
Kalau tidak berhasil anggaplah itu sebuah babak kehidupan. Belakangan kata-kata Mama itu terbayang olehku. Hubungan kami enam bulan ini baik-baik saja. Oppa tak terasa sudah setahun berada di Indonesia, waktu berjalan begitu cepat.
Kami belum meresmikan hubungan kami, dalam arti kami masih belum bergandengan secara terbuka di depan orang banyak. Dia bersikap sebagai teman dekat, teman mesra, tapi tetap menghormatiku, menghormati pesan Mama. Padahal sudah setengah tahun... Sebenarnya sampai kapan dia mau menunggu hanya untuk mengumumkan hubungan kami.
“Oppa, kenapa kita tidak terang-terangan saja, apa ada masalah.” Di sebuah sore akhir saat kami ke pantai menikmati sore akhir pekan aku bicara dengannya.
“Teman-teman selevel sudah tahu, seperti Pak Vincent, Dokter Andreas. Cuma aku masih menjaga suasana kerja, tak apa bukan.”Baiklah, mungkin memang maksudnya baik. Tapi aku belum pernah bertemu keluarganya.
“Oppa, kapan aku kenal dengan keluargamu.”
“Keluargaku di Seoul, bagaimana kau pergi menemui mereka?”
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita manfaatkan libur enam hari bulan depan untuk ke Seoul.” Dia terdiam sekarang menatapku.
“Yuna, mungkin nanti dulu...”
“Kenapa?” Aku langsung protes, menyadari bahwa dia menolak.
“Ini terlalu cepat.” Aku gagal mencerna kalimatnya. Terlalu cepat. Apa dia masih menunggu, dia sudah 40, apa dia tidak ingin punya keluarga lagi. Atau aku satu-satunya yang bermimpi terlalu tinggi.
“Kau berumur 40, aku berusia 26, bagian mana yang terlalu cepat?” Aku menatapnya dengan lekat dan meminta penjelasan atas kalimatnya.
Aku tiba-tiba sadar selama ini aku belum pernah berkenalan dengan lingkungan dalamnya. Dan yang lebih penting lagi, kami belum pernah membicarakan masa depan. Apa dia belum punya keyakinan padaku selama ini. Apa dia belum bisa membayangkan kami punya masa depan? Atau karena dia mungkin tidak bisa pindah ke Jakarta selamanya.
__ADS_1
“Jujurlah padaku, apa kau tidak mungkin pindah ke Jakarta selamanya.” Mungkin benar yang dikatakan Mama semua ini terlalu sulit, bahwa hubungan ini hanya menjadi satu babak lagi dalam kehidupanku.
“Bukan seperti itu, jikapun aku memutuskan pindah, aku harus bicara dengan Ibu dan Ayah terlebih dahulu. Tak bisa aku putuskan langsung.” Mataku memanas, jadi ini yang sebenarnya. Mungkin setelah kontrak berakhir dia lebih memilih kembali, mungkin orang tuanya tidak mengizinkan anak mereka punya hubungan denganku? Sedangkan aku juga tidak mungkin meninggalkan Mama sendiri disini.
Aku diam. Aku juga tidak mungkin menunggu sampai empat tahun lagi untuk menerima keputusannya.
“Katakan padaku Oppa, apa sebenarnya kita punya masa depan...” Aku menatap matanya di sore itu, aku tak tahu apa yang ada dihatinya. “Jujur saja, selama ini aku sadar kita belum pernah membicarakan masa depan.”
“Yuna, tolonglah, aku benar-benar belum bisa memutuskan apapun tanpa bertemu Ibu dan Ayah.Iya aku akan kembali ke Seoul. Tapi mungkin aku belum bisa membawamu, akan lebih baik jika aku bicara sendiri...” Aku diam, sebuah pisau dingin menghunjamku. Dia tidak bilang apapun soal memperjuangkanku, bisa dimegerti sikapnya yang bahkan belum mau mengumumkan kedekatan kami dikantor.
Aku terisak, entah kenapa kusadari bahwa Mama benar, dia bisa melihat masalah lebih jernih dari aku yang sedang dimabuk cinta. Ini sulit, benar-benar sulit. Aku menggangap cinta akan mengatasi segalanya, tapi tidak semudah itu. Apalagi memaksa seseorang meninggalkan indentitasnya dan pindah ke negara baru selamanya.
__ADS_1