
“Saya sekali lagi tidak menyarankan Anda mengambil size 900cc dengan proporsi tubuh Anda , akan banyak masalah ...” Oppa bicara dengan wanita cantik,yang sebenarnya sudah sempurna ini. Permintaannya membuatku menghela napas, dia datang dengan permintaan spesifik yang membuatku mengerutkan kening.
“Tapi ada yang mengambil 4600cc Dok, dia baik-baik saja.” Belum selesai Oppa bicara wanita sudah memotongnya. “Saya mau maximum yang saya bisa ambil.”
“4600 is insane! That what I could told you. Saya tahu wanita ini cukup gila bahkan untuk memasukkan tambahan CC sendiri. Tapi untuk Anda, karena saya yang menjadi dokter Anda, perlu Anda tahu Ini akan menyebabkan sakit punggung, sakit leher, bahu dan dengan berat seperti itu dalam beberapa tahun kemudian otot Anda akan turun kemudian Anda akan datang ke saya untuk down size dan kita berakhir di meja operasi lagi. Belum lagi ini beresiko mengembarkan scar tissue, tergantung tubuh Anda, itu jaringan yang mungkin membuat proporsi keduanya tidak sama, dan jika begitu mungkin Anda tidak puas dengan hasilnya harus masuk ke meja operasi lagi.” Kami para secara etika kedokteran harus menjelaskan semua resiko dari sebuah operasi plastik.
for your reference...how big is 4600cc! 🤣🤣🤣😅
●●●●●●
“Saya akan membayarnya jika Dokter bisa melakukannya. Dia tahu resikonya... Tapi dia mau, saya juga mau, kami tahu Anda yang terbaik. Jadi ayo kita lakukan saja. Jika ada komplikasi kita” Wanita ini didukung suaminya yang mendukung keinginannya.
“Dok, saya mohon kabulkan keinginan saya, saya tahu dokter bisa melakukannya.” Aku hanya melihat pasangan sehati ini dengan tergangga dalam hati.
“Baiklah. Saya perlu perjanjian tertulis khusus melakukan ini. Dokter Yuna akan mengirimi Anda consent letternya. Bahwa saya sudah menjelaskan ke Anda semua resikonya. Dan Anda berdua bisa menelepon dokter Yuna jika sudah menetapkan tanggal, dia akan mengatur semua test yang harus Anda jalani sebelum kita masuk ke operasi.”
“Terima kasih Dok. Kami benar-benar berterimakasih...” Mereka malah seperti mendapat kado besar. Seakan semua masalah dan resiko yang akan timbul bukan masalah bagi mereka. Mungkin suaminya semacam punya fetish.
Mereka pergi, aku memasukkan nama mereka ke list kerjaku dan letter of consentment yang harus mereka tanda tangan bersama dengan Oppa.
“Bikin surat persetujuan seperti apa yang aku sudah jelaskan, berikan aku draftnya sebelum kau mengirimkannya ke mereka.” Oppa menutup satu kasus.
“Oke Dok...”
Keesokan harinya setelah aku bertemu Kak Erwin, perasaanku jadi jauh lebih baik. Pasien konsultasi terakhir kami hari ini. Dan aku tidak merasa awan kelabu lagi menghiasi hariku seperti sebelumnya. Tapi tetap aku bersikap biasa saja ke Oppa, tidak mencoba terlalu terlibat lagi dengannya, dia sudah tahu aku mungkin punya perasaan padanya. Kata Kak Erwin aku bisa tarik ulur, sekarang waktunya melemparkan bola kembali padanya.
“Aku balik dulu ke mejaku Dok. Ada tugas tambahan.”
“Yun.”
“Ya?”Aku melihatnya.
__ADS_1
“Mau makan malam?”
“Makan malam?”
“Iya, kau yang pilih mau makan apa.” Kalo dia tetep ngajak aku berbaikan ini tanda bagus harusnya. Aku tersenyum.
“Boleh... Jam 6 dok, saya mau ngerjain consent letternya dulu.”
“Ohh oke.” Dia tersenyum padaku. Mungkin lega karena aku mengiyakan ajakannya. Dia mau sekedar berbaikan atau mau maju lebih lanjut ya? Tapi dia tidak minta maaf atau menjelaskan tentang ‘hickey’ itu, tapi kurasa memang aku tak berhak tahu juga karena kami tidak dalam hubungan apapun. Kadang keadaan gini binggung ngadepinnya. Meraba-raba gak jelas bikin penasaran.
Aku berganti pakaian ke blouse pink muda dengan detail ruffle yang cantik, baju yang kusimpan di locker mengurai rambutku, memoleskan sedikit make up, mengganti sepatuku. Aku merasa cantik sekarang.
“Ke mana kita?”
“Makan gado-gado dan gudeg, soto, sate.” Aku mengajaknya ke sebuah restoran Indonesia setelahnya.
“Ohh, ini makanan Indonesia. Saya sudah pernah coba soto dan sate.”
“Hmm... kalau itu gudeg dan gado-gado, aku pesenin buat dokter.” Aku tersenyum padanya waktu kami berdua berjalan ke mobil. Bisa menikmati malam makan dengannya lagi membuatku senang. Aku memainkan ponselku mengecek pesan.
“Ga pa pa, aku ada pemijat ahli.” Dia tertawa, tidak keberatan nampaknya dengan candaanku.
