Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
38.Sejujurnya


__ADS_3

Davin menelan ludah nya, mimik wajahnya seketika gugup ketika melihat Alan masuk ke dalam ruangan rapat bersama dengan Linda. Sekretarisnya pun juga langsung menunduk menahan malu apa lagi di saat Linda mengumbar senyum padanya.


"Langsung saja pak Davin, karena saya tidak memiliki waktu banyak untuk anda." Alan berkata dengan wajah tegasnya.


"Tapi, kami butuh waktu satu jam untuk menjelaskan rencana kerja sama ini," ucap Davin yang seketika menjadi bodoh. Bukannya apa, pria ini tidak fokus karena mantan istrinya duduk di sebrang meja tepat di hadapannya.


Alan melirik jam yang melingkar di tangannya, "Tiga puluh menit, karena kami harus pergi ke bandara nanti," ujar Alan membuat Davin penasaran.


"Ehem, memangnya pak Alan mau pergi ke mana?" tanya Davin sangat penasaran.


"Saya dan istri saya akan pergi luar negeri. Bulan madu!" jawab Alan langsung membuat wajah Davin pias.


Tita sang Sekretaris mulai merasa hawa yang berbeda dari bosnya.


"Oh, hehe...," Davin cengengesan.


Atas perintah Davin, Tita mulai menjelaskan isi dari rencana kerja sama mereka. Alan tidak peduli, laki-laki itu sesekali mengumbar kemesraan bersama dengan Linda yang membuat Davin seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


"Sayang, aku haus!" ucap Linda dengan suara manjanya.


"Ini kan ada air minum. Minumlah sayang," ujar Alan.


"Aku tidak mau, cuaca sedang panas. Aku ingin jus orange," pinta Linda dengan manjanya.


"Gian, kau dengarkan istri ku bilang apa tadi?" tanya Alan.


"Ya, saya akan pergi sekarang!" seru Gian bergegas pergi.


Davin bingung ingin menjawab apa, laki-laki ini hanya melirik mantan istrinya yang terlihat sangat cantik sekarang.


"Sebenarnya, perusahaan pak Alan akan bekerja sama dengan perusahaan milik istri saya," ujar Alan memberitahu.


"Apa?" Davin terkejut begitu juga dengan Tita, "Tapi, saya maunya bekerja sama dengan Gandratama." Davin tidak terima.


"Perusahaan istri saya masih berada di bawah naungan Gandratama. Jadi, jangan khawatir untuk rugi," jelas Alan namun tetap saja Davin menolak.

__ADS_1


"Tidak masalah jika pak Davin menolak, masih banyak perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan saya!" sahut Linda dengan wajah tegasnya.


"Pikiran lagi, jika pak Davin menolak segera hubungi asisten saya. Karena masih banyak yang mengantri untuk bekerja sama," ujar Alan membuat Davin bimbang.


"Sayang, sudah jam segini. Ayo pergi, nanti ketinggalan pesawat!" ujar Linda langsung di iyakan oleh Alan.


Alan dan Linda menutup rapat, sepasang suami istri itu langsung ke luar dari ruangan. Davin melonggarkan dasinya kesal. Ini seperti penghinaan untuk dirinya.


Tita hanya diam saja, namun diamnya Tita pasti akan menggemparkan satu perusahaan. Ini akan menjadi gosip hangat di kantor.


Sementara itu, Alan tertawa puas karena lelaki itu bisa menebak bagaimana perasaan Davin sekarang.


"Aku yakin jika Davin pasti sangat bimbang. Satu sisi kau adalah mantan istri yang pernah di hina dan di rendahkan. Satu sisi aku sudah memberi penawaran yang sangat besar," tutur Alan.


"Sejujurnya, aku sudah malas untuk bertemu mereka. Kau suka sekali memaksa!" gerutu Linda geram pada suaminya.


"Sayang, kau akan semakin bersemangat jika melihat para penjilat memuji mu nanti," kata Alan membuat Linda berpikir jika ada benarnya juga ucapan suaminya ini.

__ADS_1


__ADS_2