
"Ada apa pah?" tanya Diana penasaran.
"Papah juga tidak mah, tapi pihak kepolisian meminta kita untuk datang ke rumah sakit,"
"Kenapa tiba-tiba firasat mamah jadi gak enak gini ya pah?" Diana mengusap dadanya.
"Sebaiknya kita pergi sekarang pah, mah!" ujar Davin bergegas mengambil kunci mobil.
Mereka bertiga pun pada akhirnya memutuskan pergi kerumah sakit setelah mendapat telpon dari pihak kepolisian. Terlihat sekali wajah khawatir dan juga panik dari Diana meskipun mereka tidak tahu ada masalah apa.
Setibanya di rumah sakit, pihak polisi memberitahu jika Vina mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan cara menenggak cairan pembersih lantai.
Diana syok, wanita ini terkulai lemas di lantai ketika melihat anak perempuannya terbaring lemas dengan satu tangan yang di borgol.
"Vina,...kenapa kamu melakukan ini nak?" Diana menangis memeluk anaknya.
"Kenapa ini bisa terjadi pada adik saya pak?" tanya Davin tidak habis pikir.
"Stres menyebabkan adik anda nekat melakukan ini semua,"
"Maaf pak polisi, dengan keadaan anak saya yang seperti ini apakah anak saya bisa di pertimbangkan untuk bebas?" tanya Robby berharap anaknya bisa bebas.
"Jika kami membebaskan anak bapak, akan ada banyak napi yang melakukan tindakan sama demi sebuah kebebasan!" tegas pihak kepolisian.
"Apa ada cara lain agar adik saya bisa bebas?"
__ADS_1
"Kalian bisa bicarakan dengan penuntut. Saya tinggal dulu!" ujar polisi tersebut kemudian pergi.
Davin menghampiri mamah yang sedang menangis sambil memeluk Vina yang masih belum sadarkan diri.
"Linda harus membalas semua ini. Davin, adik mu hampir mata gegara perempuan kampung, bodoh dan ufik itu,"
"Mah, sudahlah jangan emosi. Ini sudah resikonya, jika Vina tidak melakukan kejahatan, semuanya pasti akan baik-baik saja!" ucap Robby malah mendapatkan sentakan dari istrinya.
"Vina anak kita pah. Jika Vina meninggal bagaimana?"
"Justru dari hal seperti ini Vina harus belajar lagi bagaimana caranya menghargai orang lain."
"Davin akan bicara pada Alan dan Linda. Mereka harus bertanggung jawab!"
Davin memutuskan untuk pergi, mana mungkin pria ini membiarkan adik satu-satunya merasakan kesakitan seperti ini.
"Aku datang ke sini hanya ingin meminta pada kalian untuk mencabut tuntutan pada adik ku!" tanpa basa basi lagi Davin mengutarakan permintaannya.
"Atas dasar apa kau meminta?" tanya Alan.
"Adik ku hampir mati gegara di penjara. Jadi, tolong cabut tuntutan kalian!"
"Hampir mati bukan? belum mati kan?" tanya Alan, "Itu sudah resikonya, adik mu berani berbuat jadi jadi dia harus berani bertanggung jawab!"
"Kalian benar-benar tidak punya hati. Hanya bisa menindas orang yang tak berdaya!"
__ADS_1
"Tidak berdaya kata mu? lalu bagaimana di saat aku memohon pada papah mu untuk meminjamkan sedikit uang untuk biaya operasi payah ku?" tanya Linda membungkam mulut Davin, "Papah mu bilang belum cair, semua uang terpakai bahkan uang tabungan kalian tidak ada. Adik mu hanya hampir mati, belum mati menyusul ayah ku!"
Kata-kata Linda kali ini membuat Alan maupun Davin terkejut.
"Aku di hina, di cemooh dan di rendahkan adik mu bahkan di fitnah hampir setiap hari.bukan aku tidak ingin melawan, hanya saja aku malas dengan keributan. Davin, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencabut tuntutan ku. Biarkan ini semua menjadi pengajaran untuk Vina!"
"Kau sedang hamil Linda, di mana letak hati mu?" tanya Davin tdiak terima.
"Jangan bertanya di mana letak hati ku, coba kau tanyakan pada dirimu sendiri di mana letak hati mu dan keluarga mu dulu?"
Davin terdiam, menatap sorot tajam penuh kebencian di hadapannya.
"Masalah kau ingin merebut Linda dari ku, mari kita bicarakan secara langsung!" ucap Alan.
"Kau bukan siapa-siapa Alan. Ayah Linda sudah menitipkan dia pada ku. Bukan pada mu!" sahut Davin.
"Linda bukan barang, dia berhak menentukan dengan siapa dia lebih pantas untuk menjalankan kehidupan ini,"
"Tapi tetap saja dia amanah bagi ku!" Davin bersikeras.
"Kau ini lucu Davin, di mana rasa malu mu? kenapa kau sekarang malah berbalik sangat menginginkan ku?" Linda tertawa garing.
"Kau adalah satu-satunya laki-laki yang paling lucu di dunia ini Davin. Kau menikahi Linda hanya empat puluh hari, tidak memberinya makan bahkan kau dan keluarga mu menyiksa batin Linda. Tapi kenapa kau sekarang mendadak terik pada istri ku?"
Davin tidak bisa menjawab, pada akhirnya lelaki yang sudah tidak memiliki rasa malu itu pergi tanpa pamit. Linda tertawa, bukan menertawakan kesedihan melainkan menertawakan kebodohan mantan suaminya.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Mari kita istirahat!"