Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
72.Tentu Saja


__ADS_3

Alan melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya. Alan datang bersama dua orang anak buahnya yang selalu memakai pakaian serba hitam.


"Bajingan, lepaskan aku!" Helen mengumpat pada Alan.


"Kau sangat menginginkan istri ku celaka. Jadi, aku akan mengembalikannya pada mu!" suara berat Alan terdengar mengerikan di telinga Helen.


"Linda harus sama hancurnya seperti kami. Lepaskan aku!"


Alan melirik dua orang pria yang sudah membawa Helen atas perintahnya.


"Tugas kalian sudah selesai. Kalian boleh pergi dan jangan nampak wajah kalian jika masih ingin hidup!" ancam Alan membuat kedua pria tersebut ketakutan.


"B-baik tuan!" jawab mereka dengan nada ketakutan.


Kedua pria tersebut pergi, tinggallah Helen yang sibuk berteriak dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Dasar pengkhianat! kembali kalian berdua!" Helen terus berteriak.


"Lakban mulutnya!" titah Alan semakin membuat Helen panik.


"Baik tuan!"


Helen berontak, namun apa daya wanita ini tidak bisa melepaskan diri.

__ADS_1


"Kau sangat menginginkan istri ku celaka bahkan keguguran. Bagaimana jika aku membuat mu tidak bisa memiliki keturunan?"


Mata Helen seketika melotot, wanita ini mencoba melepaskan ikatan namun tidak bisa.


"Istri ku memang bodoh karena tidak mau membalas orang-orang yang sudah menyakitinya. Tapi, aku suaminya yang akan membalaskannya," ujar Alan, "Biarkan dia bicara!"


Anak buah Alan kembali membuka lakban yang menutup mulut Helen.


"Bajingan, ternyata kau jauh lebih licik. Sialan kau Alan!" umpat Helen.


"Bagaimana, apa kau tertarik?" tanya Alan, "Oh, seharusnya kau dan mantan ibu mertua mu itu harus mendapatkan hukuman yang sama karena selalu mendoakan istri ku yang bukan-bukan."


"Buka mata mu Alan, kau sudah di bodohi oleh Linda!" ucap Helen dengan beraninya.


"Cuuuiiiih,..." Helen meludah, "Linda adalah mantan istri dari mantan suami ku. Apa kau tidak jijik menikah dengan seorang janda jelek seperti itu?"


Plaaaaak,.....


Tiba-tiba Alan menampar wajah Helen, laki-laki ini tidak terima jika istrinya di rendahkan seperti ini.


"Aku sebenarnya bukan tipe laki-laki yang suka bertindak keras dengan seorang wanita. Tapi, mulut kau ini halal untuk di hantam oleh tangan ku!" ujar Alan.


Terlihat sekali Helen menahan sakit di wajahnya apa lagi sudut bibir wanita itu mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Bajingan! kau hanya berani dengan perempuan saja!"


"Kacaukan hidupnya, buat dia tidak bisa memiliki keturunan!" titah Alan pada anak buahnya.


"Baik tuan!"


"Bebaskan aku Alan. Brengsek lepaskan aku!" Helen berontak, apa lagi ketika melihat salah seorang dari mereka mengeluarkan suntikan yang tertuju padanya.


Anak buah Alan langsung menyuntikkan obat bius dengan dosis yang sangat tinggi. Alan tersebut puas ketika melihat Helen yang perlahan tidak sadarkan diri.


"Lakukan pekerjaan kalian dengan rapi...!" ujar Alan kemudian pergi begitu saja.


Alan kembali mengenakan kacamatanya. Masuk ke dalam mobil dengan rasa puas. Alan melirik jam yang melingkar di tangannya. Jika jam segini Alan tahu di mana sang istri berada.


Sementara itu, Robby yang merasa berat ketika hendak menandatangani surat perjanjian jual beli bersama Gian. Bukannya apa, perusahaan ini milik keluarga yang dia bangun bersama almarhum papahnya dulu.


"Sudah dil pak Robby. Anda tidak ada hubungannya lagi dengan perusahaan ini," ujar Gian.


"Saya mau bertanya, apa Alan akan mengganti nama dari perusahaan ini?" Robby masih tidak rela.


"Tentu saja, perusahaan ini akan di gabungkan dengan milik perusahaan milik Linda yang beberapa waktu lalu sengaja di bangun tuan Alan untuk istrinya!" jelas Gian.


Davin yang ada di sana tidak bisa berkata, dulu keluarganya lah yang sudah menginjak harga diri Linda namun sekarang malah sebaliknya. Bahkan, Linda jauh berada di atas dirinya.

__ADS_1


__ADS_2