Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 17. Hyo-rim 2


__ADS_3

“Dok, apakah kau berencana kembali ke Seoul dalam jangka waktu tertentu.” Pertanyaan lainnya lagi mengenai  masa depan, seakan dia mau terlibat dengan masa depanku.


“Aku tak tahu. Belum memutuskan apapun, disini masih banyak pasien. Lagipula mana mungkin Director mengizinkanku mengundurkan diri.”


“Hmm benar juga. Aku  akan memanggil pasien berikut.” Dan dia menarik dirinya sendiri  secepatnya, seakan pertanyaannya itu hanya sambil lalu saja membuatku harus berpikir tentang ketertarikannya yang kadang sedikit tidak biasa itu.


Dia cantik, pintar, dia bisa mendapatkan perhatian dari banyak orang. Punya sisi playful yang terlalu menarik bagi banyak pria. Kadang dia membuatku takut pada diriku sendiri, aku mati-matian bersikap biasa menerima perhatiannya, menganggap itu sebagai rasa terima kasihnya.


Leo yang begitu tampan tak menarik perhatiannya, tapi  Erwin yang mungkin lebih berbahaya menarik baginya... Ngomong-ngomong aku penasaran apa sekarang dia berkencan dengan Erwin, karena sepertinya Leo menyerah mengejarnya. Sial! Kenapa aku malah ingin tahu hubungan pribadinya. Belakangan kadang aku berpikir terlalu jauh.


------999


“Titipan dari Ibumu,...” Aku ikut ke kamar Hyo-Rim setelah makan malam. Untuk mengambil titipan Ibu, kurasa ini punya akibat nantinya. Tapi baiklah, kita hadapi saja. Dia sudah tahu apapun yang terjadi tak akan mengubah hubungan kami.


“Terima kasih...” Dia duduk di sofa bersamaku. Seperti biasa dia terlihat cantik.


“Apa ada kemungkinan  kau akan menetap disini? Kau bilang pasienmu banyak disini...”


“Aku tak tahu, entahlah, jalani saja dulu. Ini masih wilayah Asia lagipula. Aku tak pergi ke belahan dunia lain.”


“Hmm... nampaknya kau akan betah disini. Kau punya teman disini...”


“Banyak, dokter-dokter disini sangat baik. Makanan Korea mudah ditemukan.  Sebenarnya tidak buruk disini.”


“Maksudku teman perempuan.” Hyo-Rim tersenyum menggoda.

__ADS_1


“Aku belum memikirkan itu.”


“Ini sudah hampir tiga tahun, kau ingin menjadi biksu?”


“Hyo-Rim...” Dia tiba-tiba mengeser tempat duduknya didekatku.


“Bagaimana kalau aku sedikit membantumu? Langkah pertama harus diambil bukan...” Dia menaruh tangannya ke pahaku. Aku menahannya.


“Hyo-rim...Ini...”


“Ini tak akan merubah apapun, aku tahu. Kau tak bisa membawaku dalam ikatan apapun. Aku tidak mengharapkan itu, sejak kau memutuskan pergi dari Seoul aku sudah tahu itu, aku punya seseorang sekarang, tapi anggaplah ini sebuah bantuan dari  teman yang ingin kau bahagia. Mungkin kau akan punya seseorang disini, kau harus mengambil langkah pertama... Ini  hanya bantuan untuk mengembalikan dirimu.” Dan dia sudah naik ke pangkuanku, membawa tanganku ke pinggangnya. Dan  tubuhku bereaksi spontan terhadap kedekatan seorang wanita. Saat Hyo-rim dengan berani menciumku, sesuatu bangkit dari diriku. Sial! Begitu mudah dia memancingku.


“Hyo-rim, kau akan menyesali ini...” Aku menahan tangannya yang membuka kancing kemejaku.


“Tidak, kau tahu aku tak menyesali apapun... Dan kau tak perlu khawatir apapun. Aku menginginkan ini, mungkin aku penasaran, setelah ini, mungkin aku tak penasaran lagi, aku benar-benar rela. Lagipula... “ Dia berhenti sebentar sebelum tubuhnya bawahnya bergerak dengan ahli dan bibirnya mendesah, membuat tanganku mengapai pinggang rampingnya.  “Bukankah kau menginginkannya juga...”


\=======777


Hyo-rim itu benar-benar membuatku kewalahan. Dia membuatku terlibat pembicaraan panjang.


“Oppa, kau harus menemukan seseorang. Kau selalu menginginkan keluarga, merawat keluargamu dengan baik. Mungkin ini hanya kesempatan kedua. Tak seorangpun akan menyalahkanmu. Kau sudah menebusnya dengan berat. Semua orang tahu apa yang  kau jalani. Berhentilah menyalahkan dirimu,..” Dia mengatakan hal sama persis seperti yang dikatakan Yuna.


“Kau benar-benar rela melepasku seperti ini.” Aku menatap matanya yang sekarang  berbinar


“Aku rela, lagipula aku sudah menemukan Oppa yang lain. Tapi kau selalu punya tempat di hatiku. Kapanpun kau butuh teman bicara, nasihat seorang wanita, teleponlah aku.”

__ADS_1


“Aku hanya bisa membalasmu dengan terima kasih.”


“Aku tahu... dan aku benar-benar berharap kau membuka dirimu.”


“Aku akan berusaha. Terima kasih sekali lagi...”


Dia melepasku dengan senyum lebar, seakan sudah berhasil menyelesaikan misinya. Kadang aku merasa harus sangat bersyukur dikelilingi teman dan keluarga yang sangat mendukung seperti ini.


Dan akibatnya kali ini aku tak sempat berganti kemeja baru, aku punya konsultasi pagi jam 9.


“Pagi Dok...” Yuna yang masuk mengamatiku saat aku masuk. Aku tahu dia punya pikirannya bahwa aku masih memakai baju yang kemarin. Aku bahkan tidak memakai dasi, kurasa aku meninggalkannya di tempat Hyo-rim.


“Pagi...” Dia masih tetap mengamatiku. “ Ada yang salah?”


“Apa itu...” Dia mengamatiku.


“Apa?”


“Sesuatu di lehermu...”


“Leher?” Aku meraba leherku.


“Iya, biarkan aku memeriksanya...” Dia maju ke depanku. Jangan-jangan yang dimaksudkannya adalah...


“Hickey (******)...” Dia menutup mulutnya dan menatapku dengan pandangan  naifnya. Mukanya langsung memerah dan berbalik cepat.

__ADS_1


Hyo-rim, kau benar-benar memberiku masalah!


__ADS_2