Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
82.Tidak tertarik


__ADS_3

"Biarkan Linda istirahat. Jangan ganggu dia," ucap Alan pada adiknya yang hendak masuk ke dalam kamar kakaknya.


"Apa kak Linda baik-baik saja?" tanya Melan khawatir.


"Ya, biarkan dia istirahat!"


"Kakak mau kemana?" tanya Melan.


"Kakak ada urusan. Jangan pergi kemana-mana, di rumah saja!" pesan Alan pada adiknya sebelum pergi.


Sementara itu, menjelang sore hari ini Vina sudah sadarkan diri. Gadis ini menangis memohon minta di bebaskan. Diana dan Robby terus menenangkan anak gadis mereka.


"Bagaimana Davin?" tanya Robby ketika anak laki-lakinya baru saja masuk.


*Mereka menolak terutama Linda," jawab Davin lesu.


"Dasar perempuan tidak tahu diri. Tidak memiliki perasaan sama sekali. Dia berpikir jika dia banyak uang dia sudah merasa berada di atas awan!" Diana emosi.


"Vina mau bebas. Vina gak mau di penjara, lebih baik Vina mati," gadis itu menangis.


"Jangan bicara seperti ini Vina. Mamah sayang sama Vina,"


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, seorang pria tampan dengan kacamata hitam masuk ke dalam ruangan tempat di mana Vina di rawat.


"Aku datang ke sini hanya untuk memperingatkan kalian saja. Jangan pernah menemui atau pun mengusik kehidupan Linda jika tidak,....!"


"Jika tidak apa hah?" tanya Diana memotong ucapan Alan.


"Kalian pasti paham apa yang akan aku lakukan. Dan kau Davin, jangan pernah berpikir untuk menghasut istri ku agar mau kembali pada mu."

__ADS_1


"Linda ada hak untuk memilih!" seru Davin membuat Alan tertawa.


"Hak Linda ada pada ku," sahut Alan.


"Linda itu janda, janda bekas dan sisa anak ku. Apa kau tidak malu mendapatkan bekas anak ku?" tanya Diana geram.


"Mah,..." Robby membentak istrinya.


Alan melepas kacamatanya lalu berkata dengan tegas, "Seburuk apapun pun masa lalu Linda, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku menyayangi Linda setulus hati ku. Setiap orang memiliki kekurangan dan aku harap aku bisa menjadi pelengkap dalam hidup Linda. Jadi tolong berhenti untuk datang ke rumah ku untuk mengusik istri ku!"


Alan keluar tanpa tanggapan sepatah katapun dari keluarga Davin.


"Sialan, bajingan itu sok berkuasa!" umpat Diana.


"Mamah, Vina ingin bebas!" rengek Vina.


Alan tidak langsung pulang, pria ini mampir ke toko kue sebentar untuk membeli kue pai kesukaan istrinya sejak hamil. Alan memejamkan matanya, tersadar jika selama ini kehidupan istri tidak pernah bahagia dan selalu tertekan.


Tidak sengaja Alan di kejutkan oleh Gibran yang baru masuk.


"Heh, mau apa kau ke sini?" tanya Alan.


"Anu kak, beli kue. Masa iya beli penjualnya!" lagi-lagi Gibran merasa gugup ketika bertemu dengan Alan.


"Coba saja kau kalau berani menyakiti adik ku. Akan ku cabut nyawa mu!" ancam Alan.


"Tidak kak. Aku tidak berani, ini aku membeli pesanan kue untuk Melan," ucapnya jujur.


"Kau tahu kesukaan adik ku?" tanya Alan penasaran.

__ADS_1


"Tentu, Melan sangat suka makan kue mochi rasa tea. Kakak mau coba?" tawar Gibran.


"Tidak tertarik. Aku pulang dulu!" kata Alan berlalu pergi.


Gibran menghembuskan nafas kasar, mengusap dadanya karena setiap kali bertemu dengan Alan selalu saja merasa gugup.


Setibanya di rumah, Alan sudah mendapati istri duduk di taman samping rumah bersama Melan dan Julia yang juga baru tiba.


Linda langsung memeluk suaminya, "Sayang, dari mana saja?" tanya Linda cemberut.


"Aku hanya keluar sebentar untuk membelikan mu kue. Apa kau sudah mandi?" tanya Alan.


"Belum, nanti saja!"


"Tidak apa tidak mandi. Istri ku sudah cantik," kata Alan membuat Melan dan Julia mendadak iri pada Linda.


"Coba saja bajingan itu bersikap manis pada ku. Pasti aku bahagia sekarang!" ucap Julia menghela nafas.


"Siapa yang kau bilang bajiangn?" tanya Gian yang baru datang.


"Kau, karena kau sama sekali tidak ada romantisnya!" sahut Julia kesal.


Tak berapa lama Gibran datang lalu memberikan kue pada Melan.


"Apa-apaan ini, kenapa tuan Alan pulang membawakan kue untuk Linda begitu juga dengan Gibran dan Melan. Kenapa kau hanya datang dengan tangan kosong?"


"Matilah kau...!" ejek Alan pada Gian.


"Meskipun aku datang tidak membawa kue atau pun bunga. Sudah pasti aku datang membawa cinta," ucap Gian lalu membujuk Julia.

__ADS_1


__ADS_2