Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 47. Korea 6


__ADS_3

Kami memasuki rumahnya. Masuk  kerumah Korea  biasanya membuka sepatu.


“나 왔어요!,... (na watseupnida!/Aku sudah dirumah.)” Oppa membawaku masuk kerumah. Dan aku tambah berdebar sekarang. “Eomma...” Dia memanggil lagi.


Seseorang wanita tua keluar dari arah dalam, dan kemudian menyusul seorang pria tua dengan wajah ramah dan seorang wanita yang lebih muda. Tunggu dulu, Bibi ini bukannya ...


“Eomma, Appa ini Yuna...”


“Eo-meonim, A-beonim, Eonnie ...” Dan aku membungkuk dua kali kepada mereka. Ini adalah panggilan berarti Mama, Papa khusus seperti eomma, dan appa tapi bukan berarti kau anak mereka.


“Ini Yuna... Selamat datang.” Eomma tersenyum sekarang, aku lega, dia yang pertama mendekatiku dan menyalamiku. Dan ternyata dia adalah Bibi yang kutolong tadi pagi, apa dia mengingatku.


“Kamu ...bukannya... kita bertemu  tadi pagi. Kita benar-benar berjodoh ternyata,...”


“Mama, apa yang kau katakan? Kau pernah melihatnya.”

__ADS_1


“Tadi pagi kami bertemu di Gwanjang sijang, dia membantu mengumpulkan belanjaanku yang ditabrak anak muda yang kurang ajar itu. Tak kusangka dia adalah calon menantu... “


“Iya Eo meonim, saya juga tak menyangka.”


“Wahh Ibu ternyata  kau memang berjodoh dengan menantumu.” Kakak perempuannya menimpali.


“Suamiku, dia cantik sekali, tak heran anak kita bisa terpesona begini. Anak nakal, kau itu ternyata,sangat pandai... sini kupukul kepalamu.” Ibunya ternyata lucu. Satu rumah menertawakan  Oppa.


“Eo-meonim, aku membawa hadiah untuk kalian. Semoga kalian menyukainya...”


“Ahhh aku dapat hadiah  juga. Terima kasih adik ipar.” Dia menerima bungkusan yang kuberikan. Aku berpikir keras tentang hadiah apa yang harus kuberikan. Akhirnya aku memillih satu set kemeja batik sutra dengan warna keemasan yang sangat  elegan untuk Ayahnya dan satu set dengan kebaya sutra dengan aksesories kain motif yang sama. Model itu terpajang di depannya sangat cantik kurasa.


“Ini  bagus sekali, sutra..., aku pernah melihatnya ini semacam dilukis dengan tangan. Benar bukan...” Ternyata mereka tahu.


“Iya Eo-meonim, namanya batik tulis. Ini dipakai di acara-acara resmi, di Jakarta Oppa juga terbiasa memakainya.”

__ADS_1


“Ohh ini cara memakainya, ini cantik sekali. Suamiku kemeja ini sangat bagus.”


“Kau benar, coraknya seperti karya seni  ...” Aku senang mereka menyukainya.


“Eomma lihat apa yang aku dapat, ini keren sekali.” Kakak Perempuan Oppa menerima satu set pashima sutra dengan tiga warna berbeda-beda.


“Berikan Mama yang biru, itu cantik sekali...”


“Eomma ini hadiahku.” Eonnie tak mau memberikan setnya yang terdiri dari tiga corak itu.


“Kau ini pelit sekali ke Mama, ayo kemarikan yang biru...”


“Nanti minta anakmu mengirimkan dua set lagi, kalian jangan bertengkar berebut hadiah. Menantu jangan lihat ini, ini sangat memalukan...” Paman sekarang menengahi pertengkaran itu membuat semuanya tertawa. Dan aku hanya tersenyum lebar menyaksikannya. Syukurlah, semuanya baik-baik saja.


“Anakku, kau kembali ke sana belikan lagi, astaga pashima ini cantik sekali, ini bisa kuberikan sebagai hadiah ke banyak orang.” Oppa  hanya mengiyakan dengan senyum lebar.

__ADS_1


“Kudengar kau dokter juga Nak, dan bahasa Koreamu sangat fasih, ternyata benar yang Joshua bilang kau sangat fasih, kau membantunya sangat banyak disana, sekarang aku mendengar sendiri....” Papanya Oppa mulai bertanya.


__ADS_2