“Jika sekali lagi kau jatuh karena hal yang sama aku tak mengizinkan kau memakai heels lagi.”
“Kalau begitu aku pegangan ke dokter sambil main ponsel saja. Boleh tidak?” Aku mencari affirmasi dengan berdebar. Ini tidak keterlaluan bukan? Aku hanya minta memegang lengannya.
“Baiklah...” Dan dia menyetujuinya, aku berdebar dan terbang ke langit ke tujuh hanya karena diperbolehkan menyisipkan tangan ke lengannya. Betapa bodoh perasaan ini.
“Thanks.” Aku menyelipkan tanganku di lengannya sementara tangan kiriku memegang ponsel. Menyembunyikan senyum dan wajah panasku diantara temaram lampu lot parkir ini.
“Temanmu kemana Dok?” Sebuah pertanyaan terang-terangan dariku setelah kami duduk berdua dimobil. Aku sedikit terang-terangan, tidak akan play nice lagi...
“Hmm...sudah kembali ke Seoul.”
__ADS_1
“Ohh begitu.” Baiklah, mungkin memang cuma teman yang sangat dekat.
Aku mencari topik aman kemudian, membicarakan pasien-pasien kami hari ini untuk mengisi kekosongan, menutupi debaran perasaanku sendiri. Hari ini sudah sangat cukup, dia baru bisa menerima kedekatan orang lain, mengajakku makan ini pertanda bagus. Aku akan membiarkannya seperti ini, dia mungkin hanya perlu waktu.
POV Joshua.
Gara-gara tanda itu dia menghindariku padaku beberapa hari. Tapi sekarang entah apa yang terjadi dia kembali lagi. Baiklah, aku tahu dia terpukul, dia menyukaiku, tapi kemudian dia kembali lagi hari ini. Bahkan dia mau diajak makan malam, kenapa dia berubah pikiran secara tiba-tiba...?
Aku merasa bersalah padanya, tapi mencoba memulai hubungan dengan perbedaan 15 tahun, beda gap pemikiran, beda kebiasaan, bahkan beda negara. Akan ada banyak perbedaan. Itu akan berat.
Dia cantik, pintar, apa aku menyukainya... hmm, baiklah, iya, jika itu bisa dimulai dari ketertarikan visual. Dia banyak membantu, aku tahu dia baik dan tulus. Tapi apa ini hubungan yang akan berhasil...Tapi ada yabg lebih penting, apa dia hanya menyukaiku karena menyukai karena seperti mendapat sosok seperti seorang Ayah? Apa dia salah menafsirkan ketertarikannya sendiri.
Aku akan bicara terus terang padanya kali ini.
“Kau pernah berpikir kau akan menemukan Ayahmu kembali?” Aku bertanya padanya saat aku mengantarnya pulang hari ini.
“Tidak. Aku sudah bersyukur dengan orang yang ada disekelilingku. Ayahku kadang setahun sekali menelepon, setidaknya, aku tak pernah menganggunya. Atau berharap terlalu banyak, ...” Ternyata tidak, mungkin benar dia tidak akan memperlakukanku sebagai sosok Ayah yang dia perlukan.
“Kenapa kau bertanya Dok?”
“Apa kau selalu suka dengan orang-orang yang lebih dewasa seperti Erwin?” Dia melihatku dan nampaknya menebak kemana arah pertanyaanku.
“Hmm.. aku pernah mencoba banyak hubungan dengan teman sebayaku sebelumnya. Menemukan orang yang lebih berpengalaman lebih menarik, lebih banyak yang dibicarakan, lebih menantang....” Dia mengatakan itu menghadap ke arahku tanpa takut. Sebenarnya berapa banyak pengalamannya sehingga dia bisa menjawabku begitu, dia sengaja menekan bagian akhirnya. Gadis-gadis muda ini kurasa mereka kadang begitu berani. Ini sangat berbeda dari jaman aku umur dua puluhan dulu.
Tapi dia menungguku, tak mendorong lebih jauh setelah itu.
“Kau suka Korea, apa kau punya pikiran untuk menemukan setipe dengan idolamu...” Dia tertawa mendengar pertanyaanku.
“Dok, 25 adalah umur dewasa, kau berpikir aku semacam anak SMA yang masih tergila-gila tentang boyband, kau bertanya tentang kriteria priaku. Gampang, punya pekerjaan, setia, bertanggung jawab terhadap keluarga, tampan relatif dan tentu saja aku harus menyukainya, kau tahu menyukai... sebuah rasa yang membuat jantungmu berdebar menyenangkan...” Dia menatapku di mataku sebelum melanjutkan. “Dan tidak aku tidak akan berusaha menjadikan orang lain Ayahku, orang tuaku bercerai tapi bukan berarti aku tidak bisa menghadapi situasi perceraian itu dengan baik, aku punya banyak orang yang selalu menyayangiku dan itu selalu membuatku bersyukur....” Dia menebak arah pertanyaanku dengan tepat, diam sebentar sementara kami sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
“Sekarang sudah sampai, terima kasih untuk makan malamnya, terima kasih sudah mengantarku kembali ke rumah. See you tomorrow...”
Dia turun begitu saja kemudian meninggalkanku dengan tersenyum. Sekarang aku harus berpikir kembali soal perkataannya.