih diundang ke pesta coktail. Hari ini adalah sebenarnya adalah makan malam bisnis sementara besok malam adalah pesta coktail sebenarnya, banyak hiburan besok malam, dari hiburan maupun artis Ibukota. Sementara aku sudah tak sabar ingin mendengar apa yang dikatakannya pada Vincent.
Kami semua mengantar tamu kami masing-masing sebagai tuan rumah pesta. Dia mendatangiku sendiri di area makan malam yang masih ramai untuk bicara saat aku selesai mengantarkan tamulu sendiri, menatapku dengan senyum tapi matanya masih penuh kebencian.
"Kau terlihat lelah Melisa , apakah pekerjaan membuatmu kehilangan kecantikanmu yang dulu. Jangan terlalu serius bekerja, bersenang-senanglah sedikit, atau kau perlu aku mengirim bulananmu yang kau tolak dengan penuh keangkuhan itu. Ayahmu sudah meninggal bukan..." Aku melihatnya dengan senyum sinisku sendiri.
"Sayangnya aku sama sekali tak perlu belas kasihanmu. Justru kau yang perlu belas kasihanku. Kau tidak bisa melupakan aku sampai sekarang nampaknya? Kau sengaja meminta duduk semeja denganku ... Apa kau berharap mungkin aku kembali padamu" Aku tertawa kecil. "Kenapa? Wanitamu semuanya terlalu penurut padamu? Bahkan istri bodohmu juga sangat penurut nampaknya, Eww membosankan... Simon, kau tahu sejak aku memutuskan meninggalkanmu, tak sedetikpun aku menyesal, dan kau salah, uang tak bisa membeliku, ...kau tak pernah bisa membeliku."
"Kau lihat bagaimana aku bisa membuatmu tanpa pekerjaan karena kesombonganmu yang luar biasa itu. Kau pikir aku disini untukmu?" Dia berbicara dengan senyum. Bajingan licik ini, dia pikir semua orang akan tunduk pada uangnya.
"Ohhh benarkah? Aku menunggu, coba saja jika kau mampu...tapi jika tidak, tutup mulutmu itu dan kembalilah ke pelukan wanita pemujamu dan menangislah. Mengatasi satu orang wanita saja kau tak mampu Tuan Simon... Memalukan." Aku tersenyum lebar, sementara dia mengatupkan bibirnya.
"Ada saatnya kau akan memohon padaku."
"Kurasa kau hanya pintar omong kosong dari dulu Simon. Kau sangat mengecewakan..."
Aku meninggalkannya dengan tawa kemenangan. Aku puas. Sekarang aku sangat penasaran apa yang dikatakannya pada Vincent.
__ADS_1
🧡🧡🧡
Jangan lupa kopinya. Besok kita lanjutkan gebukkin Simon.😎😎