Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
37.Tapi Pah,


__ADS_3

"Maaf pak, pihak Gandratama menyetujui untuk bekerja sama dengan perusahaan kita," ucap Sekretaris Davin langsung membuat mata Davin melebar.


"Jangan bercanda, sudah sekian bulan kita mengajukan lalu kenapa mereka baru menyetujuinya sekarang?" tanya Davin yang tidak percaya.


Sekretaris yang bernama Tita itu tahu betul maksud dari ekspresi Davin.


"Bagaimana pak, apa bapak akan menolaknya?" tanya Tita.


Sejenak Davin berpikir, untuk sekarang bagaimana bisa dia harus bekerja sama dengan perusahaan milik suami dari mantan istrinya.


"Jika bapak keberatan, kita bisa membatalkannya!" ujar Tita lagi semakin membuat Davin bimbang.


"Beri saya waktu untuk berpikir. Besok saya kabari lagi." Davin berkata dengan bingung.


"Maaf pak, jika sampai besok pagi kita tidak memberikan jawaban. Mereka akan membatalkan kerja sama ini," ujar Tita semakin membuat Davin bingung.


Tita kemudian keluar, begitu juga dengan Davin yang langsung pergi untuk menemui papahnya yang sedang bermain golf.


"Bagaimana menurut papah?" tanya Davin meminta pendapat Robby.


"Ya bagus, ini bisa menjadi batu loncatan bagi perusahaan kita," ujat Robby yang setuju.

__ADS_1


"Tapi pah...,"


"Jangan campurkan masalah pribadi dan pekerjaan. Bersikap lah dewasa Davin, kau bukan anak kecil lagi," tukas Robby kembali melanjutkan permainannya.


Davin menghela nafas kasar, mau tidak mau pria tersebut menghubungi Tita lalu mengatakan jika dirinya setuju.


Di tempat lain, Alan tersenyum lebar ketika mendapat kabar jika Davin sudah setuju dengan kerja sama mereka. Ini masih awal, Alan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membalaskan dendam Linda.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Gian yang merasa curiga pada senyum Alan.


"Aku tidak akan membawa perusahaan ini untuk bekerja sama," jawab Alan.


"Jangan bilang kau akan mengaitkannya dengan perusahaan kecil yang sengaja kau bangun untuk Linda?" tebak Gian langsung di benarkan oleh Alan.


"Terserah kau saja, selama itu tidak membuat kita rugi ya tidak masalah!"


"Atur pertemuan besok siang. Setelah itu aku dan Linda akan berangkat mengantar Melan," titah Alan kemudian bangkit dari duduknya.


"Mau kemana kau?" tanya Gian.


"Maklum, pengantin baru!" seru Alan.

__ADS_1


"Tidak ada lelahnya," ucap Gian bergeleng kepala.


Alan pulang, ini tidak seperti biasanya. Rasa rindunya jauh lebih. besar dari pada tanggung jawab di perusahaan.


"Loh, kok sudah pulang?" tanya Linda heran.


"Rindu sama istri ku," jawab Alan lalu menarik Linda ke dalam pelukannya.


"Jangan seperti ini, jika Melan lihat tidak enak nanti," ujar Linda yang merasa geli ketika suami nya menciumi Linda seperti anak kecil.


"Gak peduli. Kalau dia mau nikah aja sana!" ujar Alan.


"Sayang, semakin ke sini semakin aki mengenal mu yang seperti bayi ini. Jika semua karyawan mu melihat, apa ya tanggapan mereka?"


"Biarkan saja!" seru Alan, "Sayang, apa kau lelah?" tanya Alan yang memiliki maksud.


"Jangan bilang.....," Linda tidak meneruskan ucapannya.


"Ayo main air sayang!" ajak Alan dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Apaan ih...?" Linda menggeser duduknya.

__ADS_1


Tidak peduli, Alan menarik tangan istrinya menuju kamar mandi. Di siang bolong seperti ini, kamar mandi di rumah Alan sedang bergoyang. Tidak ada yang tahu, hanya mereka saja yang asyik bermain air sambil menanam benih dengan kwalitas terbaik.


__ADS_2