Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
60.Aku Pusing


__ADS_3

"Melan, coba tampar wajah kakak sekali saja!" titah Alan yang masih belum percaya dengan ucapan Dokter.


"Hah?" Melan terperangah.


"Cepat!"


Plaaaaak,.....


Suara cempreng dari tangan menyentuh pipi membuat Dokter laki-laki yang ada di depan Alan langsung menelan ludahnya kasar.


"Duh, sakit gak kak?" tanya Melan panik.


"Sedikit. Kakak akan menjadi seorang ayah!" ucap Alan lalu memeluk adiknya.


"Aduh, lepaskan. Sakit kak!"


"Kakak akan menjadi seorang ayah Melan. Apa kamu tidak senang?" tanya Alan melepas pelukannya lalu mencubit pipi adiknya hingga merah.


"Melan juga senang, tapi jangan seperti ini. Sakit!" gadis itu menangis sambil mengusap pipinya.


"Oh sakit ya!" ujar Alan lalu mendorong adiknya ke arah Dokter laki-laki yang bernama Gibran itu, "Obati adik ku sampai sembuh jika tidak akan ku tutup rumah sakit ini," kata Alan lalu meninggalkan Melan bersama Dokter Gibran.


Alan masuk ke dalam ruangan, pria ini sudah mendapati istri sedang duduk di pinggiran brankar.


"Sayang, kenapa kau duduk?" Alan buru-buru menghampiri istrinya.


"Kenapa aku di infus seperti ini?" tanya Linda bingung.


Alan memeluk istrinya, mencium seluruh wajah Linda membuat Linda semakin bingung.


"Aku sedang sakit kenapa kau bahagia seperti ini. Suami macam apa kau ini?" Linda kesal.


"Jangan marah sayang, apa kau tahu sesuatu?"


"Apa, aku tidak tahu jadi cepat beritahu aku?"

__ADS_1


"Sayang, benih yang aku tanam selama ini akhirnya tumbuh di sini, di rahim mu," ucap Alan dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi, maksud mu aku hamil?" tanya Linda memastikan.


Alan mengangguk lalu kembali memeluk istrinya, "Sayang, kau menangis?"


"Iya, aku terharu dan juga bahagia. Aku telah mematahkan ucapan beberapa orang yang mengatakan jika aku tidak bisa memiliki keturunan karena berat badan ku dulu," kata Linda sesegukan.


"Tunjuk orangnya, suami mu ini akan merobek mulutnya!" ucap Alan yang geram.


"Kak, kau harus memberikan ku kompensasi," Melan dan Dojter Gibran masuk ke dalam ruangan membuat Linda bingung.


"Kompensasi apa Melan?" tanya Linda.


"Pipi ku sakit gegara di cubit suami mu yang brengsek ini," ujar Melan dengan pipi merahnya.


"Aku sudah menyuruh Dokter itu untuk mengobati mu. Kenapa kau malah meminta kompensasi pada ku?" Alan tidak terima.


"Maaf pak, saya Dokter kandungan!" sahut Gibran.


"Kakak yang meminta sendiri. Gibran saksinya!" Melan tidak terima.


"Aku pusing, kenapa kalian bertengkar di sini? Aku mau pulang!" ucap Linda kesal.


"Maaf sayang. Melan yang mulai dulu. Jangan pulang, kau masih harus di rawat," ujar Alan membujuk istrinya.


"Tidak, aku ingin pulang!" tegas Linda.


"Heh, istri ku mau pulang. Cepat periksa dia lagi," titah Alan pada Gibran membuat Dokter muda itu gugup, "Hati-hati, lecet sedikit akan ku patahkan tangan mu!" ujar Alan lagi-lagi membuat Gibran menelan ludahnya.


"Astaga kak, jangan membuatnya takut!" tegur Melan bergeleng kepala.


Setelah di lakukan pemeriksaan sekali lagi, Linda pada akhirnya di perbolehkan untuk pulang. Bahkan, Alan meminta Gibran langsung untuk menjadi Dokter Kandungan pribadi untuk istrinya.


Melan sangat kesal dengan kakaknya hari ini. Apa lagi perjalanan pulang ke rumah kali ini dirinya harus menggantikan mengemudi. Sedangkan Alan terus menempel seperti lintah pada Linda di kursi belakang. Alan terus mengusap perut datar milik istrinya, menggenggam tangan wanita itu tak mau lepas.

__ADS_1


"Sayang, kita besok kita akan membeli perlengkapan bayi ya," ujar Alan.


"Nanti saja, lahirnya masih lama. Masih kurang delapan bulan lagi," tolak Linda.


"Kenapa lama sekali? besok dia harus lahir!" ujar Alan.


"Dasar bodoh!" umpat Melan yang benar-benar sudah kesal, "Kak Linda baru mengandung satu bulan. Jadi, masih kurang delapan bulan lagi agar jagung itu bisa di panen!"


"Kau mengatai anak ku jagung?" Alan menjewer kuping adiknya.


"Aku benar-benar pusing. Bisakah kalian diam sebentar saja!" keluh Linda.


"Diam kau!" bentak Alan pada adiknya.


Sementara itu, Robby dan Davin sudah mulai lelah untuk mencari seseorang yang mau membantu perusahaannya. Bahkan, sampai sekarang mereka belum menyewa pengacara untuk Vina karena uang mereka benar-benar menipis.


"Mau tidak mau kita harus kembali meminta pada Alan," ujar Robby yang sudah pasrah.


"Bagaimana bisa kita meminta bantuan pada mereka sedangkan mereka yang memasukan Vina ke dalam penjara?" Diana menolak keras.


"Papah benar mah. Hanya Alan yang bisa membantu perusahaan kita," timpal Davin.


"Kenapa kalian lebih mementingkan perusahaan, kenapa kalian mengabaikan Vina?" Diana marah.


"Jika perusahaan kembali normal, kita akan lebih mudah untuk membebaskan Vina mah. Bersabarlah sedikit!" ucap Robby kesal.


"Terserah kalian. Yang penting Vina bebas!" ujar Diana lalu masuk ke dalam kamar.


Di lain tempat, Helen dan Vina bertemu di kantor polisi dengan pengawasan yang ketat.


"Kau dan kakak mu terlalu berambisi untuk menjatuhkan Linda. Apa lagi perempuan itu, sama sekali tidak berguna!" ujar Helen mencibir Vina dan Airin.


"Apa kau senang sekarang?" tanya Vina tertawa masam, "perempuan licik dan penipu seperti mu itu tidak pantas mengatakan hal seperti itu pada ku!"


Helen tersenyum, lalu berkata, "Kakak mu sudah membuang ku. Jadi, aku senang melihat keluarga mu berantakan seperti ini. Lagian, percuma juga hidup dengan keluarga pelit seperti kalian!"

__ADS_1


Helen bangkit dari duduknya, Vina yang geram hendak memukul mantan kakak iparnya yang belum resmi bercerai ini. Namun, polisi langsung mengamankan Vina.


__ADS_2