
“Hmm...jadi aku semacam penyelamatmu Oppa...” Aku tersenyum lebar sekarang.
“Iya kau penyelamatku, gadis cerewet. Dan mereka tidak sabar bertemu denganmu nanti malam. Dan mereka memarahiku baru memberitahu mereka sekarang. Jadi malam ini kau tidur dirumahku. Nanti kita kembali ke hotel dulu untuk mengambil barangmu.”
“Benarkah...” Ini berita yang sangat mengembirakan, aku bahkan diperbolehkan menginap.
“Kakak perempuanku yang ada di Seoul akan bergabung untuk berkenalan denganmu nanti.” Aku tak menyangka akan semudah ini.
“Oppa, ini ... apa artinya kita sudah benar-benar diberi izin?”
“Bukannya kau yang ingin cepat-cepat punya anak, kau belum siap? Siapa yang bilang aku sudah kakek-kakek kemarin...”
“Oppa....” Mukaku panas menerima godaannya. Dia tertawa melihatku tak bisa menjawabnya, tapi selain itu aku benar-benar bahagia.
Kami sampai kesebuah pemakaman dipinggir kota. Aku melihat deretan makam yang seragam dengan satu baris aksara korea berbaris rapi. Langit agak mendung, Oppa menggandeng tanganku mencapai tempatnya, dia tak banyak bicara saat kami berjalan. Dan kemudian dia berhenti, aku melihat aksaranya dan mengenali karakter namanya.
“Hai sayang, ...” Dia menunduk dan menaruh dua karangan bunga yang dia bawa. Sebuah mawar kuning yang cantik. “Aku kembali, lama aku tak melihatmu.” Dia diam berdoa, aku juga diam disampingnya, ikut memanjatkan doaku sendiri.
“Hye-ri, ini Yuna... seseorang teman sepertimu. Sun-young ini bibi Yuna,...”
“Eonni Hye-ri, ... semoga kau beristirahat dengan damai.”
__ADS_1
“Dulu Hye-ri sangat menyukai mawar kuning, jadi aku kesini sering membawa mawar kuning buatnya. Dan Sun-young dia sangat tergila-gila dengan bunga matahari, dia selalu bilang itu bunga yang bersinar terang, dia suka sekali membeli baju berwarna kuning cerah atau kadang orange, semua perlatan sekolahnya dan pita rambutnya ...” Itu alasannya dia membawa rangkaian mawar dan bunga matahari. “Saat warna kuning itu menghilang dari hidupku, kurasa beberapa saat matahari padam sepenuhnya.” Aku merangkul Oppa.
“Kurasa disana banyak taman bunga Oppa.” Oppa tertawa kecil, walaupun dia diam setelahnya. Mataku berkabut ikut berduka.
“Iya, disana banyak taman bunga matahari...”
“Anak Papa, ...” Dia mengelus nisan itu, membersihkan daun yang ada disampingnya. “Kau tahu, punya anak perempuan itu sangat membahagiakan. Mereka sangat penyayang, pengertian, dia selalu menyambutku pulang jika dia belum tidur, atau mengirimkan video selamat malam jika aku belum pulang dan dia sudah mengantuk.” Oppa bisa tersenyum mengingat kenangan itu.
“Dia pasti sangat cerewet...”
“Iya sangat.”
“Sun-young Bibi Yuna ini sama cerewetnya denganmu.” Oppa membuatku tertawa. Dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa video yang berisi Sun-young mengucapkan selamat tidur untuknya, ada Hyeri juga disana, wanita cantik itu sama cerewetnya dengan Sun-young. Bisa kubayangkan kenapa Oppa begitu kehilangan. Dan itu membuat air mataku menetes akhirnya.
“Sun-young Bibi akan menjaga Papa disini, Bibi minta izinmu dan Mama. Eonnie Hye-ri aku minta izinmu.” Aku membuat bungkukan pantas untuk menghormati mereka.
