Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 1 Part 5. Bencana Emosional Yang Harus Dihindari


__ADS_3

Mama masih dirawat hari ini, tapi kata dokter Rina kalau besok observasinya bagus harusnya sudah boleh pulang.


Akhirnya Ardy datang ke rumah sakit nenggok Mama. Tapi tetap saja dia keras kepala tak mau pulang. Dia benar-benar berniat melawanku sekarang. Bagaimana aku harus menjelaskan pada Mama.


Bicara padanya hanya membuat pertengkaran panjang lainnya. Aku makan sedirian di kafetaria rumah sakit dan melihat pesan Ardy dia benar-benar berniat keluar dari rumah. Plus sekarang dia tak mau mengangkat teleponku, dia hanya membalas pesanku kalau dia ingin membalasnya. Benar-benar sangat bagus kelakuannya.


"Katanya Mamanya masuk rumah sakit Bu Melisa?" Seseorang duduk dengan nampan makanan didepanku. Pak Direktur!


"Ohh Pak Vincent." Kenapa dia terdampar di mejaku.


"Disini kosong? Apa saya menggangu."


"Tidak, saya sendiri sihlakan duduk Pak." Mana berani aku bilang menggangu.

__ADS_1


"Mamanya udah sembuh?" Dari mana dia tahu Mama masuk rumah sakit, cuma Dhea yang tahu kemarin.


"Iya, akhirnya harus opname. Tapi udah baikan semoga besok bisa pulang."


"Tinggal Mama ya?" Nih Bambang kepo juga ya. Aku gak tahu dia tipe sekepo ini. Dia melepas jas dokternya. Sekarang hanya memakai kemeja biru bergaris, aku beberapa kali melihatnya memakai warna ini nampaknya warna favoritnya adalah biru.


"Iya, Papa udah gak ada." Aku mengiyakan keingintahuannya akhirnya.


"Ardy sudah balik?" Aku menatapnya. Apa perlu dia menanyakan itu. "Maaf saya hanya mendengar kamu bicara kemarin... Adik pemberontak memang masalah. Tapi karena saya juga pernah diumur itu mungkin saya memiliki perfektif berbeda terhadap pemberontakan."


"Oh ya? Mungkin itu bukan jurusan yang dia mau?" Tebakannya langsung mengenai sasaran. Aku langsung terdiam. Bambang meneliti mukaku.


"Jurusan yang dia mau tak punya masa depan." Dia tersenyum mendengar perkataanku.

__ADS_1


"Kenapa dia ingin jadi seniman? Bahkan seniman terkenal bisa menjual hasil karyanya milliaran..." Dia menaikkan alis matanya padaku. "Kau tahu bahkan banyak mahasiswa seni cuma membuka channel Yo*uTube, memperlihatkan skill mereka, dan punya penghasilan puluhan juta dari bakat mereka. Tak ada yang sia-sia jika kau ahli dan menekuninya..."


Aku diam. Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk memasukkannya ke kampus itu. Apa aku terlalu mengaturnya.


"Kau harus mengajaknya bicara bukan terus menekannya, setidaknya kalian bisa mencapai kesepakatan... Bagaimanapun dia juga perlu bantuanmu pastinya." Aku tak mengatakan apapun soal sarannya, Ardy sekarang tak mau mendengarku, mengangkat teleponku pun dia tak mau.


"Makanlah, nanti dingin makanan. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya jika dibicarakan dengan kepala dingin."


"Thanks Pak Vincent." Aku harus mengucapkan terima masih atas kesediaannya memberiku saran. Ternyata dibalik sikapnya yang lugas dan tegas, dia tak sepenuhnya kaku. Orang ini punya banyak gelar dibelakangnya. Saat meneliti bagan organisasi, kutemukan dia sudah memakai Dr. bukan dr. lagi, S3 Kedokteran. Tak salah jika dia di cap gila kerja, atau kenapa dia bisa mencapai posisi Director di usia belum kepala 4.


"Iya mungkin begitu. Katanya kita hanya harus merubah sudut pandang..."


"Dan mendengarkan terlebih dahulu." Dia menyambung perkataanku.

__ADS_1


"Mendengarkan lebih dulu..." Dan aku mengulang perkataannya dengan tidak yakin.


Mendengarkan Ardy, sekarang dia tidak mau menemuiku. Bicarapun tidak, kemarin dia hanya pura-pura baik denganku didepan Mama. Setelahnya dia pergi tanpa bicara. Dia hanya perlu 5 juta di rekeningnya. Dan aku merasa sebagai sapi perahannya...


__ADS_2