
"Sayang, istriku, kau kenapa?" tanya Alan panik.
"Aku tidak tahu, kepala ku pusing perut ku mual tapi tidak ingin muntah," jawab Linda dengan wajah pucatnya.
"Kau terlalu lelah sayang. Sudah ku bilang jangan pikirkan masalah ini," kata Alan sambil mencari minyak angin.
"Tidak, aku tidak memikirkannya. Aku sudah tidak menginginkan perusahaan itu. Aku hanya ingin melihat mereka hancur sama seperti ku dulu," ujar Linda lalu menyandarkan kepalanya di dada bilang suaminya, "Biarkan aku seperti ini, sebentar saja!" lirih Linda.
"Em, selagi itu membuat mu nyaman dan tenang. Kau boleh bersandar selama yang kamu," ujar Alan sambil mengusap pipi istrinya.
Cukup lama Linda bersandar di dada suaminya, rasa pusing dan mual sudah hilang. Wanita tersebut mulai merasa nyaman dan tenang.
"Aku akan mandi, kita berangkat bersama ya," kata Linda langsung di tolak suaminya.
"Aku tidak mengizinkan mu bekerja hari ini. Kau istirahat di rumah saja!"
"Sayang, aku tidak mau. Itu akan membosankan!" rengek Linda.
Segala macam rayuan di keluarkan Linda pada suaminya yang pada akhirnya Alan mengalah. Sudah rapi dan sudah sarapan, Alan dan Linda berangkat bersama-sama ke kantor.
Baru saja keluar dari mobil, Linda sudah melihat Airin yang sedang berdiri menunggu Alan.
"Alan,.....!" panggil Airin dengan menampakan wajah sedihnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Alan tidak suka.
"Aku butuh pekerjaan, Davin sudah memecat ku." Airin meminta pekerjaan pada Alan.
"Maaf Airin, perusahaan sudah penuh," ucap Alan membuat Airin langsung menarik tangan Alan.
__ADS_1
Dengan cepat Linda mendorong Airin agar menjauh dari suaminya, "Alan suami ku. Kau tidak berhak menyentuhnya!" ucap Linda tidak suka.
"Dia teman ku, aku berhak atas Alan!" sahut Airin yang tidak mau kalah.
Alan tertawa, lalu di ikuti oleh tawa Julia dan Gian yang baru datang.
"Seharusnya kau berlutut dan meminta maaf pada Linda," ujar Julia.
"Buat apa aku minta maaf sama dia? Aku tidak memiliki salah apa pun!" sahut Airin menunjukan ketidaksukaannya pada Linda.
"Kau dan adik Davin bekerja sama untuk mempermalukan istri ku di media sosial. Apa kau masih mengelak jika kau tidak memiliki salah?" tanya Alan dengan wajah dinginnya, "Sudah berapa kali aku memperingati mu untuk tidak mengusik aku dan Linda. Tapi, kau selalu saja mengusik."
"Aku tidak suka dengan perempuan ini, dia hanya si buruk rupa yang memiliki topeng. Lagian dia hanya seorang janda, suaminya saja membuangnya lalu kenapa kau malah memungutnya?" suara Airin terdengar nyaring hingga membuat para karyawan Alan berkumpul.
Plaaaak,....
Tiba-tiba saja Linda menampar wajah Airin. Linda menatap tajam ke arah Airin.
Lirikan mata Alan memberi kode pada Gian. Tentu saja Gian mengerti apa yang harus di lakukannya.
"Istri ku jauh lebih baik dan berharga dari pada kau perempuan ****** yang hanya suka menggerogoti laki-laki kaya seperti lintah!" ucap Alan dengan kata-kata tajamnya, "Amankan dia sampai polisi datang!" titah Alan pada dua security nya.
"Heh, apa-apaan ini. Alan, bajingan kau!" umpat Airin tidak terima ketika tangannya di pegang dua security.
"Kau sudah mencemarkan nama baik istri ku. Jadi, kau harus menerima akibatnya!" ujar Alan lalu mengajak Linda masuk.
"Jangan lupa bawa minyak angin dan koin. Buat kerokan jika kau masuk angin bang nanti," ejek Julia sambil tertawa di depan wajah Airin.
Airin terus berontak, berteriak namun nyatanya Airin tidak bisa membebaskan diri karena polisi sudah terlanjur tiba di kantor Alan.
__ADS_1
Sementara itu, di kediaman Robby. Vina menangis dan memohon agar polisi tidak membawanya pergi. Diana terus menggenggam tangan anak kesayangannya agar Vina tidak di bawa polisi.
Begitu juga dengan Robby dan Davin, mereka mencoba bernego dengan polisi. Namun, polisi tersebut kekeh untuk menangkap Vina.
Robby menarik istrinya dan membiarkan Vina di bawa polisi. Davin tidak terima, laki-laki ini kemudian pergi untuk menemui Linda karena Davin yakin jika mantan istrinya itu lah yang sudah melaporkan adiknya.
Alan dan Linda menyambut kedatangan Davin dengan wajah dingin. Rasanya muak sekali melihat wajah Davin yang sekarang.
"Jika kau datang hanya untuk meminta, sebaiknya kau pergi. Keluarga mu berhutang banyak pada istri ku!" suara Alan terdengar tidak bersahabat.
"Kau sudah di hasut dengan perempuan licik ini. Lihatlah, keluarga ku hancur gara-gara dia," kata Davin malah membuat Alan dan Linda tertawa.
"Dia yang menyakiti tapi dia yang merasa paling tersakiti," celetuk Julia.
"Sesekali aku harus ambil tindakan Davin. Kau, keluarga mu, dan semua karyawan mu sudah terlalu banyak menyakiti hati ku," ujar Linda yang sangat geram.
"Ada hak yang harus kalian kembalikan pada Linda," timpal Alan.
"Aku datang ke sini untuk meminta pada Linda untuk mencabut tuntutan pada adik ku. Bukan untuk membahas perubahan!" kata Davin yang masih mencoba menahan emosinya.
"Maaf Davin, aku tidak bisa. Adik mu pantas di beri pelajaran!" tolak Linda.
"Dasar perempuan tidak tahu diri...!" umpat Davin dengan nada tinggi langsung membuat Alan bangkit dari duduknya dan memukul wajah Davin.
"Sekali lagi kau menghina istri ku, akan pastikan kau dan semua keluarga mu musnah!" ancam Alan dengan mencengkram kemeja Davin.
"Kau sudah di guna-guna dengan Linda. Perempuan itu busuk hatinya, kau lihat saja. Sebentar lagi kau juga pasti akan membuangnya sama seperti aku membuangnya dulu," Davin terus menghina Linda.
Sekali lagi Alan membogem mentah wajah Davin. Sedangkan Linda tidak berniat untuk melerai mereka termasuk Julia dan Gian.
__ADS_1
"Aku mencintai dan menyayangi Linda tulus dari hati ku. Sampai kapan pun Linda akan tetap menjadi istri ku, ibu dari anak-anak ku!" ucap Alan dengan tegasnya. Linda merasa terharu mendengar ucapan suaminya.
Alan berdiri, membawa istrinya pergi agar Linda tidak semakin di hina oleh Davin yang sebenarnya cemburu melihat Linda.