Berapa saat kami berdoa untuk mereka. Sebelum akhirnya kami kembali ke hotel, aku sedih, tapi juga merasa lega telah berkunjung, berkenalan dan meminta izin. Rasanya aku juga diberikan kesempatan berbagi memory mereka.
Aku membereskan barang-barangku. Mandi dan berdandan untuk bertemu dengan Mamanya. Sekarang rasanya mendebarkan.
“Kau sudah cantik,...” Oppa menarikku dalam pelukannya membuatku tersenyum, sebelum ciumannya menyentuhku.
“Oppa, ...” Ciuman itu berubah menjadi cumbuan kemudian, kali ini dia membantingku ke bed empuk itu, membuatku napasku berubah dengan cepat.”Kau membuat bajuku kacau...” Dia memotong kalimatku dengan ciumannya, sekarang menanggalkan gaunku dan membuka pakaiannya sendiri dengan tak sabar, membuatku bisa menyentuh kulitnya.
__ADS_1
“Aku ingin kita punya seorang putri...” Dia berbisik padaku sebelum mencumbu tengkukku dan kemudian seluruh tubuhku. Dibawah sana sesuatu menyentuhku membuatku melenguh menikmatinya.
“Oppa...jangan kelewatan.” Aku tak yakin apa yang dia lakukan. Dia menggodaku dibawah sana. Seluruh tubuhku merinding dan mengejang, saat dia menyentuhku dengan bagian dari dirinya.
“Tenanglah. Jika aku masuk akan sakit\,ini hanya menyentuhmu sedikit\, tapi kau sangat ba**sah\, Yuna sayang...” Dia tersenyum melihat aku yang tak bisa mengendalikan des**ahanku. “Tapi kau memang terlalu tak berpengalaman\, kau yakin pacar bisa begitu banyak? Kau memang hanya memanfaatkan mereka untuk mengantarmu kuliah ya?Atau kau membohongiku.." Dia berbisik padaku.
"Oppa, apa yang kau lakukan..." Aku menutup mataku, tubuhku ketagihan dengan apa yang dilakukannya. Aku hanya ingin mencapai titik batasnya...
"Gadis cerewet, lihat dirimu, kau sangat kacau...” Sensasinya yang ditimbulkannya membuatku melayang dan lupa diri, entah bagaimana dia melakukannya. Kurasa kau tidak bisa meragukan pengalaman laki-laki yang sudah berkepala empat.
“Oppa...ahh...” Aku memeluknya.Tubuhku bergetar, napasku terhenti sesaat dan tubuhku melemas dengan puas. Dan dia menekankan dirinya begitu keras padaku dan sesuatu yang hangat ada terasa di atas perutku.
“Kenapa desahanmu s**exy sekali... Sia**lan.” Aku tak bisa tak tertawa ngakak mendengar perkataannya. “Kau memang punya banyak bakat ya\, gadis cerewet ...”
“Oppa,... kau yang berbakat.” Aku mengikik senang menertawakannya.
“Aku mencintaimu. Pengurusan dokumen legal akan memakan waktu, jadi kita urus pernikahan agama dulu, dan resepsi dulu, karena kita sudah minta izin ke semuanya.”
“Ada yang sudah tak sabar rupanya...” Aku meledeknya.
“Siapa yang bicara soal anak duluan. Itu kau... Siapa tahu apa yang kau bayangkan dalam kepalamu? Kau mau kuberikan tanda, biar Eomma bertanya apa yang sudah kulakukan padamu, mungkin dia akan memberikan kita tinggal satu kamar malam ini. Ibuku tidak selurus Ibumu?” Dia menaikkan alisnya dan tersenyum lebar padaku.
“Oppa...menjauhlah dariku.” Dan aku mendorongnya dengan tak sabar.
__ADS_1
Sebuah ciuman gemas menutup adegan panas itu dan meninggalkanku harus berdandan ulang kemudian.