Janda Kesayangan Tuan Alan

Janda Kesayangan Tuan Alan
88.Bajingan Kecil


__ADS_3

Mau tidak mau, tega tidak tega Davin dan mamahnya terpaksa memberitahu Vina jika papah mereka sudah meninggal. Vina histeris, gadis ini syok berat bahkan beberapa kali tidak sadarkan diri.


Kondisi Vina yang masih lemah membuatnya semakin drop. Diana menangis sambil memeluk anaknya, apa lagi keadaan sekarang Vina masih harus melanjutkan masa hukumannya.


"Aku bisa saja membebaskan adik mu asal dengan satu syarat!" tiba-tiba Alan berdiri belakang mereka.


"Katakan, apa yang harus kami lakukan?" tanya Diana yang sangat menginginkan anaknya bebas.


"Gampang saja, aku hanya ingin kau beserta kedua anak mu yang tidak tahu diri ini pergi ke luar negeri. Tempat di mana hanya aku yang tahu di mana kalian berada!" tutur Alan.


"Berhenti menyakiti keluarga ku tuan Alan," mohon Davin sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Aku tidak akan pernah menyakiti keluarga mu jika kalian sendiri tidak mengganggu istri ku. Baiklah, aku pergi dulu. Anak buah ku akan mengatur untuk kalian!" ujar Alan lalu keluar dari ruangan rawat Vina.


"Sudahlah Davin, yang penting Vina bebas. Mamah tidak ingin mati di tangan Alan hanya karena Linda," ucap Diana.


Alan tersenyum di balik pintu ketika mendengar ucapan Diana. Laki-laki ini kemudian memutuskan untuk pulang. Alan sedikit merasa lega karena benalu dalam hidup istrinya akan segera pergi.


Setibanya di rumah, tidak lupa Alan mencuci kaki dan tangan sebelum bertemu dengan anak istrinya.


"Dari mana saja, kenapa pergi tidak bilang bilang?" tanya Linda dengan wajah cemberutnya.


"Hayooo.....!" Melan mengompori kakaknya.


"Ada pekerjaan mendadak sayang. Jangan marahlah, ini semua demi kebahagiaan kita,"

__ADS_1


"Alasan saja. Menyebalkan!"


"Hayoo, kak Linda marah loh!" ujar Melan langsung di seret Alan keluar dari kamarnya.


"Dasar kompor!" umpat Alan.


"Awas saja nanti," Melan menghentakkan kakinya.


Alan kembali masuk ke dalam kamar, mengambil alih anaknya agar sang istri bisa beristirahat. Sampai detik ini, Linda belum tahu jika mantan mertuanya itu sudah meninggal.


"Sebenarnya kau dari mana?" tanya Linda sekali lagi.


"Pergi ke pemakaman mantan mertuamu!" jawab Alan dengan jujur.


Tentu saja Linda terkejut, "Mantan mertua yang mana?" tanya Linda penasaran.


Linda mengusap dadanya tak percaya, "Sayang, apa kau serius?"


"Aku serius. Sudahlah, jangan di pikirkan lagi."


"Hanya terkejut saja!" ujar Linda.


"Hansel sayang, apa kau nakal tadi?" Alan mengajak anaknya mengobrol.


"Apa kau tidak lihat jika dia sedang tidur?"

__ADS_1


"Aku mengajarkannya fokus dalam tidur. Jadi, dia bisa menjawab pertanyaan ku nanti," ujar Alan membuat Linda tertawa.


"Sayang, kau ini terlalu lucu. Semoga saja anak mu tidak memiliki mimpi buruk dalam tidurnya sekarang!"


"Sayang, mumpung Hansel tidur mari kita mandi bersama. Sudah berapa hari kau mengabaikan ku!" ajak Alan langsung di tolak oleh Linda, "Kenapa?" tanya Alan kecewa.


"Lelaki memang tahu enaknya saja. Selama satu bulan lebih kita tidak bisa bercocok tanam," jawab Linda membuat suaminya bingung.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Alan tidak mengerti.


"Coba bukan ponsel mu, tanya kenapa orang setelah melahirkan tidak bisa berhubungan suami istri...!"


Buru-buru Alan membuka ponselnya lalu mengotak atiknya. Alan sangat serius ketika membaca, laki-laki ini tiba-tiba saja berguling di lantai seperti anak kecil.


"Satu bulan lebih, ini sangat menyiksa ku!" keluh Alan.


"Jadi kau maunya bagaimana?" tanya Linda.


"Bajingan kecil ini sudah merebut segalanya dari ku. Aku tidak terima!"


"Dia anak mu, bukankah kau sendiri yang membuatnya?"


"Aku kan hanya ingin membuatnya, tapi kenapa dia malah merebut semuanya?"


"Terserah kau saja!" Seru Linda yang sudah pusing dengan sikap suaminya.

__ADS_1


"Awas saja kau Hansel. Akan ku coret dari daftar ahli waris!" Alan mengancam anaknya. Linda yang geram langsung melempar bantal ke arah suaminya.


__ADS_2