
Hari ke hari telah berganti, tak terasa kini usia kandungan Linda sudah memasuki bulan ketujuh. Sejak hari itu, tidak ada lagi yang mengusik kehidupan Linda maupun Alan. Semuanya terlihat normal bahkan sudah lama Davin tidak muncul di hadapan mereka.
Alan juga sudah mengurangi aktifitas pekerjaannya dan lebih memilih menemani istrinya di rumah. Sejak memasuki trisemester kehamilan Linda sedikit membuatnya drop.
Hampir setiap pagi Linda mengalami morning sickness yang baru sekarang dia rasakan. Tentu saja hal tersebut membuat Alan khawatir apa lagi istri akhir-akhir ini jarang makan nasi.
"Ayo cepat makan sayang, kasihan anak kita. Apa kau mau tumbuhan kacang hijau kita menjadi layu?" bujuk Alan.
"Tidak, aku mual. Aku benar-benar mual!" tolak Linda.
"Aku tahu ini hanya akalan mu saja yang takut gemuk lagi,"
"Aku serius sayang. Aku hanya ingin makan buah saja!" ujar Linda.
"Tapi kau belum makan nasi sejak pagi dan siang!"
Linda menarik nafas dalam, sudah kepala pusing perut mual tapi sejak tadi suaminya begitu cerewet.
"Kenapa tidak kau saja yang hamil, biar kau tahu bagaimana sakit dan susahnya?" Linda terlihat marah. Wajahnya mendadak tidak bersahabat.
"Ya, seharusnya aku saja biar kau tidak merasakan sakit!" sahut Alan dengan beraninya semakin memancing emosi Linda.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, aku mual dan pusing. Aku hanya ingin makan buah tapi kenapa kau tetap memaksa, kenapa kau tidak mengerti juga?"
Linda naik ke atas tempat tidur, wanita itu menangis sejadinya hingga membuat Alan panik dan merasa bersalah.
"Sayang, aku minta maaf. Sudah jangan menangis lagi. Iya, aku tidak akan memaksa mu lagi," bujuk Alan namun tetap saja Linda tidak ingin melihat wajah suaminya.
"Aku ingin sendiri. Keluar sana!" usir Linda.
"Sayang, aku hanya ingin kacang hijau kita memiliki kualitas terbaik saja. Jangan marah lagi ya,"
"Kau selalu menyamakan anak ku dengan kacang hijau. Ayah macam apa kau hah, aku mengandungnya susah payah malah kau samakan dengan kacang hijau. Apa karena aku pernah subur dulunya?"
Linda mulai tersinggung, padahal ini hanya candaan yang biasa di lontarkan Alan.
"Kau jahat!" ucap Linda sambil mengusap air matanya kasar.
"Iya, aku jahat. Suami mu ini jahat. Cup...cup...jangan menangis lagi. Besok pagi kita akan menjemput Melan," bujuk Alan.
"Melan akan pulang?" tanya Linda langsung menghentikan tangisnya.
"Iya sayang, bajingan kecil itu akan pulang besok," jawab Alan langsung mendapatkan cubitan di dada Alan.
__ADS_1
"Aku akan mengadukannya pada Melan. Lihat saja, kau ini kakak yang jahat," ucap Linda geram.
Sejak memasuki usia kandungan tujuh bulan, Linda lebih gampang marah dan menangis juga tersinggung. Di waktu seperti ini kesabaran Alan benar-benar di uji oleh istrinya sendiri.
Begitu juga dengan hubungan Julia dan Gian yang semakin dekat bahkan pasangan ini hobby sekali putus nyambung seperti layangan.
"Putus lagi?" tanya Alan sambil menuang air putih ke dalam gelas.
"Lama ingin ku nikahi juga perempuan di seluruh dunia ini," ucap Gian yang benar-benar kesal.
"Linda lebih parah lagi, aku baru selesai membujuknya," sahut Alan.
"Perempuan sama saja. Mau menang sendiri," kata Gian yang sangat geram.
"Jika tidak begitu, bukan perempuan namanya. Mau benar atau salah, perempuan tetap benar. Memangnya, apa masalah mu?" tanya Alan penasaran juga.
"Aku ingin makan udang, Julia ingin makan kepiting. Kau tahu sendiri kan makan kepiting itu ribet dan memakan banyak waktu?"
"Tentu saja kau yang salah, kau sendiri tidak bisa di ajak romantis. Jika aku jadi Julia, aku akan meminta hal yang lebih rumit lagi," ujar Alan kemudian berlalu pergi.
"Heh, mau kemana kau?" tanya Gian.
__ADS_1
"Pulanglah, aku masih sibuk membujuk ratu ku!" usir Alan semakin membuat Gian kesal. Pada akhirnya lelaki itu pergi dari rumah Alan.