Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
47.Waktu Adalah Uang


__ADS_3

Bahagianya keluarga Davin malam ini, mereka sedang merayakan keberuntungan yang datang sekaligus. Davin mengajak keluarganya makan malam di restoran mewah berkelas.


Robby juga mendadak bangga atas kerja anaknya yang belum lama ini sudah mendapatkan keuntungan yang luar biasa.


"Seharusnya sudah dari dulu si Alan itu menerima kerja sama kita. Mamah bangga dengan usaha kamu Davin," Diana memuji anaknya.


"Vina juga ikut senang mah, apa lagi sebentar lagi kak Helen akan menjadi artis papan atas," timpal Vina.


"Jika Helen bisa menjadi arti terkenal, papah yakin jika tahun ini perusahaan kita akan semakin di kenal luas," kata Robby menimpali.


"Apa ku bilang, Alan itu bisa di andalkan. Sayang, sekarang kau sudah sangat dekat dengan Alan, kau bisa menghasut dia untuk membenci Linda," Helen kembali mengompori suaminya.


"Ah, kak Helen benar. Si gendut yang tidak tahu terima kasih itu harus di beri pelajaran!" kata Diana.


"Sudah, jangan bahas Linda. Mari makan, nanti dingin makanannya," ujar Robby lalu keluarga mereka makan malam bersama.


Sementara itu, Alan dan Linda yang baru selesai makan malam langsung membuka rekaman video yang baru di kirim oleh anak buah Alan. Alan tersenyum tipis ketika melihat keluarga Davin sedang makan malam di restoran mewah.

__ADS_1


"Kau lihat sayang, mereka sedang menikmati sisa kebahagiaan mereka sebelum kita menghancurkannya!" ujar Alan.


"Aku tidak pernah menyangka jika om Robby memiliki sifat licik," Linda bergeleng kepala melihat sikap keluarga dari mantan suaminya itu.


"Jangan khawatir apa pun. Aku akan selalu ada bersama mu. Anggap saja ini hiburan bagi kita," ujar Alan sambil mengusap pucuk kepala istrinya.


Malam telah berganti pagi, Alan dan Linda berangkat bersama ke kantor hari ini. Baru saja Alan keluar dari mobil, laki-laki itu langsung membuang nafas kasar.


"Apa kau tidak memiliki pekerjaan?" tanya Alan, "Pagi buta sudah berada di kantor orang!'


"Aku datang ke sini untuk bekerja. Jadi, tolong tarik kata-kata mu kembali," ujar Airin dengan sombongnya.


"Dia bekerja untuk ku. Jadi, kalian usah sibuk mengurusinya!" tiba-tiba Davin menyahut dari arah belakang.


Melihat kedatangan Davin, Airin langsung tersenyum penuh kemenangan.


"Ya, sekarang aku Sekretaris Davin yang akan menggantikan Tita dalam kerja sama kalian!" ucap Airin membuat Alan kembali membuang nafas kasar.

__ADS_1


"Oh ya Linda, bukankah kita ada rapat?" tanya Davin, "Jangan membuang waktu. Mari kita segerakan acara rapatnya." Davin terlihat sangat sombong.


"Em, waktu adalah uang. Semakin cepat kita rapat semakin cepat pula aku memiliki waktu untuk menemani suamiku bekerja nanti," sahut Linda langsung membuat Davin geram begitu juga dengan Airin.


"Istri ku sayang, kalau begitu aku masuk ruangan dulu. Kalau lelah istirahat," ujar Alan lalu mencium pipi istrinya sekilas menambah panas Airin dan Davin.


Linda kemudian pergi ke ruangan rapat, untuk sekarang Linda belum menemukan Asisten pribadi yang bisa di percaya. Di belakangnya Davin dan Airin mengikuti Linda.


Alan memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, tak berapa lama Gian menghampiri Alan.


"Ku pikir akan ada adegan jambak menjambak. Makanya aku menonton saja sejak tadi," ujar Gian menertawakan Alan.


"Cepat cari Asisten untuk Linda. Aku yakin jika Davin dan Airin akan mengganggu istri ku," titah Alan.


"Tiba-tiba kerja sama Davin, apa mereka saling kenal?" tanya Gian penasaran.


"Hah, entahlah. Terserah mereka ingin melakukan apa, yang penting rencana kita berjalan sesuai rencana!" ujar Alan kemudian pergi ke ruangannya.

__ADS_1


Dalam rapat ini, untung saja Linda di dampingi dengan beberapa karyawan. Namun, meksi pun begitu terkadang Airin mengeluarkan sindiran begitu juga dengan Davin. Linda masa bodoh, sudah biasa dia mendengar hal seperti itu.


__ADS_2