Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
83.Bebaskan Aku!


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu, sejak hari di mana Alan menemui keluarga Davin, tidak ada satu dari mereka mengusik Linda lagi. Sejauh ini pun Linda juga sudah bisa melupakan tentang Davin yang beberapa waktu lalu pernah mengusiknya.


Usia kandungan Linda juga semakin membesar dan tinggal menunggu waktu saja untuk melahirkan.


"Dasar miskin, kak Linda kan punya Dokter sendiri. Kenapa harus Gibran yang selalu memantau kondisi kak Linda?" tanya Melan.


"Kalau ada yang gratis, kenapa harus yang berbayar?" tanya Alan balik.


"Sudah, diam saja. Ini juga tugas ku!" ucap Gibran pada Melan.


"Kau ini lama-lama semakin menurut dengan kak Alan. Apa kau takut?" tanya Melan kesal.


Gibran melirik Alan, mana berani pria ini menjawab pertanyaan Melan.


"Aku akan segara menyiapkan ruangan khusus untuk kak Linda agar lebih nyaman dalam melahirkan nanti," ujar Gibran.


"Em,rumah sakit itu milik keluarga ku jadi tolong berikan pelayanan terbaik untuk calon kakak ipar mu ini," sahut Alan sedangkan Gibran hanya tertawa garing.


Alan mengajak istrinya pergi ke kamar, kaki Linda yang sedikit bengkak membuat Alan langsung menggendong istrinya.

__ADS_1


"Perut mu seperti bola, apa ini sangat berat?" tanya Alan sambil menurunkan istrinya ke atas tempat tidur.


"Menurut mu, apa aku berat ketika kau menggendong ku tadi?" tanya Linda balik.


"Tidak, tidak berat sama sekali. Cuma lelah saja!" jawab Alan langsung mendapatkan cubitan di perutnya.


"Lelaki mana tahu sakitnya orang hamil. Bisanya cuma banyak bicara saja!" ucap Linda yang gregetan.


"Sayang daddy, lihat mommy mu ini. Jahat!" Alan mengadu pada perut buncit istrinya.


"Dasar tukang mengadu!" seru Linda.


"Jika anak kita sudah lahir, jangan lupa untuk membuat adik untuknya. Biar rumah ini ramai," ujar Alan membuat Linda langsung menelan ludah kasar.


"Maaf sayang, pertanyaan mu ini seharusnya kau tanyakan pada Tuhan. Bukan pada ku!"


"Heh, aku hanya bercanda. Makanya, lelaki jangan tahu enaknya saja!"


Alan tertawa, lelaki ini senang sekali mengusap perut istrinya apa lagi ketika perut Linda bergerak, Alan mendadak betah berada di atss

__ADS_1


tempat tidur hanya untuk mengajak anaknya mengobrol.


berbeda dengan Julia dan Gian yang akhir-akhir ini sibuk menggantikan pekerjaan Alan yang sangat banyak. Mereka juga sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan di langsungkan akhir bulan depan.


Sementara itu, Vina yang sudah sehat kembali menjalani masa tahanannya. Masih tetap sama, Vina masih suka mengeluh dan menangis karena tidak betah berada di dalam penjara.


Airin yang sudah pusing dan gregetan pada akhirnya menjambak rambut Vina bahkan kedua perempuan itu saling beradu fisik.


"Diam kau, aku pusing mendengar mu menangis terus!" Airin terus menjambak dan menarik rambut Vina. Tidak hanya itu, Airin juga memukuli Vina.


"Lepaskan aku!" teriak Vina.


"Kenapa kau mati juga hah?"


Tak berapa lama beberapa orang sipir membuka sel lalu melerai mereka berdua.


"Tolong jauhkan perempuan gila ini dari ku pak. biarkan aku berada di sel seorang diri," Airin memohon.


"Tenang, apa kalian ingin hukuman ini di tambah?" bentak Sipir.

__ADS_1


"Bebaskan aku!"


Sipir membawa Vina ke sel yang beda, Airin langsung menghembuskan nafas lega. Berbeda dengan Vina, di sini Airin yang ternyata hanya di penjara dua tahun saja. Sedangkan Vina harus di hukum selama lima tahun karena gadis ini terbukti bersalah dan memiliki lebih banyak bukti kejahatan di banding Airin.


__ADS_2